Alpinloch: Another World Episode 12



Inside the Kingdom Palace and School of Knight and Magic I

“Apa mau kalian?” jerit Yael menghadang ketiga penyusup tersebut.
Mark kembali mengingat bagaimana seragam yang siswa School of Knight and Magic di kerajaan Haven kenakan berdasarkan deskripsi di novel. Pakaian serba merah yang mayoritas terbuat dari kain untuk murid penyihir dan pakaian kain menyerupai armor berwarna coklat dengan rompi biru untuk murid ksatria.
“Putri Anna dari kerajaan Alpinloch!” ulang seorang pria berseragam coklat yang berada di hadapan mereka sambil mengacungkan pedang. “Apa maumu? Membuat seluruh dunia lebih menderita!”
Yael membentak kembali, “Jawab dulu pertanyaanku!”
“Dengar, kami—” Mark berbicara.
Pria rambut hitam pendek itu memotong, “Tidak ingin ada masalah? Dia sudah membuat masalah! Kerajaan Alpinloch! Kerajaan Alpinloch yang sudah membuat masalah sejak kematian raja Thais!”
“Cooper, apakah kami harus pergi sekarang?” tanya seorang gadis rambut coklat dengan motif kuning penyihir yang mengepung dari belakang sambil gemetar.
“Tidak!” jerit Cooper geram. “Ini kesempatan kita untuk menghentikan putri dari kerajaan terlaknat itu! Kerajaan yang ingin menguasai dunia!”
Penyihir lelaki rambut hitam berbicara pada gadis penyihir yang berada di sampingnya, “Sudah kubilang, G, Cooper memang sulit dikendalikan.”
“Diamlah, Griffin,” balas gadis itu. “Kamu sendiri melihat bagaimana pengawal cantik itu menghentikan dia.”
Jason membalas berbicara pada Cooper, “Dengar, seperti katamu, kami tidak ingin masalah. Kami hanya ingin mengantar Anna menuju kerajaan Haven demi bantuan. Begitu juga dengan Yael yang ingin membantu pamannya di Sedona.”
Cooper menajamkan mata pada Anna seperti mendekatkan pisau. Wajahnya juga seperti terbakar dengan emosi, tidak mampu menahan nafsu dan emosi terpendam di benaknya.
“Begitu saja? Itu alasan kalian kemari?” Cooper masih tidak menerima jawaban dari Jason. “Dia putri dari kerajaan yang terlaknat. Gara-gara Raja Lucius, seluruh dunia tengah menderita, benar-benar menderita!”
“Sialan!” ucap Yael mulai menggenggam erat tombaknya.
“Kalian berempat, yang mengantarkan Anna kemari, aku yakin si jalang ini adalah boneka raja Lucius agar kerajaan Alpinloch dengan mudah menguasai seluruh dunia! Kalian langsung percaya dengan tingkah laku palsu si putri manja ini. Dia memanfaatkan kalian agar raja Lucius dapat menguasai dunia dengan mudah!”
“Bisakah kamu lebih sopan berkata pada seorang wanita!” balas Yael. “Dia putri kerajaan Alpinloch!”
Cooper membalas dengan kasar, “Tentu tidak! Dia boneka yang dikirim raja Lucius untuk mempengaruhi pangeran kerajaan Haven! Agar pangeran bisa menyerahkan kekuasaannya pada kerajaan terlaknat itu! Buat apa raja Lucius mengirim si jalang itu hanya untuk menyerang kerajaan Haven secara sembunyi-sembunyi!
“Dia diam-diam bermuka dua mempertahankan aktingnya yang tidak bersalah itu! Pembohong! Dia berbohong pada kalian dengan meminta bantuan pangeran kerajaan Haven! Putri pembohong seperti si jalang bermuka boneka seperti dia tidak pantas untuk mempertahankan gelarnya!”
Mark tidak dapat menerima ucapan Cooper yang tidak sopan terhadap Anna, seorang putri dari kerajaan Alpinloch. Benaknya kini seperti mendidih menunggu untuk meledak. Dia ambil pedang yang tersimpan di punggungnya dengan menggenggam erat-erat.
