While We Ran Away Episode 32 (FINALE)


Enam Bulan Kemudian

Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, silih berganti. Tidak terasa, waktu seperti melangkah lebih cepat daripada langkah setiap orang di jalanan. Beradaptasi dengan situasi baru memang tidak mudah, apalagi jika menjalani kehidupan baru tanpa pengawasan orangtua sama sekali.
Setelah Bang Fandy kembali ke Jogja untuk memulai kuliah semester genap, aku benar-benar harus repot dalam bertanggung jawab, aku seperti seorang kepala keluarga, figur sang ayah bagi Sena. Mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, menyepel, dan mencuci hingga harus mempersiapkan makan malam yang masih harus beli di luar atau delivery.
Aku juga harus mengantar Sena ke sekolah pagi-pagi sekali menggunakan sepeda motor. Pagi-pagi memang biasa, macet di mana-mana, bahkan setelah mengantar Sena. Aku pun rela menghadapi kemacetan saat perjalanan ke sekolahku sendiri.
Kalau urusan uang, Bu De Soraya mengirimkanku uang dengan jumlah nilai lumayan untuk menjalani kehidupan baru tanpa orangtua, setidaknya untuk kebutuhan sehari-hari. Beliau juga yang mengurus iuran sekolah per semester penuh.
Bang Fandy, sesuai yang telah dia bilang, rela bolos kuliah hanya untuk membantu kami di rumah, meski tidak begitu sering frekuensinya karena dia dapat jatah bolos tiga kali pada masing-masing mata kuliah. Dia rela bolos seminggu penuh, meninggalkan jadwal kuliah dan latihan badminton, sebagai gantinya, tugas-tugas dia kerjakan di rumahku.
Bukan cuma Bang Fandy, tapi juga Mbak Mila yang sering datang kemari hanya untuk membantu-bantu. Dia juga punya banyak waktu luang selain mengerjakan skripsi dan bimbingan dosen. Dua atau tiga minggu sekali dia datang berkunjung jauh-jauh dari Surabaya selama rentang tiga hari hingga seminggu, tidak peduli betapa mahal harga tiket transportasi dari Surabaya.
Pernah sekali, Mbak Mila memergoki Bang Fandy yang rela bolos pada sekitar pertengahan semester saat datang, entah kebetulan atau bukan. Akhirnya dia hanya memberi Bang Fandy teguran.
Kudengar juga kabar tentang Bina dari Bang Fandy. Bina masih menjalani rawat jalan di rumah sakit, dia juga masih harus rutin minum obat resep dari dokter dan atur pola makan dengan benar. Secara berangsur, kondisi Bina sudah tidak lagi memprihatinkan daripada sebelumnya, dia mulai terbuka pada Bu De Soraya, Mbak Shilla, dan bahkan Mbak Mila di rumah.
Berbicara tentang rutin konseling, aku juga harus mengantar Sena ke KPAI secara rutin setidaknya seminggu sekali setelah pulang sekolah. Memang, tujuannya untuk membuat Sena dapat melepas segala beban yang dia dapat saat menjadi korban sang ibu tiri, Wilhelmina.
Tidak terasa, sudah enam bulan berselang, aku telah naik kelas, begitu juga dengan Sena, saat kami mendapatkan rapor semester genap. Mbak Mila juga akhirnya lulus sidang skripsi dan tinggal menunggu jadwal wisuda. Bina juga naik kelas meski masih dalam proses penyembuhan.
Bang Fandy pun akhirnya rela kembali ke rumah dan menghabiskan waktu liburannya untuk membantuku dan Sena. Sekali lagi, membantu membereskan urusan rumah. Bahkan, Bang Fandy sering memasak, katanya dia sudah belajar dari beberapa resep dari internet.
Enam bulan, entah terasa singkat atau lama, yang penting sudah kulalui, tanpa ada dampingan orangtua sama sekali. Hanya ada aku dan Sena di rumah, kadang-kadang juga Bang Fandy dan Mbak Mila yang mengunjungi untuk membantu.
Oh ya, terakhir kali aku mendengar Ayah yang mendekam di penjara ketika dirinya memutuskan untuk menggugat cerai Wilhelmina tak lama setelah sidang kasus korupsi selesai. Ayah sudah sadar bahwa dia telah menikahi orang yang salah, wanita seperti serigala di balik bulu domba.
