While We Ran Away Episode 31


Inilah yang Namanya Keadilan

Hanya tinggal sehari sebelum sidang berikutnya berjalan. Sial, aku masih memikirkan kata-kata apakah yang akan kulontarkan saat bersaksi besok. Aku sampai mengelilingi rumah memikirkan bagaimana kalau pengacara itu akan menggunakan senjata kata-kata demi melindungi Ayah dan Wilhelmina.
Kulihat Sena tengah menonton TV, acara kartun di salah satu channel nasional, tidak berkata apa-apa, bahkan tertawa sedikit pun. Memang aku harus bersaksi demi keselamatan Sena, tapi … dia juga harus bersaksi.
Ada dua kendala, pertama, Sena masih benar-benar di bawah umur, masih usia anak-anak, jadi dia tidak boleh dibawa ke persidangan secara langsung hanya untuk bersaksi; kedua, Sena masih tidak ingin menjawab setiap pertanyaan dari perwakilan KPAI, padahal dengan menjawab pertanyaan seperti itu, mungkin akan membantu hakim untuk mendapatkan sebuah keadilan dan kesimpulan.
Suara ketukan pintu menghentikan segala pemilihan kata-kata dalam pikiran. Kulewati ruang tamu dari ruang makan. Begitu kulihat ke arah jendela, Bu De Soraya, Mbak Shilla, Mbak Mila, dan bahkan Bina telah berdiri di depan pintu. Bu De Soraya terlihat baru saja mendekatkan kepalan tangan pada pintu.
“Yoshi,” sapa Bu De Soraya begitu kubukakan pintu.
“Eh, Bu De. Tumben ke sini, jauh-jauh dari Surabaya.”
“Ibu sama Mbak Shilla udah cuti, mumpung saya juga lagi libur,” jawab Mbak Mila padaku.
“Oh ya, Bu De sama Mbak Shilla, Mbak Mila mau ketemu Sena dulu nih. Oh ya, Bina katanya mau ngomong sama Yoshi, sama Mas Fandy juga,” ucap Bu De Soraya.
Rasanya cukup canggung ketika aku berhadapan dengan hanya Bina, apalagi ketika Bu De Soraya, Mbak Shilla, dan Mbak Mila menemui Sena yang sedang menonton TV. Aku terdiam sesaat ketika menatap Bina berdiri di depan.
Kulihat juga beberapa jahitan pada pergelangan tangan Bina, sebagai penutup luka akibat mengiris tangannya sendiri. Bisa kubilang, dia benar-benar beruntung tidak dead on arrival di rumah sakit, meski darahnya sudah berserakan di lantai kamarnya waktu itu.
“Lho, Bu?” kudengar Bang Fandy menyapa Bu De Soraya.
Katanya Bina bukan hanya mengalami depresi, tetapi juga gangguan makan. Kondisinya mungkin diakibatkan bukan hanya kematian ayahnya, tetapi juga tekanan dari manapun, mulai dari orangtua hingga sekolah, kalau bukan kekerasan fisik, kekerasan verbal yang menjadi penyebabnya.
Kalau tidak salah, Bang Fandy bilang Bina kena anorexia nervosa, berarti tidak makan sama sekali atau hanya makan sedikit, tujuannya menjadi sekurus mungkin, bahkan sampai berat badannya sangat rendah. Terkadang, Bina juga sering memuntahkan makanan yang telah dia makan sebelum mengiris pergelangan tangannya sendiri.
Melihat kulit Bina, terutama lengannya, sedikit terisi daripada saat pertama kali menemuinya. Seingatku, badan Bina tidak begitu mirip dengan kondisinya sekarang. Bina pasti sudah memulai perawatan rutin ke psikiater mengingat dia sudah boleh pulang sebelum akhir tahun. Dia harus mematuhi beberapa saran dari sang psikiater sekaligus meminum obat secara rutin agar perawatannya berjalan lancar.
Aku mempersilakan dengan terbata, “Um … mending duduk … aja dulu.”
“Yosh, Bina.” Bang Fandy menemui kami di ruang tamu.
“Bang. Duduk aja, Bina mau ngomong sama kita.” Aku menepuk tempat kosong di dekatku begitu mulai duduk di sofa.