Ucapan Cooper juga menjadi pedang bermata dua bagi Mark. Ucapannya terhadap Anna yang tajam juga menusuk hati Mark di saat yang sama. Seingat Mark, Anna bukanlah seorang penipu atau putri manja berdasarkan jalan cerita Alpinloch Kingdom.
“Mark?” Justice menatap raut wajah Mark mengerut.
“Kamu … Cooper, bukan?” Jason mengucapkan nama pria yang berdiri di hadapan mereka. “Seperti yang kamu dengar, kami butuh bantuan. Putri Anna dari kerajaan Alpinloch sedang kesulitan. Aku tahu Putri Anna, aku kenal dia. Dia melarikan diri dari kerajaan.”
“Terus apa?” balas Cooper. “Aku harus percaya dengan kebohongan kalian?”
“Dengarkan dia dulu sampai selesai!” jerit Yael.
“Cih, makanya aku tidak suka berurusan dengan dia,” ucap G pada Griffin.
Cooper menolak, “Apa buktinya kalau putri jalang ini melarikan diri dari kerajaan terlaknat itu? Tidak ada, kan?”
“Ada!” jawab Mark secara spontan.
Perasaan Anna bagaikan terpecah berkeping-keping ketika mendengar tuduhan pedas Cooper. Dia berpikir dia tidak mungkin mengandalkan Mark dan yang lain untuk menguasai kerajaan Haven demi perintah Raja Lucius, melainkan untuk menyelamatkan kerajaan Alpinloch.
Tangan kanan Mark yang menggenggam pedangnya juga seraya terulur membela Anna dan teman-temannya. Karena secara spontan menjawab penolakan Cooper pada Jason, Mark kini harus mengatakan dari awal.
“Dia benar,” Mark merujuk pada jawaban Jason. “Anna melarikan diri dari kerajaan Alpinloch, itu kenyataannya. Makanya, dia ingin merebut kerajaannya kembali dari tangan Raja Lucius dengan bantuan kami. Anna bukanlah putri yang haus akan kekuasaan. Aku yakin, Anna bukanlah putri yang manja sembarangan.”
“Pembohong!” tolak Cooper lagi. “Dia sudah memanipulasi kalian semua! Putri jalang itu membesar-besarkan kebohongannya pada kalian semua!”
“Mark …,” panggil Anna.
“Anna.” Justice menatap wajah Anna memucat setelah mendengar tuduhan Cooper.
“Jadi apa lagi yang kami bisa buktikan padamu?” bentak Yael pada Cooper.
Cooper membuang muka sejenak menolak kenyataan yang telah meluncur menuju kedua telinga. Dia menatap tajam kembali Anna seraya tidak ingin percaya apa yang baru saja dia dengar.
Mark membantah, “Anna tidak bohong! Kami tidak bohong! Kamu lihat sendiri wajah Anna sekarang seperti apa? Dia memang ingin menyelamatkan kerajaannya dari—”
“Pembohong!” jerit Cooper galak. “Kalian harus pergi dari sini, jangan pernah kembali untuk menemui pangeran kerajaan Haven! Kalau kalian tidak mau pergi juga, aku akan pakai cara kekerasan!”
“Cooper …,” ucap Griffin.
“G, Griffin, kenapa kalian diam saja! Cepat serang mereka! Serang orang-orang bodoh dan terlaknat di hadapan kalian sekarang juga! Cepat!” Cooper memberi perintah.
“Ba-baik!” ucap G.
“Sialan, aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini,” ucap Griffin.
“Sialan! Kalau begitu … Justice!” seru Jason pada Justice sambil mengambil panah dari quiver-nya dan berbalik menatap kedua penyihir lawan.
“Baik!” seru Justice menyiapkan sihir api dengan kedua genggaman.
“Yael, lindungi Anna! Aku hadapi orang brengsek itu,” perintah Mark.
“Sebelum kamu menyuruh, aku sudah tahu,” balas Yael.
“Api!” jerit Griffin menembak sihir bola api.
“Semburan angin!!” jerit G mengayunkan kedua tangan membuat serangan sihir angin untuk membantu sihir api Griffin.
