While We Ran Away Episode 27


Sebuah Keputusan

Ketika langit berganti dari campuran warna oranye, biru, dan putih menuju hitam, yaitu waktu kami menenangkan diri dari perbuatan tanpa ampun dari Wilhelmina yang baru saja mencoba untuk membasmi, kami akhirnya tiba kembali di rumah Bu De Soraya setelah sekali lagi menggunakan taksi online.
Kami telah mencoba untuk diam, tanpa ada kata atau suara yang membahas Wilhelmina, di dalam taksi online yang kami tumpangi. Kami tentu tidak mau supir merasa iba begitu mendengar percakapan itu. Sena juga … menahan diri untuk berbicara, mungkin sehabis dia memendam sebuah trauma akibat tadi. Perjalanan pulang … terasa sunyi memasuki malam hari.
Setelah membyar ongkos taksi online, kami akhirnya kembali memasuki rumah. Tak lama, Sena langsung melesat menuju kamar Mbak Mila. Dia berlari melewati tangga sambil kembali meledakkan tangisannya, kejadian tadi masih membekas di dalam pikirannya.
Mungkin Sena hanya butuh waktu untuk sendiri, menerima situasi saat ini, begitu juga denganku. Aku melangkah pelan melewati tangga menuju kamar Bang Fandy. Lampu sama sekali tidak kunyalakan, kegelapan hanya yang kuinginkan sesuai kata hati sekarang.
Kubantingkan tubuh menuju tempat tidur, berbaring tengkurap, kepala menabrak bantal. Aku … masih memikirkan apa yang baru saja Wilhelmina lakukan, tega sekali menculik Sena sampai-sampai ingin membunuhnya, dia mencoba untuk membunuhku dan Bang Fandy juga.
Ketika kupikirkan kembali perkataan Wilhelmina saat bertemu semenjak melarikan diri dari rumah, itulah kenapa pikiran seperti terbanting dan terombang-ambing. Memang, yang kukatakan kejujuran atau kebenaran akan terungkap lama-lama, tapi … aku masih saja menyembunyikan fakta kalau aku melarikan diri dari rumah demi menghindari Ayah dan Wilhelmina pada Bu De Soraya, Mbak Shilla, dan Mbak Mila.
Memang benar, aku selama ini sering berbohong, Bang Fandy juga sering membantuku untuk mengatakan sebuah kebohongan pada Bu De Soraya. Kukatakan kalau Ayah memintaku dan Sena untuk menginap di rumah Bu De Soraya sebagai sebuah fakta yang benar-benar fiktif.
Untunglah, Ayah tadi pagi datang saat Bu De Soraya, Mbak Shilla, dan Mbak Mila tidak ada di rumah, hanya untuk menjemput paksa diriku dan Sena. Kalau saja mereka tahu kenyataan itu, aku … bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membela diri.
Kuletakkan tangan pada kedua mata, hanya ingin memaksa diri untuk terlelap ke dalam mimpi. Kalau bisa, aku hanya ingin menganggap kenyataan ini sebagai sebuah mimpi, tapi tidak bisa, inilah kenyataan.
“Yosh?” Kudengar suara Bang Fandy yang melangkah memasuki kamar.
Kudengar pula pijakan tombol lampu oleh jari Bang Fandy seraya menyalakan penerangan pada kamar. Mataku yang tertutup seperti terkilat kilasan cahaya merah begitu lampu telah menyala. Aku masih ingin berbaring, tidak ingin bangun dari tempat tidur.
“Yosh, kamu coba lihat.” Bang Fandy menepuk pundak kananku.
Aku menggerakkan kepala menatap Bang Fandy. “Bang, Yoshi mau sendiri dulu.”
“Yosh, ini penting, ayah kamu! Om Gunawan! Om Gunawan ditangkap!”
Aku tersentak bangkit menuju posisi duduk, Ayah telah ditangkap polisi? Lagi? Polisi telah menemukan Ayah di Surabaya? Tidak! Kenapa? Kenapa?
Kulihat judul artikel di salah satu situs berita terkenal yang terpampang pada layar ponsel Bang Fandy. Tidak! Kenapa? Perasaan apa ini? Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menerimanya lagi? Padahal … Wilhelmina seharusnya berada di posisi Ayah!
Aku … benar-benar ceroboh, sangat ceroboh. Ketika kupikirkan keputusan untuk melarikan diri dari rumah, tanpa perlu bantuan polisi, hanya karena aku tidak percaya dengan proses hukum di negeri ini, aku … pikiranku … lagi-lagi menumpuk menjadi sebuah badai.
