Alpinloch: Another World Episode 8



The Desert Town Monster IV

Ini bukan duniamu.
Kalimat itu telah Mark dengar dua kali ketika terjebak di dunia novel Alpinloch Kingdom, dua kali. Dia menggelengkan kepala ketika seluruh tubuh gemetar tanpa alasan selain menyaksikan mayat wanita yang dia temui secara ajaib berkata kalimat itu, kalimat yang tidak ingin dia dengar.
Mark memang ingin meneruskan jalan cerita Alpinloch Kingdom hingga akhirnya mendapat akhir yang bahagia dan memuaskan ketika harus rela masuk ke dunia itu. Tetapi, jika dia tidak berhak untuk berada di dunia novel Alpinloch Kingdom, dia bahkan tidak tahu bagaimana cara untuk kembali ke dunia nyata.
“Mark!” panggil Jason tegas. “Mark!”
Mark terbuyarkan ketika Jason memanggilnya. Dia memiliki urusan lain yang harus dia selesaikan sekarang juga, bukan hanya masalah penyerangan monster yang telah menghancurkan seluruh Sedona, tetapi juga penyerangan para pemberontak yang haus dengan kekayaan tambang emas dan juga ikut memperparah keadaan.
Mark kembali bangkit ketika menyaksikan sebagian rakyat Sedona yang masih bertahan hidup tengah memperjuangkan demi melindungi kota dari serangan para pemberontak. Jeritan dan tebasan pedang begitu nyaring dari kejauhan hingga meluncur ke dalam telinga.
“Anna!” Itulah ucapan yang terlontar dari mulut Mark ketika bereaksi menyaksikan kembali peperangan di depan mata bagaikan sebuah adegan perang.
Meski tahu bahwa dia dan Jason sama sekali tidak bersenjata, Mark mulai berlari tanpa berpikir apakah para pemberontak akan menyerangnya ketika menemui tatap muka. Baginya, yang paling terpenting adalah untuk menyelamatkan Anna dan membuat akhir cerita yang bahagia serta memuaskan.
“Mark! Tunggu!!” jerit Jason mengejar Mark.
“Anna! Justice! Mereka dalam bahaya!” jerit Mark.
Suara langkah lari Mark dan Jason ikut terdengar oleh para pemberontak yang tengah menyerang rakyat Sedona. Salah satu dari mereka memberi perintah untuk mengejar dan menyerang Mark dan Jason karena jumlah mereka cukup banyak. Empat orang pemberontak itu meninggalkan pusat medan perang dan memberi sinyak berupa penunjuk jari.
“Kalian, bunuh kedua wanita itu!” salah satu dari mereka menunjuk Anna dan Justice. “Kamu, ikut aku!”
Mark seakan-akan tidak lagi peduli dengan serangan para pemberontak yang masih memanas. Tenda-tenda yang roboh dan robek serta mayat-mayat manusia dan darah di pasir juga sama sekali tidak dia pedulikan.
Mark teralihkan ketika dia melihat dua orang pemberontak itu tengah berlari tepat menuju Anna dan Justice. Dia menjerit panik, “Anna!!”
“Mark!” jerit Jason terjatuh ketika terdorong oleh dua orang pemberontak yang menghampiri mereka.
Langkah Mark terhenti ketika dia menoleh ke belakang. Dia tertegun ketika salah satu pemberontak yang menghampiri mereka telah menjatuhkan Jason ke pasir, salah satu dari pemberontak telah menggulingkan dan menindih Jason.
“Jason!” jerit Mark.
“Jangan bergerak!” jerit salah satu pemberontak yang berdiri di hadapannya sambil mengeluarkan pedang.
Mark terhenti ketika menatap pemberontak yang berdiri di hadapannya telah mengayunkan pedang dan mengarahkannya pada Jason. Dia menggelengkan kepala kebingungan bagaimana menghadapi situasi terburuk ketika Sedona diserang, apalagi dia tidak membawa pedang sama sekali.
“Sekali bergerak, dia akan mati! Begitu juga denganmu!”
“Mark!” jerit Jason.
“Diam!” jerit pemberontak yang menindih Jason memukul tepat pada wajahnya.
Mark menatap dari kejauhan di dekat tenda di mana dia meletakkan pedangnya. Anna masih terdiam tidak mampu bergerak kecuali hanya menangis menatap Justice yang terluka di bagian dekat leher. Lebih buruknya, dua orang pemberontak kini berlari mengejar mereka.