Jason dan Justice bergeser menuju arah yang berlawanan demi menghindari kedua serangan sihir tersebut. Jason mendekatkan ekor panah menuju tali busur dan mengunci salah satu dari kedua penyihir sebagai target. Justice membalas serangan sihir mereka dengan ledakan api yang bermunculan di tanah dekat kedua lawan.
G dan Griffin melompat menghindari ledakan api di tanah hadapan mereka. Griffin dengan cepat menyemburkan sihir bola api ketika Jason menembak panah tepat mengarahnya. Panah itu dia bakar dengan semburan sihirnya demi melindungi diri.
Cooper menjerit berlari menggenggam pedang berhadapan dengan Mark. Mark yang tertegun terlambat menyadari Cooper akan menyerang lebih dulu menahan serangannya dengan mata pedangnya sendiri.
Cooper memanfaatkan energi luapan emosinya sebagai tenaga untuk mengayunkan pedang. Dia menjerit sambil memukulkan pedangnya pada mata pedang Mark.
Mark merasakan kekuatan Cooper benar-benar di luar dugaan. Baru kali ini sejak berada di dunia novel favoritnya dia benar-benar kewalahan menghadapi seorang ksatria seperti Cooper. Mengingat dia pernah menebas ksatria kerajaan Alpinloch dan para pemberontak Sedona, Mark belum pernah mendapat lawan sekuat Cooper.
Cooper, sebagai seorang murid School of Knight and Magic, ternyata tidak bisa Mark anggap remeh sama sekali. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Mark yang dia anggap salah satu dari boneka Putri Anna.
Peluh langsung membasahi wajah Mark ketika dia menghadapi gerakan tebasan pedang Cooper yang cepat. Baginya, ini bukan pertarungan kendo seperti yang dia bayangkan, ini benar-benar pertarungan adu kekuatan pedang sekuat-kuatnya.
Anna terdiam menyaksikan kedua pertarungan sekaligus. Jason tetap menembakkan panah yang pada akhirnya terbasmi oleh sihir G dan Griffin. Justice mengerahkan seluruh tenaga demi menembakkan sihir ledakan api. Mark kesulitan menahan tebasan pedang Cooper sekuat tenaga. Yael menggerakkan tangan kiri menuju hadapan Anna seraya melindunginya.
 Justice menatap ke belakang untuk memastikan Anna baik-baik saja. Namun, ketika menyaksikan Mark dan Cooper beradu pedang di belakangnya, sebuah memori yang tidak ingin dia ingat kembali terputar di dalam benaknya.
Sebuah memori kilas balik mendadak mengingatkan bagaimana Justice mengalami kesakitan ketika terkena sebuah tebasan pedang. Ingatan tentang tebasan pedang pemimpin pemberontak Sedona membuat tubuhnya gemetar. Serangan sihirnya harus rela terhenti akibat rasa takut berdasarkan memori itu.
“Justice!” jerit Jason memperingatkan serangan sihir bola api Griffin tepat mengarah pada Justice.
“Ah!” jerit Justice terlempar terjatuh ke tanah.
Jason yang teralihkan menatap Justice terjatuh tidak sempat memperhatikan serangan sihir angin G yang mengarah tepat padanya. Tanpa sempat mengambil panah dari quiver-nya, dia juga terlempar terjatuh ke tanah.
Yael yang masih bertugas melindungi Anna berbalik menatap Jason dan Justice terbaring sehabis terjatuh terkena serangan sihir. “Kenapa bisa begitu!”
“Mark …,” ucap Anna menyaksikan Mark bertarung dengan Cooper.
“Uh!” jerit Mark kehabisan tenaga untuk menahan serangan Cooper ketika kedua kaki sudah bermunduran di tanah.
Cooper kembali mengayunkan pedangnya untuk menyerang Mark bagaikan mengayunkan sebuah palu besar demi menghancurkannya. Kegeramannya tergambar pada wajah tidak puas ketika menghadapi lawannya itu.
“Berhenti!” suara seorang wanita terdengar.
Semuanya terhenti ketika mengalihkan perhatian kepada sumber suara dari sisi pepohonan. Suara langkah kuda ikut terdengar ketika sumber suara itu memunculkan diri dengan melangkah melewati pepohonan itu.