Ayah juga akhirnya divonis tidak bersalah dalam kasus korupsi, tidak bersalah, berarti tidak perlu ada tambahan waktu untuk.mendekam di penjara. Kini Ayah hanya punya waktu dua tahun sebelum diperbolehkan untuk keluar dari penjara dan kembali bergabung bersamaku dan Sena.
Vonis kasus korupsi memang berat, kalau itu terjadi pada Ayah, kami harus menunggu dalam waktu yang lama. Syukurlah, Ayah memang tidak bersalah dalam kasus korupsi, tapi … itu hanya menurut pada hakim dan beberapa bukti serta kesaksian yang ada.
***
Sabtu, sehari setelah mengambil rapor sekaligus hari pertama liburan sekolah, Bang Fandy, Sena, dan aku akhirnya dapat mengunjungi Ayah di penjara, demi mendengar kabar bagaimana dirinya setelah menceraikan Wilhelmina dan divonis tidak bersalah dalam kasus korupsi.
Kami hanya punya waktu lima menit untuk berbicara pada Ayah yang tengah di balik jeruji besi, waktu yang tidak sedikit, tapi harus kami manfaatkan, demi berbixara pada Ayah.
Petugas pun juga turut mengawasi kami agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan sekaligus menjadi pengingat waktu. Dia berdiri di samping kami yang tengah menatap Ayah di balik jeruji besi.
“Yoshi? Sena? Fandy?” Ayah memanggil kami.
“Ayah, “ panggil Sena.
“Om,” ucap Bang Fandy.
Kulihat tangan Ayah mulai melewati celah jeruji besi menuju pipi Sena. Saking merindukan kami dan saking menyesal akan perbuatannya terhadap Sena, air mata mulai mengalir menuju pipi Ayah.
“Maaf … maafin Ayah, Sena. Maafin udah enggak percaya sama kamu,” Ayah mulai meminta maaf sambil menunjukkan sebuah penyesalannya, “Ayah … terlalu buru-buru menyimpulkan apa kata kamu, Sena. Ayah kira kamu bohong tentang Ibu, Sena, ibu barumu. Ayah … waktu itu enggak percaya kalau Ibu yang culik kamu.”
“Ayah ….” Sena menundukkan kepalanya sebelum kembali menatap Ayah. “Enggak apa-apa, Yah. Ayah masih ayah Sena sama Yoshi. Sena pengen Ayah cepat keluar ….”
“Sabar ya, Sena. Tinggal sekitar dua tahun lagi Ayah keluarnya ….”
Aku memanggil, “Yah. Yoshi juga kangen Ayah …. Yoshi … ngerasa di rumah … enggak sama kalau enggak ada Ayah.”
Ayah menepuk kepalaku. “Yoshi, kamu udah besar, udah naik kelas tiga SMA, bentar lagi … kamu akan kuliah, Nak, kamu juga harus lebih dewasa, tanpa ada Ayah.”
“Yoshi tahu, Yah. Tapi … Yoshi juga repot sendiri.”
“Yoshi, kamu juga jadi yang bertanggung jawab, semakin bertanggung jawab. Ayah sama Ibu udah enggak ada di rumah …. Ayah harap kamu bisa jadi lebih mandiri, biar kamu bisa siap di kehidupan bermasyarakat. Hidup.mandiri di kehidupan bermasyarakat itu berat lho.”
“Iya, Yah. Yoshi pasti bakal belajar banyak. Yoshi janji … Yoshi bakal lulus tahun depan. Yoshi juga usahain … bakal kuliah di negeri (perguruan tinggi negeri).”
“Mau negeri atau swasta, yang penting kamu bisa kuliah. Nanti … tanya sama Bu De Soraya aja buat biayanya ya.” Ayah pun kini menatap Bang Fandy. “Fandy … makasih udah bantuin Yoshi di rumah ya.”
“Lho, enggak, Om. Fandy juga tergantung situasi juga, ya, ngebantu juga enggak sering-sering amat. Ada Mbak Mila juga yang seenggaknya lebih sering.ke rumah Yoshi daripada Fandy sendiri, sambil nyelesaiin skripsi juga.”
“Syukurlah.”
“Om, maafin Bang Fandy ya, pas waktu itu, pas Sena diculik, emang Om enggak tahu apa-apa.”
Ayah menggeleng. “Enggak, Fandy. Om yang harusnya minta maaf.” Dia pun akhirnya berpesan mengingat waktu kunjungan semakin menipis. “Yoshi, Fandy, Sena … kalian … yang rukun ya, saling bantu, jangan malah diam-diaman. Ayah suka kalian akrab begini, terutama Yoshi dan Fandy juga. Ayah tahu Yoshi sama Fandy udah dekat dari kecil, kuatkan tali persahabatan kalian. Satu lagi, jangan sampai mau mewah-mewahan, tetaplah hidup sederhana, enggak peduli berapa banyak uang yang kalian punya—”
“Waktu habis!” sahut petugas menenui kami.
“Yah, baik-baik ya,” ucap Sena.