Keringat Mark bercucuran ketika memutar kembali kepalanya, situasi terburuk sedang dia hadapi. Napasnya terengah-engah ketika memikirkan keputusan yang harus dia pilih, siapakah yang akan dia selamatkan terlebih dahulu, Anna dan Justice atau Jason.
Napas Jason terengah-engah ketika punggungnya tertindih oleh salah satu pemberontak, lebih buruk lagi, pedang pemberontak yang berdiri di hadapan Mark mengarah tepat padanya. Beruntung, Jason menyadari bahwa lengan kanannya bebas dari tindihan.
Mark kini membalas, “Kami memang bukan orang sini, tetapi perbuatan kalian seperti ini tidak dapat termaafkan!”
“Berani juga berbicara seperti itu, bocah! Kamu tahu, kalian semua sama seperti rakyat Sedona kebanyakan, kalian tidak berhak berada di sini sejak apa yang walikota dan raja Thais dari Alpinloch perbuat pada kami semua! Begitu juga dengan bocah bajingan sepertimu!” jerit pemberontak berpedang itu.
Mark membalas sambil memandang Jason menggerakkan siku kanannya demi membebaskan diri, “Kamu benar. Ini bukan kotaku. Ini juga bukan—"
Jason membenturkan siku kanannya dengan keras pada pinggang pemberontak yang menindihnya berkali-kali. Pemberontak yang menindihnya itu menjerit kesakitan tidak mampu menahan lebih lama. Jason pun bangkit berbalik memukul pemberontak itu hingga terjatuh ke pasir.
Pemberontak berpedang itu kini berbalik mengarahkan pedang pada Jason, ketika dia akan mengayunkan pedangnya, Mark berlari menyikut punggung pemberontak itu dengan keras hingga menjatuhkan pedangnya.
Jason yang telah bangkit ikut memukul dan menendang perut pemberontak itu berkali-kali. Kedua pemberontak itu tumbang akibat serangan Jason yang benar-benar tak terduga. Mark tertegun menyaksikan Jason mampu menyerang kedua pemberontak itu tanpa menggunakan panah dan busur.
Napas Jason terengah-engah ketika menatap kedua pemberontak yang dia serang sudah tidak lagi berkutik dan menjerit menahan rasa sakit. Mark masih saja terdiam menatap Jason yang berhasil melakukan perbuatan fisik dengan seluruh tenaganya.
“Anna!!” jerit Mark ketika menyaksikan kedua pemberontak berjalan menemui Anna dan Justice.
“Mark!!” jerit Jason mengikuti Mark.
Anna yang masih menatap Justice masih tidak sadarkan diri kini mengalihkan perhatian pada kedua pemberontak itu. Dia sudah tidak mampu berbuat apapun untuk menyerang kedua pemberontak itu. Jeritan Yael dan pemimpin pemberontak yang bertarung di dalam tenda ikut meledak di kedua telinga.
Salah satu pemberontak itu berkata sambil mengayunkan pedangnya, “Lihatlah, inilah si sang putri dari kerajaan Alpinloch yang telah hancur berantakan itu.”
Langkah Jason terhenti ketika dia melihat kayu yang terlepas dari tali tenda. Anna dan Justice sudah di depan mata dengan kedua orang pemberontak. Langkah Mark terhenti ketika dia menatap kedua pemberontak itu tengah akan membunuh Anna dan Justice dengan pedang.
“Mark!” jerit Jason bersiap untuk melempar kayu yang telah dia ambil sambil berlari mendekati Mark.
Jason menyipitkan mata untuk mengunci target lemparan kayu itu, seluruh tenaga dia kerahkan pada lemparan itu. Mark menatap Jason dan mengangguk menyetujui untuk mengalihkan perhatian kedua pemberontak itu.
“Kita bunuh saja?” tanya salah satu pemberontak itu.
Pemberontak berpedang tertegun ketika kayu lemparan Jason berhasil mengenai tepat pada kepala bagian kanan, alhasil, mereka berdua mengalihkan perhatian pada Mark dan Jason yang berdiri menatap balik.
“Hei!” jerit Jason. “Kamu mau lawan yang adil? Kami di sini!”
“Jason …,” ucap Mark.
“Keterlaluan!” jerit pemberontak berpedang mengalihkan langkah tepat menuju Mark dan Jason dengan rekannya.
“Tidak adil kalau lawan kalian wanita yang tidak berdaya, bukan?” teriak Jason memprovokasi.
“Kurang ajar si bajingan ini!” jerit sang pemberontak berpedang mempercepat langkah.