Kulihat pada arah jendela juga, langit pun mulai kehilangan cahaya oranye menuju sebuah taburan gagap gempita pada gelap gulita. Jalanan depan rumah pun mulai memancarkan cahaya putih sebagai penerangan melalui lampu neon.
“Oke. Bina,” sapa Bang Fandy setelah mulai duduk di sampingku.
“Mas Fandy, Mas Yoshi. Gue ingat … gue ingat apa yang gue bilang sebelum coba buat mati. Gue … marah banget, iri malah sama Mas Yoshi. Mas Yoshi … gue enggak nyangka … kenapa lo sampai jauh-jauh ke rumah Bu De bareng Sena. Harusnnya … bilang dari dulu kalau sebenarnya … Sena udah disiksa sama Tante Wilhelmina. Tapi … gue kayaknya enggak bisa ngubah fakta kalau gue bakal marah-marah waktu itu.
“Mas Fandy … gue tahu lo marah banget sama gue, gue udah enggak tahan lagi sama semua tekanan di rumah, di sekolah, sampai-sampai gue pengen ngatain yang sebenarnya gimana lo. Lo mungkin emang cuma anak pungut, tapi … Ibu tetap sayang kamu layaknya anak sendiri. Gue emang lagi marah, pengen ngelepasin semua tekanan, sampai-sampai gue bilang kata itu ke lo, Mas Fandy.”
Kulihat mata Bina mulai berbinar-binar selagi menarik napas dalam-dalam. Segala hal yang dia pikirkan benar-benar terpampang pada wajahnya, kulihat sebuah tekanan menguasai pikiran dan air mukanya.
“Mas Fandy marah kan pas gue bilang gitu, sampai bentak gue segala. Gue … emang mendam tekanan sama marah ke Ibu. Apalagi habis Ayah meninggal, kepikiran terus kalau Ibu bakal bilang nilai semua pelajaran enggak boleh jelek, harus bagus. Gue udah coba berkali-kali belajar biar nilainya bagus, biar Ibu senang, gue enggak perlu bikin Ibu permasalahin nilai jelek yang gue dapat. Tapi … gue juga pengen jadi cewek yang sempurna, nilai bagus sama cantik, langsing, dan ideal.
“Mas Yoshi, Mas Fandy … gue tahu … lo enggak mau maafin gue. Jadi … gue udah bilang gini udah cukup, gue … udah bilang … gue pengen minta maaf. Lo … enggak perlu maafin gue.”
“Bina,” Bang Fandy mulai buka suara, “kamu enggak perlu mikir kalau Mas Fandy sama Mas Yoshi enggak bakal maafin kamu. Mas Fandy emang anak pungut. Mas Fandy emang bukan dari darah Ibu, tapi … seenggaknya Mas Fandy sendiri masih tetap jadi kakak kamu, Bina. Kamu juga masih punya keluarga yang bisa maafin kamu. Bu De Soraya, Mbak Shilla, sama Mbak Mila juga udah maafin kamu sekalian minta maaf udah bikin kamu jadi gini.
“Apapun yang terjadi, keluarga pasti bakal sayang kamu, selalu. Mungkin cara penyampaian kata-katanya ke Bina … masih kurang tepat kalau emang nunjukkin rasa sayang. Mas Fandy juga minta maaf udah sampai marah banget, soalnya Mas Fandy juga tersinggung sampai nampar. Mas Fandy tetap anggap Bina sebagai adik sendiri.”
Aku akhirnya berbicara pada Bina, “Ya, Yoshi juga enggak pernah bilang kalau situasi di rumah sekarang … emang lagi abusive. Yoshi juga kaget sama perilaku Bina. Yoshi waktu itu enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bina. Intinya, Yoshi juga minta maaf udah sampai ngerepotin, terus juga bikin marah Bina sendiri. Jujur, Yoshi juga enggak tahu gimana mau bicara ke Bina.”
Bang Fandy kembali berkata, “Bina, nanti … kalau kamu dapat nasihat dari Ibu, Mbak Shilla, Mbak Mila, atau enggak Mas Fandy sendiri, mending kamu terima aja, jangan tolak pakai marah. Ya, kalau enggak bisa nahan marah, mending kamu pikirkan kembali bagaimana nasihat itu sebenarnya baik buat kamu ke depannya. Keluarga di sini … pengen ngebantu kamu buat lebih baik.”