Cooper, G, dan Griffin terdiam ketika menatap seorang wanita yang merupakan sumber suara itu merupakan salah satu orang penting kerajaan Haven. Mark ikut tercengang hingga menurunkan pedang mengingat identitas wanita itu berdasarkan jalan cerita Alpinloch Kingdom.
Rambut pirang keemasan dengan wajah menawan tanpa kerutan memang wanita yang tidak asing bagi Cooper, G, dan Griffin. Mark tidak percaya bahwa wanita tersebut memiliki kecantikan di luar dugaan.
“Pe-pengawal Britt?” sapa Griffin kebingungan.
Griffin dan G terlebih dulu berlutut menatap kedatangan Britt yang telah menuruni tumpangan kudanya. Jason dan Justice bangkit menatap dengan melongo tidak tahu apa yang sedang terjadi, begitu juga Yael yang terdiam menatap wanita tersebut.
Cooper menggelengkan kepala seraya menolak untuk berlutut. Wajah tajam dan pedas masih saja terpasang, sama seperti ketika berhadapan dengan Mark. Dia harus menelan ketidakpuasan ketika pertarungan melawan Mark tiba-tiba terhenti berkat kedatangan Britt.
“Putri Anna dari kerajaan Alpinloch?” Britt bereaksi ketika dia menatap Anna.
Britt melangkah mendekati Anna untuk melihat lebih jauh. Dia memastikan apakah Anna yang dia temui merupakan putri dari kerajaan Alpinloch sungguhan. Rambut coklat sang putri dia perhatikan dengan saksama, begitu juga dengan wajah putih tanpa kerutan dan jerawat.
“Anda … Pengawal Britt?” ucap Anna.
“Pengawal Britt?” ulang Yael yang tetap berdiri di samping Anna.
Britt berbalik menghadapi G dan Griffin. “G, Griffin, berdirilah. Kalian, Cooper, apa yang kalian lakukan sampai-sampai harus menyerang putri Anna dan teman-temannya? Kalian telah memasuki hutan tanpa izin siapapun, nanti kita akan bicarakan konsekuensinya setelah tiba di asrama School of Knight and Magic.”
Cooper membalas dengan kasar, “Britt, putri Anna memang sengaja ingin—”
“Aku tidak butuh penjelasanmu, Cooper,” potong Britt menegaskan nada. “Kamu memang tidak sopan terhadap seorang wanita yang berderajat lebih tinggi daripada dirimu. Kamu memanggilku tanpa menambahkan pengawal.
“Kalian bertiga, kalian memang belum mendengar kabar yang baru saja kusampaikan pada kerajaan. Putri Anna sedang melarikan diri dari kerajaan Alpinloch. Dengan alasan itu, aku percaya Putri Anna memiliki tujuan mengapa dia sedang menuju kerajaan Haven.”
Anna mulai mengungkapkan alasannya, “Pengawal Britt, itu benar. Semua yang Anda katakan benar.”
“Putri Anna, apa yang kamu butuhkan?”
“Kami membutuhkan bantuan kerajaan Haven. Kudengar sedang ada pemberontakan kecil terhadap kerajaanku di sana. Dengan begitu, aku ingin meminta bantuan pada kalian untuk merebut kembali kerajaanku.”
Yael memotong, “Sebenarnya saya juga membutuhkan bantuan pangeran, Yang Mulia. Sedona juga sedang mengalami ancaman para pemberontak setelah dibumihanguskan oleh sebuah monster terlaknat. Oleh karena itu, atas nama walikota Sedona, paman saya, saya juga meminta bantuan pada pangeran.”
“Baiklah, aku mengerti kebutuhan kalian. Kalian bisa membicarakannya pada Pangeran Holland ketika kita tiba di istana kerajaan. Aku akan mengantar kalian menuju ke sana. G, Griffin, Cooper, ingat, kita harus berbicara tentang konsekuensinya begitu tiba kembali di asrama.”
“Ba-baik, Pengawal Britt,” ucap G dan Griffin menyaksikan Britt kembali menunggangi kudanya.
“Cih,” Cooper membuang muka ketika Britt terlebih dulu melangkah memimpin dengan mengunggangi kuda. Dia melangkah mengikuti Britt tanpa memedulikan siapa yang berada di belakangnya.