“Mark, larilah, temui Anna dan Justice!” perintah Jason.
Mark tertegun dengan ucapan Jason yang tak bersenjata sama sekali. “Apa?”
“Mark, lari!” jerit Jason ketika kedua pemberontak itu sudah menemui mereka.
Mark bergeser ketika menyaksikan Jason menghindari tebasan pedang dengan cepat. Mark menggelengkan kepala ketika Jason mencoba menyerang kedua pemberontak itu dengan tangan kosong, Tubuhnya sekali lagi mendarat di pasir dekat salah satu tenda penuh dengan darah.
Mark bangkit dan mulai berlari menemui Anna. Suara tebasan pedang kembali terdengar ketika para pemberontak semakin berjaya melawan rakyat Sedona yang kewalahan menghadapi kekuatan mereka. Tekanan kembali meningkat ketika dia mulai mendekati Anna dan Justice sambil menatap satu per satu korban kembali berjatuhan.
“Anna!” jerit Mark berlutut menemui Anna dan Justice.
Air mata Anna tetap menetes pada Justice yang tetap menahan rasa sakit tanpa perlu meringis menggunakan suara. Tubuhnya tetap gemetar ketakutan setelah menyaksikan dirinya berada di tengah-tengah medan perang.
Mark menatap luka pada Justice berupa tebasan yang mengeluarkan darah hingga mengotori pakaian terbukanya. Beruntung, Justice masih hidup ketika dia berusaha untuk menggerakan bibir menjadi sebuah senyuman.
Mark secara refleks mengalihkan perhatian pada tenda yang secara tiba-tiba robek akibat pertarungan antara Yael dan pemimpin pemberontak itu. Mereka berdua meneruskan pertempuran sambil melangkah keluar dari tenda melalui sobekan itu sambil menjerit.
Yael menangkis setiap tebasan pedang dengan gerakan tombak yang mengikuti refleks. Sang pemimpin pemberontak berambut panjang itu kewalahan ketika bertarung melawan seorang gadis dengan kekuatan di luar dugaan.
“Yael,” ucap Mark.
“AAAAAH!!” jeritan Jason terdengar ketika Mark kembali mengalihkan perhatian.
“Jason!!” jerit Mark menyaksikan Jason terjatuh terkena tebasan pedang yang mengenai pinggang kanannya.
Mark berlari kemasuki tenda yang telah robek akibat pertempuran Yael dan pemimpin pemberontak ketika jantungnya kembali berdetak cepat. Secara terburu-buru, dia mengambil pedang dari lantai tenda yang penuh dengan cipratan darah. Tanpa perlu melihat sekitar, dia meninggalkan tenda itu demi menolong Jason.
Jason mengigit lidah menahan rasa sakit yang dia terima ketika darah mulai menetes dari luka perut bagian kanannya. Telapak tangan kanannya juga menyentuh seraya menahan rasa sakit dan darah keluar dari luka itu.
Sang pemberontak yang telah menyerang Jason menyerahkan pedang pada rekan di dekatnya. “Dia milikmu. Serangan terakhir adalah milikmu.”
“Baiklah,” jawab rekan pemberontak itu seraya mengenggam gagang pedang.
Mark menjerit berlari mengayunkan pedangnya tepat pada kedua pemberontak itu. Sang rekan pemberontak yang telah memegang pedang tidak berkutik ketika berbalik menghadapinya. Tebasan pedang Mark sampai menjatuhkan pedang sang pemberontak itu.
Kedua pemberontak itu tercengang ketika Mark dengan cepat mengayunkan pedang tepat mengarah pada tubuh mereka. Salah satu pemberontak terjatuh ketika Mark berhasil mengenai bagian perut, darah terciprat sedikit. Sang rekan pemberontak berjalan mundur gemetar tidak tahu bagaimana cara menghadapi seorang pemuda yang berlagak seperti ksatria.
Api telah tertanam pada hati Mark ketika dia mengayunkan pedang berkali-kali pada pemberontak yang masih saja bertahan menghindari tangkisannya. Jason menyaksikan Mark berkali-kali mengerahkan seluruh tenaga demi mengalahkan pemberontak itu ketika masih menahan rasa sakit yang dia terima oleh luka pada pinggang kanan.
Pemberontak terakhir yang Mark hadapi akhirnya tumbang ketika mata pedang mengenai lengan kiri menghasilkan luka irisan. Dia menjerit seraya menahan darah yang mengalir keluar dari lengan kiri hingga mengotori bajunya.
