Pembunuhan Cinta (A Indonesian Short Story)

PEMBUNUHAN CINTA


 

 Pada suatu hari di sebuah kampus terkenal, ada beberapa mahasiswa yang sedang kuliah dan belajar dengan serius di sana. Tapi ada satu mahasiswi yang paling menonjol, namanya adalah Fearne, ia adalah mahasiswi fakultas kedokteran, gadis yang memiliki rambut pirang panjang ini bercita-cita menjadi dokter, ia juga memiliki seorang pacar yang memiliki rambut tegak berwarna coklat dan merupakan mahasiswa fakultas hukum, nama pacarnya adalah Arnett. Meski mereka saling jatuh cinta, ada satu orang yang sangat iri saat melihat Fearne sedang berkencan dengan Arnett, ia bahkan benci Fearne, orang itu adalah Applegate, seorang mahasiswi fakultas kedokteran sama seperti Fearne, hanya saja Applegate kurang pintar dibanding Fearne.
Suatu malam, Fearne dan Arnett mendatangi sebuah pesta yang diadakan oleh Tahnee, sahabat Fearne, banyak tamu yang datang ke pesta tersebut, mereka sepertinya sedang bersenang-senang, menari disko, dan bahkan minum-minum. Tapi Arnett dan Fearne datang ke pesta tersebut dengan tujuan untuk merayakan hari ke-100 mereka berpacaran.
“Oh sayang, bukankah pesta ini menyenangkan, ini hari ke-100 kita berpacaran.” kata Arnett.
Fearne membalas “Oh, sayang, bukankah ini sangat romantis, lihat, banyak para single sedang mencari jodoh mereka di pesta ini, pemandangan pesta yang sangat otentik dan penuh dengan lampu disko.”
“Ya, sayang, dan… maukah kau berdansa?”
“Dengan senang hati.” Fearne mulai berdansa dengan Arnett secara romantis, tapi satu menit kemudian, seorang gadis meminta mereka untuk berhenti.
“Hai, Arnett, sudah lama kita tidak bertemu.” gadis tersebut mulai merayu Arnett.
“Arnett, siapa gadis ini?” tanya Fearne.
“Um…, dia adalah mantan pacarku, namanya Pippa.” jawab Arnett.
“Halo, Pippa, namaku Fearne, pacar Arnett.”
“Halo, Fearne.” balas Pippa.
“Fearne, aku harus bicara pada Pippa terlebih dahulu, kau tetap di sini saja.” Arnett meninggalkan Fearne untuk berbicara pada Pippa.
Lalu Tahnee menemuinya, gadis yang memiliki rambut coklat panjang itu berkata pada Fearne “Bagaimana hari keseratusmu dengan Arnett?”
Fearne menjawab “Menyenangkan sekali, hari ini aku akan mencium dia untuk pertama kalinya, wow, aku tidak menyangka ini akan terjadi, aku bahkan belum pernah dicium.”
“Fearne, seorang gadis bisa saja bermimpi, kau mau soda?”
Fearne menolak “Tidak, terima kasih. Omong-omong, mana pacarmu?”
“Aku putus dengannya, aku melihat dia berciuman dengan gadis lain.”
“Oh, aku turut prihatin sekali.”
“Ya, aku hanya bisa berharap semoga saja pacarmu tidak seperti mantan pacarku. Pacarmu cukup baik menurutku.”
Tak lama, Fearne melihat Arnett mencium Pippa “Hah! Arnett berciuman dengan Pippa? Jangan bilang aku selingkuhannya! Sebaiknya aku menemuinya!” Fearne segera berjalan dengan cepat dan menemui Arnett “Arnett!”
“Fearne!” balas Arnett.
“Jadi dia bukan mantan pacarmu, ‘kan? Dia pacarmu, ‘kan?”
“Tunggu, Fearne, aku bisa menjelaskannya!”
“Tidak perlu, aku selingkuhanmu, ‘kan? Kau benar-benar brengsek, Arnett! Kau benar-benar menghancurkan hari keseratus kita berkencan, Arnett! Apa memang kau harus berlagak seperti ini?!” teriak Fearne.