“Anna, ayo,” ajak Mark mengikuti Britt dan Cooper.
“Hai, maaf tentang yang tadi,” ucap Griffin meminta maaf pada Anna dan yang lain. “Cooper memang sembarangan menilai tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Kalau saja kami tahu kabar itu, kami akan langsung memberitahu Cooper dan semua ini takkan terjadi.”
Jason menjawab sambil kembali menggerakan kedua kaki mengikuti yang lain, “Tidak apa. Tidak perlu meminta maaf.”
“Apa yang kamu bilang itu salah? Mau itu dengar kabar atau tidak, Cooper takkan percaya dengan kabar itu,” bantah G. “Omong-omong, aku Genevieve.”
“Gene-Geneive?” ulang Justice seperti terjebak dalam lipatan lidah.
“Aku biasa dipanggil G.” G membuat nama panggilannya lebih mudah dan sederhana.
“Namaku Griffin. Sekali lagi, maafkan kami,” sapa Griffin. “Cooper sepertinya belum bisa menerima Putri Anna dari kerajaan Alpinloch.”
Ketika Cooper membalikkan pandangan terhadap Anna, matanya melotot menandakan api kemarahan belum terpadamkan sama sekali. Suara hentakan kedua kaki pada tanah sama sekali tidak berbohong, membantu memanaskan api di dalam benaknya.
Cooper membuang muka ketika memperhatikan Anna menyadari tatapannya. Tubuhnya kembali terbakar ketika teringat kembali wajah sang putri kerajaan Alpinloch. Dia sama sekali tak pernah menduga Britt akan kembali menasihatinya seperti anak kecil.
Api di dalam benak Cooper membuatnya benar-benar muak dan lelah. Masih saja tidak bisa menerima kabar dari Britt benar-benar sesuai kenyataan. Baginya, dia masih membutuhkan bukti nyata dan konkret, bukan hanya asal ucapan belaka.
Mark memperhatikan wajah Cooper bagaikan terbakar kemarahannya sendiri. Dia menggelengkan kepala ketika mengingat kembali bagaimana Cooper menyindir Anna sebagai seorang putri manja.
Mark benar-benar yakin Anna bukanlah seorang putri manja. Dia tidak perlu bukti lagi selain hanya mengandalkan ingatan jalan cerita novel Alpinloch Kingdom. Kelakuan Anna yang telah dia saksikan sejak awal masuk ke dunia novel tersebut membuatnya lebih meyakinkan.
***
Ketika bulan mulai meluncur menuju pusat langit hitam bertaburan bintang, sebuah benteng perbatasan wilayah kerajaan telah berada di depan mata. Lantai batu bata abu-abu turut menyambut sang pengunjung ketika memasuki benteng perbatasan tersebut.
Britt tetap mengunggangi kuda mengantar Mark dan yang lain memasuki daerah kota kerajaan Haven. Hentakan kuda Britt pada lantai batu bata menyambut keramaian kota pada malam hari.
Seluruh masyarakat yang berada di luar setiap bangunan ketika menyelesaikan aktivitasnya menunjuk Britt. Semuanya berbondong-bondong berlari menyaksikan sang pengawal itu hanya untuk berlutut.
Keheranan mulai tertanam pada benak Mark. Dia tidak menyangka bahwa masyarakat kerajaan Haven tentu wajib berlutut begitu melihat Britt melewati mereka. Dia kira masyarakat wajib berlutut ketika hanya menyaksikan Pangeran Holland berdasarkan salah satu adegan Alpinloch Kingdom di kerajaan Haven.
Langkah kedua kaki Jason terhenti ketika dia menyaksikan setiap sudut kota. Angin berembus dia rasakan seraya mengeringkan keringat di sekujup tubuh. Pot bunga menghiasi beberapa sudut kota membantu menyegarkan angin meski malam hari sedang menjaga kota.
Mark dan Anna menghentikan langkah ketika Jason menyaksikan beberapa pot bunga beragam menyegarkan seluruh pikiran. Justice dan Yael melakukan hal yang sama hanya untuk melihat masyarakat di sekitar terdiam menyaksikan Britt kembali ke kerajaan.