“Yosh?” panggil Bang Fandy.
Aku menggelengkan kepala sambil mengeluarkan air mata. “Bang. Yoshi … kepikiran … kalau emang Bu De Soraya, Mbak Mila, sama Mbak Shilla tahu, tahu kalau Yoshi sebenarnya kabur dari rumah. Kalau aja Yoshi enggak bohong kayak gini … atau enggak … paling enggak nelepon polisi pas Sena di culik, atau enggak … pas mau kabur dari rumah, pasti enggak bakal jadi kayak gini.
“Yoshi juga pasti enggak bakal ngerepotin Abang. Abang udah rela bantuin Yoshi dari awal buat ngelindungi Sena, terus juga … repot-repot biarin Yoshi sama Sena numpang di kosan Abang, terus di sini, rumah Bu De. Maafin Yoshi, Bang. Maafin.”
Aku menempatkan tangan kanan pada mata, tidak dapat menahan hujan air mata yang semakin membasahi wajah. Aku benar-benar sudah tidak enak telah melibatkan Bang Fandy, apalagi ketika kami hampir mati terbakar hidup-hidup oleh Wilhelmina.
“Bang, Yoshi bakal nelepon polisi, ngejelasin semuanya yang udah terjadi.” Aku menghela napas sambil menutup wajah. “Ini udah kerasa sia-sia. Ibu tiri jadi tahu di mana kita. Yoshi enggak mau kalau dia bebas berkeliaran cari Sena. Sena enggak bakal aman.”
“Yosh, kamu yakin? Yakin mau lapor polisi soal ginian?” tanya Bang Fandy.
Aku menjawab setelah menarik napas, “Tapi … Yoshi enggak yakin apa ibu tiri … bakal dihukum sama polisi dan proses hukum. Yoshi juga enggak percaya … sama polisi, prosesnya lama, ujung-ujungnya … nanti malah bebas, yang enggak bersalah, malah disalahin.”
“Yoshi,” ucap Bang Fandy, “udah, coba dulu aja. Atau … mau bilang dulu ke Mbak Mila sama Mbak Shilla? Mau ke ibu Abang?”
Aku menggeleng. “Yoshi masih mikir gimana cara nyampaiinnya. Besok … kita ke rumah sakit lagi … atau … kita langsung ke polisi aja. Bang … bantu Yoshi … buat nyampaiin semuanya yang udah terjadi. Yoshi … makin enggak enak udah ngerepotin sama nyembunyiin semuanya.”
“Udah, Yosh, mending tidur dulu aja deh. Besok pagi kita pikirin aja baik-baik. Besok kita bilang semuanya ke Ibu, Mbak Mila, sama Mbak Shilla di rumah sakit.”
“Ah …. Aku udah pusing banget mikirin segalanya.” Aku kembali berbaring.
“Yosh.” Bang Fandy merangkul bahuku ketika berbaring. “Abang … mikir manggil polisi juga keputusan yang tepat, kita laporin Wilhelmina ke polisi besok.”
***
“Yosh! Bangun!” Bang Fandy menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Apa sih?” ucapku membuka mata.
“Wilhelmina ada di luar rumah! Dia SMS!” seru Bang Fandy.
Aku terhentak bangkit dari berbaring, kuambil ponsel Bang Fandy dari genggamannya dan membaca SMS itu. Saya tahu kalian ada di dalam situ! Saya di luar rumah Bu De Soraya!
Lagi-lagi … pikiranku … kembali penuh badai ketegangan, napasku juga mulai terengah-engah, mulutku juga terbuka tidak terkendali, aku … panik. Wilhelmina tahu kami telah kembali ke sini, rumah Bu De Soraya!
“AAAH!” jeritku melampiaskan semuanya.
“Yosh! Yosh! Udah, tenang!” Bang Fandy menahan ayunan kepalan tanganku.
Aku menggelengkan kepala tidak dapat menerima hal ini lagi. “Kenapa dia masih ngikutin sih! Padahal kita udah lolos! Dia mencoba untuk bunuh kita semua! Terutama Sena! Sena udah disiksa habis-habisan! Yoshi cuma pengen melindungi Sena, Yoshi cuma pengen kasih pelajaran sama Ayah sama Ibu. Tapi … ibu tiri … enggak mau capek-capek juga ngejar kita. Bahkan habis Ayah ditangkap polisi. Sekarang … dia di sini, terus … harus gimana lagi! Apa harus ketemu secara langsung sama bicarain lagi!”