Yael tetap mengayunkan tombaknya demi menangkis serangan mata pedang sang pemimpin pemberontak berambut panjang itu. Ketika dia menjerit mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkis pedang dengan keras, pedang sang pemimpin pemberontak terlempar ke samping.
Sang pemimpin pemberontak itu menajamkan mata ketika melihat pedangnya sendiri terjatuh akibat serangan Yael. Gadis bertombak itu melangkah mendekati sang pemimpin pemberontak yang tidak bisa berkata-kata seakan-akan dia telah terkalahkan.
“Mau apa lagi kamu? Membuat situasi kita semakin memburuk?” Yael menonjolkan ujung tombaknya mendekati tubuh sang pemimpin pemberontak.
Pemimpin pemberontak berambut panjang itu berteriak kepada semua anggotanya yang tengah menyerang masyarakat Sedona, “MUNDUR!” Dia juga mendorong tombak Yael dengan keras.
Pemimpin pemberontak itu berbalik berlari seraya mengundurkan diri dari peperangan yang terjadi di pusat kota Sedona. Beberapa anggota pemberontak juga akhirnya meluncurkan gencatan senjata dan berlari mengikuti sang pemimpin, meninggalkan beberapa rakyat Sedona yang tetap bertahan untuk berperang terdiam, sekaligus beberapa korban yang berjatuhan di pasir.
Anna menjerit sambil kembali mengeluarkan air mata. “Tolong! Tolong!”
Yael berlari menemui Anna dan Justice. “Astaga!”
Yael dengan cepat mengambil sebuah botol yang dia ambil dari tas pinggang, yaitu botol kecil berisi cairan berwarna merah demi menyembuhkan luka Justice. Dia membuka botol itu dengan keras, melepas tutup botol menyerupai gabus, sebelum mengusap luka Justice dengan cairan tersebut.
“Kamu akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja,” ucap Yael menghabiskan cairan itu untuk menutupi luka Justice dengan cepat.
“Ah!!” jerit Justice seraya menarik napas. “Ah ….”
“Jangan banyak bergerak dulu! Nanti lukamu akan terbuka kembali, kamu butuh banyak istirahat agar penyembuhannya sempurna, Beruntung lukamu tidak dalam.” tegur Yael pada Justice.
“Jason!” Mark berlutut menemui Jason yang tetap meringis menahan luka pada pinggang kanannya. “Sialan!”
Mark menatap darah yang keluar dari luka pinggang kanan Jason keluar begitu banyak dan merembes pada pakaiannya. Dia menggelengkan kepala setelah memastikan luka tebasan pedang yang Jason terima tidaklah ringan.
Satu per satu masyarakat Sedona yang telah berperang melawan para pemberontak berlari menemui Yael, beberapa dari mereka menemui Mark dan Jason. Kerusakan Sedona jauh lebih parah setelah para pemberontak menyerang. Beberapa tenda runtuh dan robek, serta korban semakin banyak berjatuhan. Darah juga mengotori jalan pasir pada kota itu.
***
Tenda yang tersisa akibat peperangan tidak begitu banyak untuk mampu menampung beberapa korban terluka. Beberapa rakyat Sedona yang terluka harus rela berbaring di luar tenda menahan hawa panas yang terpancar matahari.
Matahari kini telah meluncur menuju bawah langit meski suhu udara tetap terik, penderitaan tetap saja terpancar pada Sedona yang semakin menderita bukan hanya akibat monster, tetapi juga akibat serangan mendadak para pemberontak.
Satu per satu rakyat Sedona yang selamat tanpa luka-luka terpaksa membantu mengangani setiap korban terluka akibat perang melawan para pemberontak, hingga pada akhirnya persediaan ramuan dan dedaunan obat tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan.
Mark yang menatap kejadian mengenaskan dan kepanikan seluruh rakyat Sedona tidak menyangka bahwa kota padang pasir itu menjadi kota tempat penderitaan manusia. Kota padang pasir yang sebelumnya makmur dengan kumpulan tambang emas di setiap perbatasan kota kini menjadi kota penderitaan.
Ketika dia berbalik, dia menatap Jason dan Justice merupakan salah satu korban yang terbaring di tenda, berdekatan dengan beberapa korban lainnya. Setidaknya dua orang rakyat Sedona berlutut mengangani setiap korban yang terluka.