Mereka berlima kembali melanjutkan langkah mengikuti Britt menuju alun-alun dekat istana kerajaan di sebelah utara kota. Beberapa rumah penduduk terbuat dari batu bata berlapiskan kayu dan berhiaskan beberapa pot berbunga-bunga telah mereka lewati.
Lantai alun-alun terbuat dari keramik krem menyambut langkah kaki menuju pagar perbatasan istana kerajaan. Begitu mereka melewati pagar batu bata tersebut, tiga gedung berbeda dan terpisah telah terlihat di depan mata, salah satunya merupakan istana kerajaan yang berada di sebelah kanan, terpisahkan oleh taman berbunga dengan sebuah patung di pusatnya.
Britt menuruni kuda dan menempatkan kedua kaki pada lantai rerumputan. “Tunggu di sini.”
Britt menarik tali pada kuda seraya membawanya menuju gedung lingkungan istana sebelah barat. Langkah kaki kuda ikut berirama ketika menginjak kembali lantai bebatuan di dekat taman lingkungan istana.
Griffin bertanya sambil menyaksikan Britt melepas kudanya di dekat gedung sebelah barat, “Bisakah kita kembali ke asrama?”
Mark terdiam menatap kedua gedung yang berada di hadapannya, yakni School of Knight and Magic dan istana kerajaan. Kedua gedung itu saling berdekatan dan terhubung. Namun, istana kerajaan lebih tinggi daripada School of Knight and Magic. Dia berasumsi istana kerajaan memiliki lima lantai, sedangkan School of Knight and Magic memiliki tiga lantai.
Mark hampir tidak dapat membedakan kedua gedung itu hanya karena bagian luar berwajah sama persis, terbuat dari batu bata dengan motif perak. Keduanya dia anggap sebagai satu bangunan saling terhubung.
Sekali lagi, hal yang telah dia saksikan mengenai istana kerajaan Haven benar-benar di luar dugaan hanya berdasarkan deskripsi pada novel Alpinloch Kingdom. Mark berdecak kagum menyaksikan betapa megahnya istana tersebut.
“Wow,” ucap Jason dan Justice bersamaan.
“Cooper, G, Griffin, kalian tunggu di ruang depan asrama. Aku akan mengantar yang lain untuk menemui pangeran. Jangan masuk ke kamar dulu,” perintah Britt. “Putri Anna, mari.”
Britt kembali menggerakkan kedua kakinya mengantar Mark, Anna, Jason, Justice, dan Yael berbelok menuju pintu masuk istana, meninggalkan Cooper, G, Griffin di belakang terdiam menyaksikan.
Empat orang pengawal yang berjaga di dekat pintu masuk tercengang ketika menyaksikan Britt telah kembali pada malam hari. Mereka dengan cepat berlutut menyambut kedatangannya untuk memberi hormat dan sambutan.
“Selamat datang kembali, ketua pengawal Britt,” sapa keempat pengawal itu.
“Tolong bukakan pintu. Mereka ada urusan dengan Yang Mulia Pangeran,” balas Britt.
“Baik, ketua pengawal!”
Dua dari empat pengawal yang berlutut bangkit dan berbalik untuk membukakan pintu. Kedua tangan mereka menyentuh badan pintu kayu untuk mengerahkan tenaga demi mendorongnya.
Ketika pintu telah terbuka dengan lebar, Mark tertegun menyaksikan bagian depan dari isi istana kerajaan tersebut. Justice juga tidak bisa berkata-kata kecuali hanya menyimpan decakan kagum di dalam benaknya.
“Silakan, ketua pengawal,”
Britt mengajak, “Silakan, Putri Anna.”
“Te-terima kasih,” ucap Anna ketika kembali mengikuti langkah Britt.
Sebuah pilar putih dan karpet merah penunjuk jalan telah menyambut kedatangan menuju dalam istana. Dinding putih perak di sekeliling ruang depan istana ikut memanjakan mata hingga batas imajinasi.
“Ini istana kerajaan Haven?” ucap Jason tertegun.
“Tentu saja!” jawab Yael. “Buka matamu, ini bukan mimpi!”
