I Can't Believe My Love is a Gamer REDUX! Episode 5


YUBIKIRI


Oke, perjuanganku demi lulus UTS fisika dan matematika tetap berlanjut. Tentu saja aku masih meminta bantuan Zach untuk menjadi tutor. Kalau kemarin Rabu, hari ini adalah Kamis. Aku memang harus mengikuti bimbel setiap Selasa dan Jumat. Jadi kumanfaatkan kemarin dan hari ini, sela-sela waktu kosong kegiatan siang hari setelah sekolah dengan meminta bantuan Zach.
Kebetulan, dosen kelas Zach hari ini berhalangan hadir di kampus, jadi masuk akal kalau Zach tidak mengatakan tidak dalam menjawab permintaanku untuk membimbing. Setidaknya, waktunya lebih luang, daripada hanya mager di rumah atau di kostan, kan? Iya, kan?
Kali ini, kegiatan tutoring Kamis ini di food court di mall yang kemarin, sama persis saat rapat lomba Dance Dance Revolution diadakan setelah gathering. Ya, food court yang kami kunjungi sebagai tempat tutoring memang tidak begitu ramai pengunjung, meja pun tidak terlalu terisi. Meski begitu, suara sorakan karyawan tiap gerai restoran tetap nyaring menawarkan menu dan diskon kepada calon pelanggan.
Ah, aku baru ingat, kemarin, aku langsung pulang begitu selesai tutoring. Lelah sekali sehabis mendapat damage dari kebingungan dalam memahami konsep dan menggunakan rumus dalam soal, terutama fisika, ya, fisika, pelajaran tersulit sedunia! Kemarin, saat di rumah aku mager dulu di kasur sebelum beralih ke meja untuk mulai latihan soal. Latihan soal tadi malam bahkan lebih buruk daripada yang kubayangkan.
Oke, saatnya untuk bersusah-susahan bersama fisika dan matematika dengan bantuan Zach. Kutaruh buku paket fisika dan matematika serta buku catatan di atas meja, sebagai pendamping dua buah papan order yang juga ditempatkan sebagai penanda bahwa kami menunggu pesanan makanan masing-masing.
“Oke, kita lanjutin aja deh. Karena lo enggak gitu ngerti-ngerti amat soal fisika, lo juga kayaknya matematika udah berkembang sih, jadi kita fokus aja ke fisika. Kayaknya, lo kerjain aja beberapa soal evaluasi tiap bab yang gue pilih. Bukunya.”
Kuserahkan buku paket fisika pada Zach sejenak. Aku juga kebingungan ingin mengerjakan soal-soal dari buku itu, literally, aku juga kebingungan dengan hampir semua soal, bagaimana cara mengerjakannya hingga tidak ada pilihan jawaban yang tepat.
Kulihat Zach membolak-balikkan halaman buku menuju soal evaluasi masing-masing bab. Dia mengangguk-angguk memastikan setiap soal yang tengah dia pilih bisa menjadi tingkat kesulitan termudah, termudah, bagiku. Dia catat setiap nomor soal dari bab tertentu yang dia pilih di kertas binder-nya.
“Lo cobain kerjain soal-soal ini dulu deh, sebisa mungkin. Terus, pas 20 menit, gue bantu kalau enggak bisa sama sekalian bahas.” Zach memang seperti guru bimbel, benar-benar cocok. Sepertinya dia berpotensi menjadi seorang guru atau dosen selain menjadi gamer yang jago.
Chicken Tempura-nya,” seorang pelayan laki-laki menghampiri kami menaruh sepiring chicken tempura dengan kentang goreng dan sepotong timun serta tomat di atas meja dekat buku catatanku.
Ah, pesananku, chicken tempura, telah tiba begitu aku mulai mengerjakan soal. Kenapa harus sekarang? Kalau saja ada waktu jeda terlebih dahulu sebelum benar-benar mengerjakan soal, aku pasti akan memakan sepiring chicken tempura. Perutku seperti mengempes meminta energi dari makan siang.
Dan … datang lagi seorang pelayan wanita membawakan pesanan Zach. “Spaghetti carbonara-nya.”
Wah, kulihat piring makanan pesanan Zach tidak begitu berlebihan dan meledak-ledak seperti pesta mabuk. Hanya sepiring spaghetti bersaus putih nan creamy. Ya, kurasa memang elegan jika dilihat dari cover-nya.
Beberapa menit aku tersesat dalam pikiran bagaimana cara untuk mengerjakan setiap soal yang Zach suruh dari buku paket fisikaku sendiri, ah, aku sangat keroncongan. Kulihat juga Zach mulai menikmati spaghetti carbonara pesanannya dengan nikmat, membuat mulutku berair, tidak sabar ingin memakan chicken tempura pesananku. Tentu saja aku tidak bisa mengerjakan setiap soal sambil menikmati makan siang, harus tetap fokus menyalurkan pikiran untuk solusi mencari jawaban dalam mengerjakan soal sulit seperti ini.