“Yosh, ini saatnya!” Bang Fandy menepuk kedua bahuku. “Kita manggil polisi sekarang aja.”
Aku kembali menggeleng. “Enggak, Bang. Gimana—”
Suara bel rumah memotong perkataanku, begitu nyaring hingga aku lupa bahwa Sena mungkin baru saja bangun dan akan membuka pintu pagar. Entah kenapa … bel pun baru berbunyi sekarang, karena … sebelum bangun … sama sekali tidak ada bel.
“Yosh, kamu ke Sena. Bang Fandy bakal ngurusin ginian. Kamu yang manggil polisi aja. Ayo.”
***
Aku telah menghubungi polisi begitu kutemui Sena di kamar Mbak Mila. Kini … kami tengah berdiri di balik jendela dekat pintu rumah menyaksikan sebuah ledakan adu mulut antara Wilhelmina dan Bang Fandy.
Kulihat dari arah jendela, Wilhelmina semakin menunjuk-nunjuk Bang Fandy dan menjerit memaksa ingin masuk untuk menjemput Sena dan aku, terlepas apa yang kemarin dia perbuat, dari menculik hingga mencoba untuk membunuh kami.
“Tante, ini Fandy baik-baik lho! Fandy tahu apa perbuatan Tante sama Yoshi dan Sena, udah diceritain semuanya.”
“Enak aja! Apa-apaan kamu! Kamu ini fitnah!”
“Enggak, Tante! Itu yang terjadi sebenarnya! Mending Tante pergi aja dari sini—"
“MINGGIR!” jerit Wilhelmina meledakkan suara berapi-api. “MINGGIR! Saya mau jemput anak saya! Anak saya harus pulang!”
“Kak ….” Sena menarik kaosku sambil menggeleng. “Enggak mau, enggak mau pulang sama Ibu itu!”
“Sena, tenang, udah.” Aku menepuk punggung Sena mencoba untuk menenangkan.
“Sena! Yoshi! Buka!” bentak Wilhelmina mendekati pintu. “Udah kelihatan kalian di situ!”
“Tante, Fandy ngomong baik-baik lho!” Bang Fandy mencoba menghalangi dengan bergerak cepat membelakangi pintu. “Tante enggak dengar juga, Yoshi sama Sena enggak mau ketemu sama Tante lho.”
“Enggak bisa gitu! Saya ibunya! Suka atau enggak, enggak bakal ganti fakta bahwa saya yang bertanggung jawab untuk mereka!” bentak Wilhelmina lagi.
Sebuah langkah kaki tambahan turut mengagetkan kami, akhirnya … yang kami telah tunggu semenjak Bang Fandy menghadapi Wilhelmina di halaman rumah telah tiba. Kulihat tiga orang polisi berseragam melewati gerbang pagar mendekati Wilhelmina.
Salah satu dari polisi itu berkata ketika Wilhelmina berbalik menghadapi mereka, “Nyonya Wilhelmina, Anda ditahan karena kami mendapat laporan bahwa Anda telah memaksa masuk rumah tanpa izin.”
“Tu-tunggu! Ini apa-apaan!” Wilhelmina menolak ketika polisi berseragam itu menahan erat kedua tangannya.
“Anda berhak untuk diam.” Salah satu polisi memasangkan borgol pada kedua tangan Wilhelmina.
“Ini apa-apaan! Lepasin!” jerit Wilhelmina mencoba untuk melawan.
Kubuka pintu dengan rapat ketika Wilhelmina mulai terseret oleh polisi melewati gerbang pagar. Aku mengentakkan langkah dengan cepat mendekati polisi, aku hanya ingin menyampaikan hal yang belum kusampaikan lewat telepon sama sekali.
“Pak! Beliau yang telah menyiksa Sena. Beliau … juga coba buat bunuh kami,” ucapku.
“Ini salah paham, Pak! Dia bohong! Dia bohong!” jerit Wilhelmina saat dirinya tengah dipaksa masuk ke mobil polisi. “Enggak! Enggak!”
“Sena!” Bang Fandy kembali menemui Sena yang akhirnya kembali meledakkan tangisannya.
Ini semua … sudah berakhir … untuk sekarang. Wilhelmina tidak akan mengganggu kami lagi, sampai rela untuk membuat kami semua tewas seperti kemarin. Beban dalam pikiranku … sedikit terangkat ketika menyaksikan Wilhelmina berada di dalam mobil polisi sebagai tahanan baru.

Comments

Popular Posts