“Mas Fandy, Mas Yoshi.” Bina kembali meledakkan seluruh emosi. Tangannya mulai menutupi wajah sambil membungkukkan badan.
“Bina.” Bang Fandy bangkit menemui Bina.
Bina mulai menjerit, melampiaskan segala pendaman emosi dari dalam lubuk hatinya. Memang begitu berat untuk meminta maaf, apalagi demi mengatakan sebuah kejujuran. Jujur … itu memang susah. Kita memang terpengatuh agar kita mudah berbohong agar tidak melukai oang yang kita cintai dalam jangka pendek, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
***
Pada sidang berikutnya, Bu De Soraya, Mbak Shilla, dan Bina juga ikut menghadiri ruang sidang untuk menonton, mendampingiku dan Bang Fandy. Mereka berada di barisan belakang kami berdua selagi memperhatikan persiapan sidang.
Aku juga masih memikirkan apa saja yang kukatakan sebagai seorang saksi, harus mengatakan sebuah kejujuran tetapi tanpa harus membuat sang pengacara menantang setiap pernyataan. Sistem peradilan seperti ini … memang mengandalkan testimoni, tetapi … testimoni itu bisa terbantah oleh sebuah kebohongan yang menutupi sebuah kebenaran.
Kulihat jaksa penuntut umum mengumumkan, “Kami memanggil korban Sena untuk bersaksi lewat live feed.”
Pengacara bangkit dengan cepat dan menyatakan, “Keberatan! Korban masih di bawah umur, tidak sepatutnya korban yang masih anak-anak menjadi seorang saksi dalam persidangan.”
Jaksa penuntut umum membalas, “Meski korban masih di bawah umum dan tidak patut menjadi saksi, ada baiknya kita mendengar sebuah kesaksian dari korban, demi memperlancar sidang, agar semua dapat terselesaikan dengan cepat. Melalui pihak KPAI, korban telah bersedia untuk bersaksi. Alih-alih menghadirkan korban secara langsung dalam persidangan, korban dapat bersaksi langsung di kantor KPAI.”
Hakim pun mengumumkan, “Ditolak. Kuasa hukum, silakan kembali duduk.”
Layar proyeksi kini menunjukkan wajah Sena yang tengah duduk di sofa hitam membelakangi papan nama KPAI, menandakan bahwa dia sedang berada di ruang utama gedung KPAI. Sang jaksa menatap layar setelah petugas menyerahkan mikrofon agar bisa berkomunikasi secara langsung.
“Selamat pagi, Sena. Kami dari jaksa penuntut umum. Anda … telah menyatakan bahwa Anda bersedia untuk bersaksi dalam persidangan ini. Kami berharap kamu dapat menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan. Saya ingin bertanya sekali lagi, apakah kamu bersedia untuk bersaksi?”
Sena mengangguk. “Ya.”
“Sena, apakah … ibumu pernah memukulmu?”
“Ya.”
“Bisakah … kamu menceritakan kapan dan di mana terakhir kali ibumu memukul?”
Keheningan, Sena memutuskan untuk menutup mulut ketika pertanyaan itu terlontar. Berarti … kalau Sena memang belum mau memberi kesaksian, semuanya … tergantung kesaksianku dan perlawanan pada sang pengacara. Kedua tangan kukepalkan di atas lutut.
“Kalau begitu, saya tanya satu per satu saja.” Sang jaksa mengambil selembar kertas tulisan. “Sehari sebelum kamu melarikan diri dari rumah dengan Yoshi, kakakmu, kamu dipukul dengan sapu lidi di kamar. Apa itu benar?”
“Pak. Saya … sudah menceritakan ini ke ayah saya, tapi … ayah saya tidak mau percaya dengan saya. Kenyataan ibu tiri saya. Selain Kak Yoshi dan … Bang Fandy, Bapak … enggak bakal bilang Sena bohong, kan? Semuanya … enggak bakal bilang Sena bohong?”