Anna tetap duduk terdiam menatap Jason dan Justice yang berbaring di hadapannya, masih gemetar terhadap apa yang baru saja terjadi. Para pemberontak yang semula telah terusir oleh raja Thais, ayahnya, telah kembali melancarkan penyerangan ketika seluruh penjaga dari kerajaan Alpinloch melarikan diri demi kembali ke kerajaan.
Mark berjalan menemui Anna yang masih meneteskan air mata. “Hei.” Dia berlutut ikut menatap Jason dan Justice yang masih terbaring. “Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja. Setidaknya kamu tidak terluka.”
“Aku … aku … tidak bisa melakukan apapun. Aku … tidak berguna,” Anna hanya berkata. “Aku hanyalah seorang … putri … dari … kerajaan Alpinloch …. Tapi, aku … tidak bisa apa-apa.”
“Hei, jangan bilang begitu. Kamu memegang hal yang penting, kamu akan mengatakan pada pemerintah kerajaan Haven tentang apa yang terjadi pada kerajaan Alpinloch, kamu memengang peran yang penting untuk menyelamatkan dunia dari raja Lucius,” Mark menasihati. “Anna, maafkan aku. Aku tidak ada di sana waktu itu. Di saat aku dan Jason mencari mata air, kamu dan Justice malah ikut diserang oleh para pemberontak.”
“Aku hanya bisa menawarkan uang, tapi … mereka tetap tidak mau. Mereka hanya ingin membunuh semua orang di kota ini. Apakah mereka menciptakan dendam terhadap kota ini hanya karena semua tambang emas di setiap perbatasan kota? Apakah memang mereka menyerang selagi kota ini sedang menderita?”
Jason membalas ketika mencoba untuk bangkit, “Uh … Anna, kita juga masih … belum tahu … tentang hal itu. AAAH!”
“Jason, tetaplah berbaring, lukamu masih belum sembuh,” ucap Mark.
“Yael!” jerit suara pria yang sudah tidak asing lagi bagi Mark.
“Lepaskan!” jeritan Yael terdengar begitu nyaring hingga Mark harus mengalihkan perhatian ke luar.
Mark bangkit ketika berkata pada Anna, “Aku keluar dulu. Kamu jaga Jason dan Justice, Anna. Pasti ada sesuatu yang terjadi di luar.”
Mark berbalik berjalan keluar dari tenda ketika menatap Yael tengah menjerit pada beberapa rakyat Sedona yang telah bertarung melawan para pemberontak. Dia dengan cepat melangkah ketika kedua orang yang pernah dia temui ketika berbicara rencana penyerangan monster siang lalu.
“Kenapa harus menunggu? Sampai kapan! Sampai kapan! Hah!” jerit Yael yang menggenggam tombaknya dengan erat. “Setelah melihat penderitaan kita semakin parah gara-gara pemberontak itu dan juga monster, apa kita ingin tetap menyaksikan kota kita hancur begitu saja? Apa kita mau menunggu sampai malam demi mengalahkan monster itu! Monster yang bersembunyi di tambang emas perbatasan barat daya kota!”
“Yael!” Mark berlari menemui kerumunan orang yang telah berkumpul di tengah-tengah kekacauan kota.
“Yael,” sahut sang walikota yang berjalan keluar dari salah satu tenda. “Apa maksudmu dengan menunggu sampai malam? Lihatlah! Lihatlah sendiri! Gara-gara kekacauan oleh para pemberontak, mayoritas dari rakyat Sedona sedang menderita! Mereka sedang terluka akibat serangan pemberontak yang memperparah keadaan!”
“Paman.” Yael mulai menunjukkan air matanya yang penuh dengan api. “Paman tahu kedua orangtuaku telah mati di tangan monster itu. Monster itu telah menghancurkan kehidupan di kota ini. Sekarang apa? Apa kita akan tetap menunggu? Apa kita akan tetap menyaksikan penderitaan akibat serangan para pemberontak!”
“Yael,” ucap sang walikota.
Mark mengambil alih untuk berbicara. “Yael ada benarnya, yang mulia. Kita tidak bisa lagi menunggu. Kalau kita biarkan saja, semakin banyak penderitaan yang akan datang. Kita juga tidak akan tahu kapan monster itu akan menyerang kembali. Maksudku, monster itu bisa saja menyerang kota ini kembali. Jadi, masalah ini harus segera diselesaikan sebelum masalah baru kembali muncul.”
Yael mengangguk setuju. “Paman, kumohon. Kita harus menghentikan monster itu. Kalau tidak, masalah ini takkan pernah selesai. Kita takkan bisa menggali lebih banyak emas kalau monster itu tetap di tambang emas sebelah barat daya perbatasan kota.”