 “Eh, Zach sama Arfian!” Ya, Reza baru saja menemui kami, entah kebetulan atau bukan. “Tumben pada belajar.” Ya, dia berkata begitu karena ada buku paket fisika dan matematika di atas meja, begitu pula dengan diriku yang tengah mengerjakan soal-soal.
“Iya, si Arfian mau UTS sih minggu depan. Makanya, minta bantuan gue soal fisika sama matematika, dia fisika enggak ngerti-ngerti sih,” tutur Zach.
“Berarti belum pada main dong? Ya, tadi baru ada Laura juga sih. Nanyain terus kapan Arfian main. Pantas mau UTS,” ucap Reza.
Eh? Laura ada di game center? Laura yang weekend lalu bertanya apakah aku bisa menjadi rivalnya? Atau partner mainnya? Atau … terserah apa itu? Selama ini, dia bertanya tentang diriku? Secara langsung atau di grup?
Karena UTS, akhir-akhir ini aku jarang nongol di grup LINE, notifikasi pesan masuk di chatroom juga kumatikan agar bermain rhythm game dapat berjalan lancar saat sela-sela break sekolah dan belajar di rumah. Ya, notifikasi pesan masuk bisa saja muncul tiba-tiba saat bermain rhythm games di ponsel, memecahkan konsentrasi dan fokus, jadinya terganggu karena buyar hingga banyak miss.
Kembali ke Laura, aku hampir lupa dengannya. Dia bahkan bertanya tentangku selama ini? Ah! Padahal aku hanya ingin main sendiri, agar tidak dapat terganggu saat mengembangkan skill bermain rhythm games. Jujur, aku lebih suka main sendiri daripada dilihat oleh orang lain, termasuk sesama anggota komunitas, tepatnya akhir-akhir ini. Aku hanya ingin menenangkan diri tanpa perlu menambah tekanan dan malu hanya karena tidak mampu memainkan difficulty tertentu.
“Oh ya, gue pesan makan dulu deh!” sahut Reza sebelum menuju salah satu gerai makanan di food court.
“Iya,” sahut Zach.
Ah, aku lagi-lagi tersesat di dalam labirin otak! Mencari cara untuk menyelesaikan seluruh soal. Satu pun aku tidak bisa, meski sudah memakai rumus dengan benar, pada akhirnya jawabannya tidak ada di pilihan ganda itu! Soal macam apa ini yang berniat menyulitkan bagi pelajar! Ah! Pusing!
“Oke deh, kita bahas aja deh. Lagian kasihan ke lo juga, belum makan juga lah,” usul Zach.
“Iya deh.” Kulihat Zach baru saja menghabiskan setengah dari spaghetti carbonara pesanannya. “Sambil makan aja nih, enggak apa-apa.”
“Sok aja.” Zach mengangguk.
Akhirnya, setelah menahan perut keroncongan hingga kempes, aku bisa menikmati makan siang pesananku, chicken tempura dengan kentang goreng dan sepotong tomat dan timun. Memang, masih terlihat seperti potongan dada ayam bertepung bumbu tempura hingga kecokelatan, tapi totally worth it kalau kucicipi rasanya, apalagi jika berhiaskan mayones dan saus tomat bergaris-garis.
Kumasukkan sepotong daging ayam berbumbu tepung tempura ke dalam mulut. Kukunyah dan kunikmati begitu basahnya daging bercampur gurihnya tepung tempura ditambah mayones dan saus tomat. Mulutku sampai-sampai berair tidak sabar ingin merasakan makan siang enak seperti ini.
“Oke, kita mulai ya.” Zach mulai menjelaskan sambil memulai menulis seraya mengerjakan soal-soal yang dia minta kukerjakan semula.
Aku memperhatikan tulisan, coretan demi coretan, dan gambar demi gambar di kertas binder itu serta penjelasan cukup sederhana dari Zach. Kutetap menikmati setiap gigitan kentang goreng dan potongan ayam bertepung tempura. Sampai-sampai, konsentrasiku berfokus pada nikmatnya chicken tempura layaknya menikmati keripik kentang rasa keju atau mie goreng secara berlebihan.
Meski begitu, aku tetap memperhatikan dan berpura-pura mengerti seperti biasa. I get it, seyana. Penjelasan cukup rumit tentang solusi bagaimana seharusnya mengerjakan soal menuju jawabannya.
Setidaknya, peluangku untuk tidak mendapat nilai jelek hingga memalukan meningkat, meningkat. Ya, aku tidak tahu apakah nilai UTS fisika dan matematikaku akan mencapai standar kelulusan atau tidak demi menghindari remedial. Uh! Kenapa harus merepotkan dengan menggunakan rumus seperti ini kalau sudah ada konsepnya?