“Sena.” Sang jaksa mencoba meyakinkan. “Kami di sini ingin bantu kamu, kami tidak akan menghakimi, kami tidak akan bilang kalau yang kamu katakan jujur atau bohong, benar atau salah. Kami tidak akan menilai apakah kamu benar atau salah, yang penting … kamu jawab pertanyaan dengan jujur saja, itu sudah bisa membantu proses persidangan.”
“Itu yang sudah Sena coba bilang ke ayah saya. Sena udah jujur sama ayah saya soal ibu tiri, tapi … Ayah bilang kalau Sena bohong. Ayah bilang … kalau Sena enggak boleh nakal sama Ibu, enggak boleh bohong sama ngatain jelek tentang Ibu.
“Sena … waktu itu ... mikir … kalau Bu Wilhelmina … bisa sama kayak Ibu yang udah meninggal. Ayah bilang … habis nikah sama Wilhelmina, kita … bisa jadi keluarga utuh, keluarga yang bisa bahagia lagi. Ayah senang, Bu Wilhelmina senang, Kak Yoshi senang, Sena juga senang.
“Tapi … lama-lama, Bu Wilhelmina jadi … sering kasar sama Sena, apalagi … pas Kak Yoshi sama Sena enggak ada di rumah. Bu Wilhelmina … sering banget marahin Sena kalau salah, sampai Sena sendiri dipukul, diejek, sama … dihina.
“Sena udah coba bilang ke Ayah … tapi … Ayah malah nuduh Sena bohong sama ngejelek-jelekin Bu Wilhelmina. Habis itu … Bu Wilhelmina jadi sering mukul Sena, mukul pakai sapu lidi. Apalagi pas Jumat sore waktu itu … Bu Wilhelmina nuduh Sena mencuri uang, padahal bukan Sena yang nyuri, Sena enggak pernah ngambil uang dari Bu Wilhelmina. Lalu … Ayah datang.”
Kulihat sang pengacara terdiam tanpa kata begitu mulai mendengar penjelasan dari Sena. Ayah juga terlihat menundukkan kepala, memalingkan wajah menuju kolong meja. Wilhelmina … menggetarkan kedua tangan yang tengah dia kepal di atas meja.
“Ayah … juga nuduh Sena udah curi uang Bu Wilhelmina. Ayah … ikut mukul Sena pakai sapu. Sena udah bilang Sena … enggak curi uang, tapi … Sena malah dipukul terus sama Ayah di kamar. Terus … pas malam … Kak Yoshi datang, terus bawa Sena ke rumah sakit. Yoshi sama Sena … kabur dari rumah ke Jogja buat ketemu Bang Fandy, terus ke Surabaya buat tinggal di rumah Bu De Soraya. Kak Yoshi ngajak Sena kabur … karena biar Sena aman.
“Tapi … ternyata … Bu Wilhelmina datang ke Surabaya …. Bu Wilhelmina … menculik saya di rumah sakit.” Sena mulai menarik napas cepat-cepat ketika air matanya mulai mengalir menuju pipi. “Sena … dibawa … ke bangunan gelap … terus … disiksa. Terus … Bu Wilhelmina menelepon Bang Fandy dan Kak Yoshi … kalau dia bakal bunuh Sena, dia ngancam saya bakal mati.
“Pas Bang Fandy dan Kak Yoshi datang buat nyelamatin Sena … Bu Wilhelmina bakar bangunan pakai bensin sama api. Sena … bersyukur masih hidup. Bu Wilhelmina … ingin … saya mati …. Kenapa?”
Sena akhirnya menutup wajah ketika dia mulai terisak mengeluarkan segala beban sehabis mengungkap semuanya demi persidangan. Napasya cepat ketika dirinya melampiaskan segala kesedihan melalui sebuah tangisan.
“Maaf, Pak. Sena … jadi gini.” Sena menggeleng.
“Sena.” Mbak Mila terlihat menemui Sena dalam layar proyeksi.
Setelah mendengar kesaksian Sena, sama sekali tidak ada suara pembicaraan, semuanya terdiam, mungkin tertegun mendengar sebuah pengakuan dari seorang anak, korban kekerasan terhadap anak, yang telah berkata jujur sampai menangis saking ingatnya setiap kenangan buruk dan trauma.