“Selamat datang kembali, pengawal Britt,” sapa seorang butler berjas hitam menemuinya. “Anda kembali tepat waktu, pangeran bilang dia ingin ditemani Anda saat makan malam. Makan malam akan siap sepuluh menit lagi di ruang makan.”
“Terima kasih,” ucap Britt menatap sang butler bangkit. “Apakah pangeran masih berada di ruangannya?”
***
“Masuk,” ucap Holland ketika pintu emas yang membelakanginya terkena sebuah ketukan beberapa kali.
Pintu emas murni itu terbuka mengungkapkan Britt baru saja tiba kembali, kali ini dengan tamu. Holland mendecakkan tubuhnya sambil menatap salah satu tamu tersebut adalah putri Anna dari kerajaan Alpinloch.
“Putri Anna? Putri Anna dari kerajaan Alpinloch?” ucap Holland tidak bisa berkata-kata ketika menatap Anna telah berdiri di hadapannya.
Britt terlebih dahulu melangkah menghadapi Holland sebelum berlutut memberi hormat. Mark terdiam tidak tahu apakah harus mengikuti gerak-gerik Britt ketika menghadapi seorang pangeran dari kerajaan Haven, berlutut.
Secara canggung, Mark berbalik menatap Jason, Justice, dan Yael telah ikut berlutut sebagai salam hormat pada sang pangeran. Dia menatap Anna tentu saja tidak akan berlutut karena derajat sebagai seorang putri dari kerajaan Alpinloch.
Britt melapor setelah bangkit, “Salam, Yang Mulia Pangeran Holland. Saya sudah kembali dari berkeliling sekitar perbatasan kota. Tidak ada tanda-tanda pasukan dari kerajaan Alpinloch. Beruntung, saya menemukan Putri Anna dari kerajaan Alpinloch.”
“Kabar itu benar.” Pangeran Holland bisa mengonfirmasi ketika menatap Jason, Justice, dan Yael ikut bangkit.
Pangeran Holland menghentakkan kedua kaki menemui Anna ketika Britt bergeser untuk memberi jalan. Pandangannya menambah fokus terhadap sang putri dari kerajaan Alpinloch.
Anna tertegun ketika menatap Pangeran Holland akhirnya berdiri di hadapannya. Dia menyaksikan Pangeran Holland berlutut hanya untuk mencium pipi tangan kanan sebagai salam. Wajahnya benar-benar memerah bereaksi kelakuan sang pangeran.
“Putri Anna dari kerajaan Alpinloch. Aku lega mendengar kabar mengenai dirimu menjadi sebuah kenyataan. Kamu memang sedang melarikan diri dari kerajaanmu sendiri. Aku yakin kamu memiliki alasan mengapa kamu kemari. Begitu juga dengan teman-teman yang ikut bersamamu itu.”
“Maafkan aku, Pangeran Holland,” jawab Anna terhadap Pangeran Holland. “Aku … datang kemari ingin meminta bantuanmu. Begitu juga dengan temanku dari Sedona. Kami butuh bantuan secepat mungkin.”
“Britt,” Holland memberi perintah, “Tolong bilang pada butler dan para pelayan dan koki istana, makan malam hari ini akan sedikit tertunda, karena saya ingin meminta pada mereka agar membuatkan hidangan tambahan untuk para tamu di depan kita. Kira-kira beberapa saat lagi, saya sudah berada di ruang makan bersama dengan para tamu.”
“Baik, Yang Mulia,” jawab Britt sebelum berbalik meninggalkan ruangan.
“Baiklah, bolehkah aku mengetahui siapa kalian?” Holland mengajukkan.
Jason memperkenalkan diri terlebih dahulu, “Jason, dari Springmaple. Aku yang mengantar Anna menuju kemari. Lebih tepatnya, temanku, Mark, yang lebih dulu menyelamatkannya dari ksatria kerajaan Alpinloch ketika sedang dikejar-kejar.”
“Aku Justice, dari Oakwood,” sapa Justice.
“Justice? Dari Oakwood?” ulang Holland. “Menarik.”
“Namaku Yael, dari Sedona. Aku juga ingin meminta bantuanmu, Yang Mulia Pangeran Holland,” Yael memperkenalkan diri.