“Tunggu, Fearne, kau salah paham!”
“Kau salah! Kau yang salah paham! Kau brengsek!” Fearne pergi dari pesta tersebut.
Arnett menatap Pippa dan berteriak dengan kasar “Terima kasih banyak, Pippa!”
“Ayolah, aku hanya ingin berpacaran denganmu lagi!” kata Pippa.
“Tidak! Sudah kubilang aku sedang berpacaran dengan Fearne! Kau menghancurkan hari jadi kami! Persetan kau!” Arnett segera pergi dari pesta tersebut.
Fearne berlari meninggalkan tempat pesta tersebut sambil bersedih, ia segera kembali ke asrama, lalu ia masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, ia menutup pintu dengan keras, ia menangis dengan keras sambil duduk di kasurnya hingga jam sepuluh malam lewat lima menit, ia mendapat SMS dari Arnett. Fearne berdiri sambil membaca SMS tersebut bahwa Arnett ingin bertemu dengannya di dermaga. Fearne berjalan keluar dari kamarnya dan meninggalkan asrama.
Fearne berjalan menuju dermaga melewati beberapa gedung fakultas yang cukup menarik. Saat ia tiba di dermaga, ia melihat seseorang yang menunggunya. Ia mengira orang itu adalah Arnett “Arnett, apa itu kau?” tanya Fearne.
Ternyata dugaan Fearne salah, orang yang menunggunya di dermaga itu bukan Arnett, melainkan Applegate, musuh bebuyutannya “Halo, Fearne.”
“Applegate, apa yang kau… Mana Arnett?” tanya Fearne sambil menatap Applegate yang telah berkostum seperti seorang mafia.
“Dia tidak ada di sini, dan ada alasan yang sederhana mengapa aku di sini, kau mencuri pacarku, Fearne!” Applegate mengambil machine gun-nya.
“Apa yang… Apa yang akan kau lakukan dengan pistol itu?”
“Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak aku mengetahui kau berpacaran dengan Arnett, selamat tinggal, jalang.” Applegate langsung menembak Fearne beberapa kali tanpa ampun, ia menembak jantung, ketiak, otak, paru-paru, dan usus Fearne beberapa kali tanpa berhenti sama sekali hingga darah yang keluar sangat banyak. Fearne pun akhirnya terjatuh dan… tewas seketika, ia pun tersenyum dan menyahut “Aku berhasil! Aku membunuhnya! Dia mati! Dia mati!!” Ia pun melempar jasad Fearne ke laut sambil tertawa keras-keras. Lalu ia berjalan dengan tenang seakan-akan ia bukan pelaku pembunuhan Fearne.
Waktu pun mulai berlalu, hingga saat matahari terbit, seorang dosen menemukan jasad Fearne, hal tersebut dilihat oleh beberapa mahasiswa. Ada yang kaget, takut, maupun menangis. Terutama Tahnee, ia menangis setelah mengetahui bahwa sahabatnya tewas.
“Aku tidak percaya sahabatku terbunuh.” ucap Tahnee sambil menangis.
“Ya, ia tewas.” kata Applegate seakan-akan ia bukan pelakunya, ia membatin, Ha ha ha… Ini menakjubkan, si pelacur yang mencuri pacarku akhirnya mati juga, dan tidak ada hal yang mencurigakan, dan... semoga kau puas dengan balasan dariku, Fearne.
“Mana Arnett? Seharusnya dia bersama Fearne tadi malam?! Kalau saja Arnett tidak mencium Pippa, hal ini takkan terjadi!” teriak Tahnee.
“Fearne! Fearne!” sahut Arnett sambil berlari dan mendorong beberapa mahasiswa “Mana Fearne! Jangan bilang dia mati!” Ia menatap Tahnee yang sedang menangis.
“Arnett, maafkan aku tapi… Fearne sudah mati.”
Arnett berteriak sambil menangis “TIDAK!!!!”
Tahnee pun memeluk Arnett sambil menangis, mereka sudah tahu bahwa Fearne telah tewas terbunuh, mereka bertanya dalam hati, siapa yang tega melakukan hal ini?