Kulihat Ayah tengah menatap Wilhelmina sambil melongo, tidak bisa percaya akan sebuah kenyataan yang telah Sena katakan pada semua orang di persidangan, apalagi mendengar perkataan bahwa Wilhelmina mencoba membunuh Sena, Bang Fandy, dan aku. Kulihat … Ayah sudah percaya pada semua kenyataan.
“Baiklah …. Saya nyatakan persidangan memasuki reses selama sepuluh menit.” Sang hakim ketua mengetuk palu sambil mengumumkan.
***
Reses selama sepiuluh menit telah berlalu ketika aku mempersiapkan semacam pidato untuk sebuah kesaksian di pengadilan. Meski semua orang di dalam persidangan tertegun setelah mendengar kesaksian Sena, aku masih ragu apakah kesaksian yang akan kusampaikan akan menjadi sasaran empuk bagi sang pengacara.
Kini, aku tengah duduk menghadap para hakim selagi jaksa penuntut umum mengajukkan beberapa pertanyaan. Aku terdiam sejenak ketika kudengar sebuah pertanyaan itu.
Aku memutuskan untuk mengeluarkan semua kata-kata yang telah kupendam. “Saya … sebagai seorang kakak, kakak korban kekerasan terhadap anak, sudah sepatutnya melindungi adik dari segala ancaman dan bahaya. Memang benar … kalau … segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Memang benar … kalau saya membawa Sena kabur dari rumah, kabur jauh-jauh ke luar kota, semuanya benar, bahkan tanpa pengawasan orangtua sama sekali.
“Saya … mengajak Sena melarikan diri … karena saya ingin Sena aman, aman dari lingkungan yang kerap kali menjadi hal buruk bagi Sena, terutama kekerasan. Sebelum … saya menemukan Sena terbujur lemas sehabis perlakuan Ayah dan Ibu … saya sempat mendengar suara jeritan ibu-ibu sama anak perempuan menangis. Tadinya … saya kira … itu berasal dari tetangga sebelah, tapi … setelah Sena menceritakan semuanya di rumah sakit, pada malam saat kami memutuskan untuk melarikan diri, memang jeritan Sena yang menangis meminta tolong.
“Anda … pasti bertanya … kenapa … saya tidak menelepon polisi. Karena … Sena butuh perlindungan dengan cepat. Memang berat saya yang bertanggung jawab atas keselamatan Sena, apalagi dalam kehidupan nyata, tanpa pengawasan orangtua. Saya juga sebenarnya tidak ingin yang lain malah repot-repot kasihan sama Sena juga.
“Mungkin … harusnya memang saya panggil polisi atau … membela Sena pada Ayah. Saya memang ceroboh sudah melarikan diri dari rumah, jauh-jauh ke Jogja dan ke Surabaya. Saya membuat Ayah murka. Bahkan … Ayah rela menyusul ke Surabaya, mangkir dari pemeriksaan tersangka korupsi, hanya menjemput Sena dan saya.”
“Yoshi.” Ayah bangkit dari tempat duduknya.
Kutatap Ayah yang mulai berbinar-binar telah menerima sebuah kenyataan. “Yah. Maafin Yoshi. Maafin udah bawa Sena jauh-jauh ke luar kota.”
“Enggak, Yoshi, enggak. Ayah yang harusnya minta maaf sama kamu. Ayah … selama ini cepat mengambil kesimpulan sendiri. Ayah awalnya enggak mau terima kalau Sena bohong tentang Ibu. Ayah … rela ke Surabaya … rela ke rumah Fandy … cuma buat jemput kalian … karena Ayah sayang kalian. Ayah udah … menyakiti hati kalian. Ayah juga … minta maaf sama Sena.”
“Yah.” Aku mulai meneteskan airmata. “Ayah tetap ayah Yoshi sama Sena, enggak peduli apa perbuatan Ayah. Yoshi juga masih jadi anak Ayah. Sena juga.”
“Yang Mulia Hakim.” Ayah mulai menatap para hakim, terutama hakim ketua. “Kalau memang Yang Mulia harus memberi vonis seberat mungkin, saya akan senang hati menerimanya. Saya pantas mendapatkannya, setelah apa yang saya lakukan pada anak saya sendiri. Saya memang ceroboh.” Ayah juga menatap Fandy. “Fandy, maafkan Om sudah tidak percaya sama kamu juga. Terima kasih … sudah jaga Yoshi sama Sena selagi mereka kabur dari rumah.”