***
Makan siang, selesai. Kegiatan tutoring fisika dan matematika, selesai juga. Akhirnya, aku ke game center lagi setelah berkutat oleh rumitnya bimbingan belajar, belajar di rumah, dan tutoring yang semakin menambah beban alih-alih kesenangan. Akhirnya, aku bisa bersantai dan bersenang-senang demi membunuh kebosanan akibat belajar terus-menerus. Zach dan Reza juga tiba bersamaku di game center yang sedang cukup sepi, wajar bukan weekend.
“Arfian!” sahut Laura ketika kami mendekati mesin Maimai.
“Hah?” Ke-kenapa kulihat Laura malah melambaikan tangan sambil mengulum senyuman tepat padaku?
“Oooh, pantas dia nunggu lo dari kemarin-kemarin,” sahut Zach, “sok aja, main bareng gih. Dia kan udah jadi rival lo.”
“Eh? Lho … kok pada ikutan sih!” ucapku.
“Habisnya dia yang minta jadi rival lo lah. Rhythm game apapun jadi rival dia kok. Main sana,” sahut Reza, “lo juga jarang kan ngomong sama yang lain. Udah gih.”
“Iya, iya.” Dengan malu-malu, aku menghampiri Laura yang telah menunggu di hadapan mesin Maimai.
“Mau bareng enggak?” tanya Laura ketika aku mengambil salah satu sarung tangan di kotak dekat papan antrean.
“Iya.” Aku mengangguk setuju.
Seperti biasa, ku-tap Banapass ID card untuk login dan menge-swipe untuk memasukkan kredit. Begitu Laura melakukan hal yang sama, aku menatap gadis itu tetap mengulum senyuman, menggelikan sekali.
“Oh ya, jarang main di sini? Katanya sering, kan?” tanya Laura.
Aku memalingkan wajah sejenak sambil menjawab, “I-iya, soalnya minggu depan UTS sih. Gue juga enggak jago belajar, apalagi fisika sama matematika. Terus orangtua juga nyuruh belajar, belajar, belajar terus lah! Padahal gue cepat bosan sama belajar.”
Laura tertawa geli. “Hi hi, ya itu kamu enggak dibawa enjoy sih kayaknya, enggak kayak pas main game. Kalau dibilang pelan-pelan belajarnya juga susah sih kayak main game, kalau belajar materi pelajaran sekolah itu harus tetap konstan biar enggak ketinggalan banget.”
Apa yang dia bicarakan? Aku bahkan tidak mengerti dengan nasihat atau perkataannya. Kayak something disconnected begitu?
“Oh, sok aja pilih lagu,” pintaku.
Ketika Laura memilih lagu untuk stage pertama, kuberbalik sejenak dan mendapati Zach dan Reza tengah bermain Dance Dance Revolution! AAAAAH! Kenapa meninggalkanku! Temani kek! Aku akan jadi begitu awkward ditinggal sendirian bersama Laura!
“Yang ini,” Laura menunjukkan lagu yang dia pilih untuk stage pertama.
Yubikiri oleh Michiru Yamane, tingkat kesulitan EXPERT level 10, oke, akan jadi pemanasan yang bagus sebelum bermain level-level tinggi. Aku mengangguk dan menekan tombol untuk memilih lagu itu sekaligus difficulty.
Kurasa BGA lagu ini sekikit mendekati dengan situasi sekarang. Terlihat pada BGA sepasang laki-laki dan perempuan tengah bermain Maimai di sebuah game center. Sang perempuan terlebih dulu mengajak sang laki-laki untuk bermain. Akhirnya, tahu apa yang akan terjadi, janji kelinking seakan meminta untuk jadian.
Menekan tombol sesuai note yang berdatangan dan menge-slide layar mengikuti arah bintang setidaknya sudah membunuh kebosananku dan menggantinya dengan kesenangan. Aku begitu menikmati irama musik serta permainan cukup menguras stamina seperti ini, tidak seperti mengerjakan soal-soal tadi, apalagi menjalani kehidupan di sekolah.
FULL COMBO!
Aku mendapat full combo dalam stage pertama, sedangkan Laura hanya mendapat satu miss. Alih-alih merasa tergarami, Laura malah menatapku dan melompat-lompat sambil menyoraki.
“WAAAAH! Hebat! Kamu kayaknya udah berkembang nih!”
Cukup berlebihan, benar. Aku menggelengkan kepala dengan khusyuk menatap tingkah laku Laura. Ah, aku tidak percaya rivalku adalah seorang gadis seperti ini, sungguh tidak percaya.
Ya, stresku sehabis belajar sudah cukup terobati, seakan tidak akan ada UTS nanti.

Comments

Popular Posts