Seminggu kemudian, bukti pada pembunuhan Fearne sama sekali tidak ditemukan, para mahasiswa kewalahan untuk membantu mencari petunjuk. Applegate hanya menyaksikan mereka mencari petunjuk sambil berpikir bahwa ia telah melakukan pembunuhan sempurna.
Tapi lagi-lagi, ia melihat Arnett dan Pippa berkencan sekali lagi di depan gedung fakultas hukum, ia kembali cemburu pada Pippa, ia ingin Arnett kembali padanya, bukan Pippa. Jadi ia memutuskan untuk membunuh Pippa malam itu, tapi ia harus menunggu lama sekali hingga bulan terbenam, ia pergi meninggalkan gedung tersebut.
Tahnee menemui Arnett dan Pippa tepat setelah Applegate pergi, ia menyahut “Hai, kalian berdua, bagaimana kencannya?”
“Aku sangat lega bisa berpacaran kembali dengan Pippa.” balas Arnett.
“Ya, aku benar-benar mencintainya, aku masih cinta.” balas Pippa.
“Um, maaf jika ini terlalu langsung, tapi Pippa, apa kau membunuh Fearne sebelum berpacaran kembali?” tanya Tahnee.
“Tentu saja aku tidak membunuhnya, Tahnee, aku hanya ingin berpacaran kembali dengan Arnett, tentu saja aku tidak ingin membunuh Fearne, aku tidak bermaksud membuat Fearne menangis.”
“Aha, tapi bisa jadi kau pembunuhnya.”
Pippa berkata lagi “Ingat, pembunuhnya bisa siapa saja, termasuk kau, Tahnee.”
“Aku tidak membunuh Fearne, aku sedang berada di pestaku, sial, aku harus kembali ke fakultasku.” Tahnee langsung pergi.
Arnett merenung sambil menatap ke bawah lantai “Oh, Pippa, sejak Fearne terbunuh, aku lagi-lagi terkena bullmia.”
“Jangan khawatir, Arnett, aku akan selalu bersamamu, dan gangguan makanmu pasti akan sembuh, tenang saja.”
“Terima kasih, Pippa.” Arnett memeluk Pippa.
Pippa pergi meninggalkan Arnett setelah ia mendapat SMS dari seseorang yang ingin bertemu di sebuah gudang gelap malam itu, ia memutuskan untuk pergi ke gudang tersebut pada pukul 20:00. Ia tidak melihat siapa-siapa saat masuk, ia memanggil jika ada seseorang, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menusuk punggungnya dengan pisau dari belakang, sehingga ia terjatuh dan tewas. Seseorang yang menusuk punggungnya itu tak lain adalah Applegate.
Keesokan harinya, jasad Pippa ditemukan, dan sekali lagi, semua mahasiswa kaget dengan hal tersebut. Arnett sekali lagi menangis dan berkata “TIDAK!!”
Tahnee pun berkata pada Arnett “Mengapa? Mengapa setiap pacar yang kau kencani mati terbunuh! Tidak!!”
Semuanya pun membatin bahwa pembunuhnya harus segera ditemukan, jika tidak, mereka mungkin akan menjadi target berikutnya. Mereka ingin keluar dari kampus tersebut, tapi sayangnya tidak ada transportasi yang datang, apalagi, sinyal telekomunikasi sudah tidak ada, mereka tidak bisa kabur. Mereka memutuskan untuk menyelidiki pembunuhan tersebut.
Hal ini membuat Applegate sangat kesal meski perasaannya tidak terlihat secara langsung, ia memutuskan untuk membunuh mereka satu per satu hingga salah satu dari mereka disalahkan. Saat para mahasiswa pergi dari gudang tersebut, Applegate kembali masuk ke dalam gudang tersebut dan mengambil pisau yang masih tertancap pada punggung Pippa, tapi ada seorang mahasiswi yang berkulit hitam dan memiliki rambut hitam pendek yang bernama Kathleen datang, ia melihat Applegate mengambil pisau dari punggung Pippa.