***
Sidang vonis. Ini dia, Setelah kurang lebih dua minggu, yaitu saat awal-awal semester baru, saat Bu De Soraya, Mbak Shilla, Mbak Mila, dan Bina sudah kembali ke Surabaya, aku rela bolos sekolah hanya demi mendengar vonis dari hakim pada Ayah dan Wilhelmina.
Ayah dan Wilhelmina tengah duduk menghadap hakim menunggu nasib mereka yang sedang di ujung tanduk. Kulihat mereka duduk berjauh-jauhan, pertanda pengakuan Sena telah mempengaruhi hubungan mereka.
Sang hakim ketua mengumumkan hasilnya, “Satu, menyatakan terdakwa satu, Wilhelmina; dan terdakwa dua, Gunawan, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak.
“Dua, menjatuhkan pidana kepada terdakwa satu, Wilhelmina, dengan pidana penjara selama sepuluh tahun, mengingat ada unsur penculikan dan percobaan pembunuhan yang telah dilakukan; dan kepada terdakwa dua, Gunawan, dengan pidana penjara selama dua setengah tahun.”
Begitu melegakan mendengar hakim menjatuhkan vonis untuk Wilhelmina, penjara selama sepuluh tahun, cukup lama. Aku lega ketika para hakim telah mempertimbangkan tindak penculikan dan percobaan pembunuhan dalam menentukan vonis.
Sedangkan Ayah … juga harus penjara karena turut terlibat, apalagi saat memukul Sena Jumat sore waktu itu, sebelum kami melarikan diri. Terlebih, sidang kasus korupsi yang dia ikuti juga mungkin akan lebih memberatkan lagi.
“Yosh. Sekarang gimana? Om Gunawan sama Tante Wilhelmina udah masuk penjara, berarti … di rumah … cuma ada kamu sama Sena,” bujuk Bang Fandy.
“Emang … Yoshi juga bakal tinggal sama Sena sendiri. Yoshi harus tanggung jawab semuanya di rumah. Yoshi … bakal mulai hidup lebih mandiri, sambil nunggu Ayah bebas dari penjara, selama dua setengah tahun. Yoshi juga enggak enak kalau harus tinggal di rumah Bu De di Surabaya. Yoshi lebih prefer tinggal di rumah bareng Sena. Terus … awal Februari nanti, Abang juga harus ke Jogja, kuliah lagi.”
“Yosh.” Bang Fandy merangkul bahuku. “Abang … rela liburan di sini, buat bantu kamu sampai akhir Januari. Nanti … kapan-kapan, Abang juga bakal sering ke sini. Abang rela bolos kuliah buat ngebantu kamu.”
“Abang enggak usah repot-repot bolos. Mending Yoshi tunggu kalau Abang ada waktu luang.”
“Enggak, Yosh. Abang rela, sumpah. Abang juga bakal manfaatin jatah bolos tiga kali cuma buat bantu kamu di rumah.”
Aku mengangguk. “Kita lihat aja nanti. Makasih, Bang, udah mau rela repot bantuin Yoshi, dari pas ke Jogja.”
Aku kembali memperhatikan hakim telah selesai membacakan vonis untuk Ayah dan Wilhelmina, semuanya sudah berakhir, untuk sekarang. Beberapa kalimat yang kudengar dari hakim juga tidak kumengerti karena panjang lebar demi formalitas.
Ketika aku melihat Wilhelmina yang menundukkan kepala pada meja hijau, aku teringat mengapa dia melakukan tindak kekerasan, bahkan sampai menculik dan ingin membunuh Sena. Dia terobsesi hanya ingin memiliki Ayah, tidak perlu peduli denganku dan Sena.
Tapi … kalau motifnya berupa kekikiran, kenapa aku tidak menjadi korban seperti Sena saat di rumah? Padahal aku bisa saja bernasib sama seperti Sena, seperti saat mengadu pada Ayah.
Mungkin aku juga tidak akan tahu kenapa Wilhelmina menjadi wanita keji seperti itu. Sungguh, aku tidak akan pernah tahu mengapa.

Comments

Popular Posts