“Yah … nanti kapan-kapan kita ke sini lagi,” ucapku sebelum meninggalkan jeruji besi dengan Sena dan Bang Fandy.
“Hati-hati di rumah ya. Saling jaga,” ucap Ayah pamit.
***
“Kak,” panggil Sena.
“Kenapa, Sena?” tanyaku ketika kutemui dirinya yang tengah duduk di meja makan, menunggu nasi goreng buatan Bang Fandy.
Aku pun mulai duduk menghadap Sena di meja makan yang tengah kosong, seperti saat kami menunggu agar makanan dari delivery atau takeaway tengah disiapkan, bedanya … tidak ada lagi Ayah dan Ibu di rumah.
Menunggu Bang Fandy selesai memasak … memang terasa seperti menunggu mendiang Ibu memasak di dapur, ya, seperti dulu lagi. Saat Bang Fandy atau Mbak Mila tidak berkunjung ke rumah, aku juga belajar bagaimana caranya memasak, hanya mengandalkan resep dari internet, baik berupa teks atau video. Kalau memang malas membeli bahan makanan, kami andalkan makanan takeaway dari restoran atau delivery.
“Sena … jadi ingat pas kita kabur dari rumah, pas kita bela-belain ke Jogja, terus ke Surabaya juga. Enggak diantarin sama orangtua.” Sena mengulum senyuman. “Ya … meski kita kabur dari Ayah sama Bu Wilhelmina … Sena juga mikirin hal-hal positif. Sena bersyukur banget … ada Kakak sama Bang Fandy.”
“Ya, Kakak juga jadi dapat pelajaran berharga. Kakak juga bisa jadi lebih mandiri sama bertanggung jawab. Kakak juga udah tanggung jawab buat kamu lho, Sena.”
Bang Fandy akhirnya tiba dari dapur membawakan tiga piring nasi goreng, layaknya seorang pelayan di restoran. “Nih, nasi gorengnya udah jadi.”
“Asyik! Nasi gorengnya Bang Fandy enak banget. Paling enak malah!” seru Sena ketika Bang Fandy meletakkan ketiga piring nasi goreng di atas meja makan.
“Lho? Katanya … nasi goreng buatan Ibu paling enak. Maksud Kakak, buatan mendiang Ibu,” aku mengingatkan.
Sena pun geli. “Hihi, sama enaknya deng. Nasi goreng Bang Fandy sama enaknya kayak buatan Ibu dulu.”
Bang Fandy pun tertawa ketika menempati kursi dekat Sena dan diriku. “Ha ha, Sena, Sena, bilang aja nasi goreng buatan Abang paling enak.”
“Oh ya, Bang Fandy, Kak Yoshi. Sena … pengen bilang … jadi pengen balik ke Jogja, terus ke Surabaya. Pengen ketemu sama Kak Stella sama Kak Richard di kosan Bang Fandy.  Pengen ketemu sama Bu De Soraya, Mbak Shilla, sama Mbak Mila juga di rumah Bang Fandy.”
Bang Fandy berkata, “ Iya deh, nanti … kita liburan ke sana ya, kalau Ibu kasih banyak uang. Nanti Abang minta uang lebih deh biar kita bisa ke sana.”
Aku memukul pelan pundak Bang Fandy. “Mending sekarang aja lah. Mumpung baru libur kok.”
“Oh ya, Kak, Bang, kalau Sena bisa ke masa lalu, Sena pengen bilang ke Sena yang waktu itu, kalau dia bakal baik-baik aja, kayak Sena sekarang.”
Aku tertawa. “Ha ha, seenggaknya kamu udah melalui semuanya. Kita semua udah melalui semuanya.”
“Kalau kita hapus segala yang menyakitkan, setidaknya … pergi ke luar kota, enggak diantar Ayah sama Ibu … bakal jadi kenangan yang paling menyenangkan. Sena bisa kenal teman-teman Bang Fandy juga. Sena bisa ketemu Bu De Soraya lagi, bisa makan masakan buatan Mbak Shilla sama Mbak Mila juga.”
Bang Fandy menganggapi, “Oh ya, Sena, yang penting … kita hadapi aja sekarang. Nanti tiap pelajaran sama nasihat yang kamu dapat bakal jadi pengalaman hidup, bakal berguna pada masa depan.”
Aku mengangguk. “Iya, benar. Oh ya. Ayo makan gih. Entar keburu dingin.”
Aku benar-benar bersyukur, setelah semuanya yang telah terjadi, kami masih bisa menjalani kehidupan normal meski ada beberapa kekurangan. Mungkin tidak seperti dulu lagi, tapi aku, bukan, kami akan membuat beberapa kenangan baru yang dapat menekan kenangan menyakitkan dan yang tidak ingin kami ingat sama sekali.
Ini akan mulai menjadi kenangan baru, mulai dari sekarang.


TAMAT

Terima kasih telah membaca While We Ran Away hingga akhir. Semoga kalian menikmatinya.

Comments

Popular Posts