“Astaga! Ternyata kau pelakunya!” teriak Kathleen.
Applegate langsung menatap Kathleen dengan tajam, ia langsung mengejar Kathleen tanpa berkata apapun, ia menangkap Kathleen saat akan lari, dan… ia akhirnya memotong leher Kathleen hingga tewas. Ia mengambil jasad Kathleen ke luar gudang dan menguburnya di suatu tempat, namun, setelah mengubur jasad tersebut, seorang dosen yang berkacamata dan memiliki rambut afro hitam melihatnya, nama dosen itu adalah Sophie.
“Ah! Kau seorang pembunuh!” teriak Sophie.
Tanpa berkata apapun lagi, Applegate langsung menusuk dada Sophie dengan pisau hingga tewas seketika. Ia membawa jasad Sophie secara diam-diam dan memlemparnya ke tong sampah. Ia berjalan kembali seakan-akan ia bukan pembunuh setelah ia mengelap pisaunya dan menaruhnya di tanah.
Pukul 21:00, Tahnee tiba di sebuah tong sampah untuk membuang sampah, tapi saat ia akan menaruh sampah-sampah, ia melihat jasad Sophie, ia berteriak secara keras dan ketakutan. Teriakan itu membuat semua mahasiswa dan dosen tiba menemui Tahnee di depan tong sampah, termasuk Applegate, yang berpura-pura tidak tahu bahwa ia merupakan pembunuhnya.
“Ini mengerikan sekali!” teriak Louis, teman Arnett “Pembunuhan ini lebih sering sejak pembunuhan Fearne!! Kathleen juga menghilang!! Sudahlah!! Aku ingin pergi dari kampus ini dan pulang!”
“Jangan panik, kita akan keluar dari sini, kita pinjam mobil dosen, lalu lapor polisi, dan masalah ini selesai.” usul Arnett.
“Tapi semua mobil sudah disabotase agar kita tidak bisa keluar dari sini! Ya sudah, aku akan keluar dari sini! Aku telepon polisi setelah aku menemukan sinyal telekomunikasi.” Louis langsung pergi meninggalkan yang lain.
Applegate menemui Arnett “Oh, Arnett, aku turut prihatin atas kematian Fearne dan Pippa, kedua mantan pacarmu. Mungkin aku bisa berkencan denganmu sekali lagi dan kita bisa kembali berpacaran.”
Arnett membalas “Um, ya, mungkin kita bisa kembali berpacaran, tapi… aku merasa bahwa aku belum siap untuk kembali kepadamu lagi, tapi nanti kita berpacaran lagi.”
“Terima kasih, sayang, meski belum secara resmi.” Applegate mencium pipi Arnett, ia langsung pergi mengikuti Louis secara diam-diam tanpa sepengetahuan Arnett.
“Arnett, kau melihat Kathleen akhir-akhir ini?” tanya Tahnee.
“Aku tidak tahu, memang dia tidak masuk?” balas Arnett.
“Aku tidak melihatnya di fakultas, aku khawatir jika ada sesuatu yang salah dengannya.”
“Tahnee, Kathleen akan baik-baik saja, tenanglah.”
Sementara itu, Louis tiba di depan gerbang keluar sambil mencari sinyal telekomunikasi, ia tidak menemukan sinyal sama sekali, ia berjalan bolak-balik beberapa kali, hingga akhirnya ia menemukan sinyal telekomunikasi, ia menelepon polisi, tapi Applegate tiba di belakangnya sambil membawa kapak dan langsung memenggal kepala Louis tanpa berkata apapun. Ia langsung menyembunyikan kapak tersebut di dalam kantor satpam dan kolong meja. Ia pergi meninggalkan gerbang tersebut.
“Applegate, kau dari mana saja?” tanya Tahnee.
“Dari toilet.” Applegate berbohong.
“Oh, begitu.”
“AAAAAAARRRGH!!!” terdengar suara teriakan seorang mahasiswi di dekat gerbang. Applegate dan Tahnee berlari menuju depan gerbang, mereka melihat jasad Louis beserta kepalanya yang dipenggal.