“Yang mulia,” Mark mendukung keputusan Yael.
Sang walikota menjawab setelah mempertimbangkannya, “Baiklah, kita akan menyerang monster itu sekarang juga! Semuanya, yang secara sukarela menjadi relawan, kita akan mengalahkan monster yang bersembunyi di tambang emas di perbatasan barat daya kota!”
Salah satu dari ketua pasukan relawan itu memberi perintah, “Siapkan senjata kalian! Kalian, jaga kota dari para pemberontak! Kalian, ikut kami!”
“Ya!!”
Yael berkata pada Mark ketika beberapa pasukan relawan berpencar sesuai perintah, “Aku takkan berterima kasih padamu, meski sudah membantu.”
“Mengapa? Apa kamu tetap mencurigaiku?” tanya Mark.
“Aku …. Lupakan saja. Cepat ambil pedangmu!” perintah Yael.
Mark berlalu meninggalkan Yael kembali memasuki tenda di mana Anna tetap menatap Jason dan Justice yang tetap terbaring beristirahat. Anna mengalihkan perhatian pada Mark yang mengambil pedangnya di dekat anak panah dan busur milik Jason.
“Mark? Mau kemana?” tanya Anna penasaran.
“Aku ikut Yael dengan yang lain. Kami akan mengalahkan monster itu,” jawab Mark.
“Mark, bolehkah aku ikut?” tanya Anna yang menatap Mark berbalik tanpa mengenakan pauldron.
Mark berbalik menatap Anna. “Tidak usah. Kamu jaga Jason dan Justice. Kamu benar-benar bisa diandalkan untuk menjaga teman-teman kita. Aku akan kalahkan monster lalu mengantarmu ke kerajaan Haven.”
“Mark.” Anna kembali menatap senyuman Mark.
“Tidak apa-apa. Aku akan kembali. Besok, kita akan ke kerajaan Haven untuk meminta bantuan untuk masalahmu! Aku pergi dulu.” Mark melangkah meninggalkan tenda itu.
***
Mark, Yael, dan sang walikota bersama dengan tujuh orang relawan menghentikan langkah ketika menatap sebuah pintu masuk tambang emas mengarah menuju lantai bawah tanah. Jalan masuk tambang emas tersebut terlihat seperti menuju lantai bawah tanah.
“Ini adalah tambang emas terbesar yang kami punya. Kebanyakan kekayaan kami sebelumnya berasal dari tambang emas ini,” jelas sang walikota.
Yael melangkah memimpin pasukan relawan. “Kita masuk.”
Pasukan relawan, Yael, dan sang walikota melangkah terlebih dahulu memasuki tambang emas tersebut. Mark mengikuti dari belakang menyusul melangkah seperti menaiki sebuah tangga menuju lantai bawah tanah.
Lantai pasir seketika berubah menjadi lantai bebatuan dengan rel kereta ketika memasuki tambang emas tersebut. Dinding jalan tambang emas tersebut juga terbuat dari bebatuan dengan pembatas kayu.
Mereka terhenti ketika menatap kereta kayu telah terpecah belah di tengah-tengah rel yang mulai merapat setelah seperti menuruni bukit. Mark memperhatikan pecahan kayu berserakan di lantai bebatuan meninggalkan area rel. Pasukan relawan juga terhenti memperhatikan sekitar.
Yael dan sang walikota tercengang ketika lantai bebatuan bergetar secara mendadak, dinding juga ikut bergerak. Semuanya terhenti dan mengalihkan perhatian pada seluruh bagian ruangan.
“Whoa!” ucap Mark tertegun.
“Apa yang terjadi?” ucap salah satu dari pasukan relawan.
Tanpa perlu peringatan, lantai bebatuan dan rel kereta di hadapan mereka mendadak terpecah belah. Lantai bebatuan itu terjatuh menuju bawah tanah. Yael dan sang walikota memundurkan langkah ketika tercengang menatap kejadian itu.
“Apakah ini?” ucap sang walikota.
Mendadak, sebuah tangan kanan muncul mendarat di retakan lantai bebatuan tepat di hadapan mereka. Seluruh pasukan relawan mengeluarkan senjata untuk bersiap situasi terburuk yang akan mereka hadapi. Mark ikut mengeluarkan pedang bersiap dengan kemunculan monster itu di depan mata.

“Monster itu … di hadapan kita? Sekarang?” ucap Mark.

Comments

Popular Posts