Holland kini menyapa Mark, “Kamu tentu saja pasti Mark.”
“Eh? Iya. Aku Mark, Yang Mulia Pangeran Holland,” jawab Mark tertegun menundukkan kepala memberi hormat.
“Baiklah. Aku ingin mendengar apa yang kalian minta agar bisa kubantu. Maksudku, beberapa dari ksatria kerajaanku bisa membantu apa yang menjadi masalah kalian,” pinta Holland.
Jason terlebih dulu menjelaskan, “Kudengar ada kabar kalau kerajaan Haven sedang membentuk pemberontakan terhadap kerajaan Alpinloch yang ingin menguasai dunia.
Holland mengoreksi, “Lebih tepatnya resistensi daripada pemberontakan. Itu semua benar. Sejak kematian Raja Thais di sana, aku merasa Raja Lucius yang mengambil alih kerajaan ingin mengambil alih seluruh kekuasaan dunia ini. Sesuatu yang buruk akan terjadi jika Raja Lucius berhasil mengambil alih seluruh dunia.”
Anna membenarkan, “Pangeran Holland, yang kamu katakan benar. Raja Lucius ingin menggunakanku sebagai alat untuk membantunya menguasai dunia. Ashmore, pengawalku, pernah berkata kalau aku ini benar-benar … spesial. Dengan alasan itu, ibuku yang sedang berada di dalam penjara kerajaan menyuruhku untuk melarikan diri.”
“Ashmore,” ulang Mark.
Setiap nama Ashmore terlontarkan dari mulut ke mulut, lagi-lagi Mark teringat ketika Ashmore rela mengorbankan diri agar dia dan Anna dapat melarikan diri dari ksatria kerajaan Alpinloch.
Kekhawatiran terhadap Ashmore tetap tersimpan dalam memori Mark. Dia tidak tahu bagaimana nasib pengawal setia Anna tersebut saat itu setelah tertangkap oleh Oberon, salah satu pengawal kerajaan Alpinloch.
“Baiklah, kudengar gadis dari Sedona juga ingin menyampaikan sesuatu,” pinta Holland lagi.
Yael menyampaikan, “Yang Mulia Pangeran, Sedona baru-baru ini diserang oleh monster yang menghancurkan seluruh kota. Lebih buruknya lagi, pemberontak memanfaatkan kesempatan itu dan membuat kita semua menderita. Dengan alasan itu, aku memohon pada Yang Mulia Pangeran. Atas nama walikota Sedona, pamanku, aku meminta bantuan pada kerajaan Haven.”
“Begitu, kudengar pasukan kerajaan Alpinloch telah meninggalkan Sedona,” Holland menyimpulkan. “Kalian semua, ada kabar yang baru saja kudapatkan. Ksatria kerajaan Alpinloch telah tiba di Verona untuk menghalangi jalan utama dari kerajaan ini. Ternyata bukan hanya untuk mencari Putri Anna.”
“Verona? Kota di sebelah utara kerajaan ini, dan juga kota di selatan kerajaan Alpinloch,” ulang Jason.
“Yang aku takutkan saat kami membentuk resistensi terhadap kerajaan Alpinloch, mereka akan menghalangi kami berkomunikasi dengan kota-kota lain dengan cara apapun. Beruntung, sejauh ini mereka hanya telah tiba di kota Verona. Raja Lucius memang ingin menguasai seluruh kota, seluruh wilayah, dan seluruh pulau.”
Mark bertanya, “Apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu?”
“Sebelum aku menjawab, apa kalian ingin bergabung dengan resistensi terhadap Raja Lucius?” Holland bertanya kembali.
“Tentu saja, Pangeran Holland,” jawab Anna. “Aku ingin menyelamatkan kerajaanku dari tangan Raja Lucius. Aku juga ingin menyelamatkan ibuku.”

“Bagus. Nanti kita akan bicarakan tentang hal itu saat makan malam nanti. Yael dari Sedona, masalahmu akan kusampaikan pada ksatria kerajaan setelah makan malam. Mari kita ke ruang makan untuk menunggu makan malam.”

Comments

Popular Posts