Tak lama, beberapa mahasiswa dan dosen juga tiba di depan gerbang serta melihat jasad tersebut. Mereka kaget saat melihat jasad yang berdarah tersebut. Semua mahasiswa menatap Arnett, mengingat kedua korban pertama merupakan mantan pacarnya.
“Apa?” tanya Arnett.
“Dia pembunuhnya! Dia benar-benar membunuh mereka! Dia bahkan mengubur Kathleen!”
“Kathleen!” teriak Tahnee “Tidak! Arnett, apa yang kau lakukan!”
“Aku tidak melakukan hal itu! Tolonglah, bukan aku pelakunya!” ucap Arnett,
Salah satu dosen berkata “Kami menemukan jasad Kathleen tepat di halaman belakang kamarmu? Um, ya, sudah jelas kau adalah pelakunya!”
“Tidak, bung! Aku tidak melakukan hal itu! Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum pembunuh aslinya muncul!” Arnett langsung berlari keluar dari kampus tersebut, dan hampir semua dosen dan mahasiswa yang mengejarnya.
Tahnee menemui Applegate “Oh, Applegate, ternyata orang yang ingin kau pacari adalah seorang pembunuh, aku tidak menyangka hal ini.”
“Ya, aku juga, tapi… sebenarnya dia bukan pelakunya.”
“Apa maksudmu?”
Applegate menjawab “Dia benar-benar bukan pelakunya, tapi…” Ia langsung mengambil pistolnya “Aku yang membunuh Fearne dan Pippa!” Ia mengarahkan pistolnya ke arah Tahnee.
Tahnee pun kaget “Kau… Kau yang membunuh mereka? Kau juga membunuh Kathleen, Sophie, dan Louis?”
“Kau adalah target berikutnya setelah tahu bahwa aku yang membunuh mereka. Aku membunuh Fearne dan Pippa karena aku benar-benar iri pada mereka! Seharusnya aku yang menjadi pacar Arnett! Kalau begitu, aku akan menembak otakmu, jantungmu, dan  paru-parumu agar semua ini tidak diketahui siapapun.”
“Applegate, kau tidak harus berlagak seperti ini, tolong jangan bunuh aku, kita rahasiakan hal ini dan masalah ini semua selesai.”
“Diam! Aku tak peduli! Lama kelamaan kau akan bilang pada yang lain, ‘kan? Tidak ada basa-basi lagi, aku akan membunuhmu selagi tidak ada yang melihat!” Applegate menembak lengan kiri Tahnee. Tahnee berteriak kesakitan saat kedua kakinya juga ditembak hingga terjatuh, ia meringis kesakitan, pada akhirnya Applegate akan menembak ke arah kepala Tahnee “Kau tahu, jalang, inilah saatnya untuk mati, dan semua ini tidak akan dibicarakan lagi, pembunuhan ini takkan diingat seakan-akan aku bukan pelakunya. Dan saatnya untuk menemui ajalmu. Selamat tinggal, jalang!”
Dan… suara tembakan terdengar, tapi kepala Tahnee baik-baik saja dan tidak tertembak, melainkan... Applegate.
Applegate melihat bahwa dadanya telah tertembak, ia sangat kaget bahwa ia merasa kesakitan, paru-parunya terasa sakit dan ia tidak bisa bernafas. Tak lama setelah itu, kepala Applegate tertembak dan mengeluarkan banyak darah. Akhirnya Applegate terjatuh dan tewas terbunuh oleh penembak misterius.
Tahnee pun kaget saat melihat Applegate tewas terbunuh di hadapannya, ia berusaha untuk berdiri tapi ia tidak bisa dan merasa kesakitan, ia merasa berterimakasih pada penembak misterius yang membunuh Applegate, ia berharap agar penembak misterius itu tidak menembaknya juga. Pada akhirnya, Tahnee mulai tak sadarkan diri. Dan juga tidak diketahui siapa yang menembak Applegate dan menyelamatkan Tahnee, identitasnya tetap menjadi misteri.

Comments

Popular Posts