Ordering Disorder Episode 8


Ordering Disorder is classified 15+, it contains some violence, some coarse language, some sexual references, and drug use. It is not suitable for people under 15.

Sebelumnya di Ordering Disorder:
Sam mengambil kertas tersebut dari Jason, ia melihat masing-masing anggota support group mulai menulis.
Jason menemui Sam “Sam, kau tak apa-apa?”
“Ya,”
“Coba kau tuliskan apa saja yang kau lakukan hari ini di sekolahmu, coba ekspresikan saja, tulis apapun yang kau alami.”
Dave melihat semua siswa-siswi yang menatap Sam dengan sinis, ia bertanya “Apa yang kalian lihat-lihat?! Bukannya kalian juga harus memikirkan diri sendiri?! Kalian tahu apa yang diderita Sam?! Seharusnya kalian malu bahwa kalian lebih baik daripadanya!”
“Sudah, Dave, tidak apa-apa.” Sam berkata sebelum bel masuk berbunyi.
Claire memasuki kamar mandi tersebut sambil memandangi pintu cermin yang terbuka, ia melihat beberapa botol obat di laci tersebut, ia mengambil salah satu botol tersebut, ia pun menyadari.
“Jangan pura-pura tidak tahu kalau kau tahu ini!” Claire menunjukkan botol obat resep dokter milik Sam.
Chris membela Dave “Itu obat resep dokter, Claire, dia membutuhkannya!”
Claire bertanya lagi “Dari mana ia mendapatkan obat ini? Apakah dia beli secara ilegal? Sudah kubilang padanya jangan minum obat kalau dia merasa lebih baik, tapi dia pasti kecanduan obat, dia sudah ketergantungan, seperti dulu, dia ketergantungan heroin dan alkohol! Kalian pasti tahu ini, ‘kan? Jangan…”
Dave memotong “Oke, oke! Claire, maafkan aku, tapi Sam pergi ke psikiater, dia sangat membutuhkan nasihat, dia tahu kalau dia tidak baik-baik saja!”
Marlena mengungkapkan “Nenek sebenarnya sudah menduga bahwa Sam terkena kondisi itu, gangguan bipolar, seperti yang diderita ibumu, Claire. Kalian jangan terlalu mengkhawatirkan Sam, Sam baik-baik saja meskipun meminum obat dari psikiater, setidaknya dia bukan orang gila, kok.”
Claire mengambil ponselnya lagi untuk menerima penelepon yang tidak dikenal “Halo, ini siapa? Apa? Ya, saya akan segera ke sana, terima kasih.”
“Ada apa?” tanya Dave.
“Jenna dalam masalah,”

***

“Jenna!” sahut teman laki-laki Jenna yang memiliki rambut gimbal hitam.
“Ya?” Jenna melihat temannya sedang merokok sesuatu meskipun sedang ada di keramaian pesta, kebanyakan teman-temannya meminum alkohol, mabuk-mabukan, menari-nari, merokok sesuatu yang sama seperti temannya, dan bahkan ada yang berciuman di kolam renang sambil mabuk “Pesta ini benar-benar gila.”
“Ya, tidak setelah kau merokok ini.” Temannya menunjukkan daun ganja.
“Apa ini?”
“Ini… membuatmu sangat hidup dan menikmati pesta ini, sebaiknya kau coba!” Teman tersebut memberi daun ganja dan korek api pada Jenna.
Jenna menyalakan api dan mulai merokok ganja, ia merasa sangat hidup “Ya, kau benar! Aku merasa seperti bergairah!! Ayo kita bersenang-senang!!” Ia kembali merokok ganja tersebut dan berlari bersama temannya.
***
Claire, Dave, Chris, dan Marlena tiba di kantor polisi yang penuh dengan remaja-remaja mabuk dan teler akibat alkohol dan ganja sehabis pesta.
Claire berkata “Kau pasti bercanda.”
Dave bertanya “Mereka kenapa? Mereka seperti orang mabuk.”
“Mereka benar-benar mabuk, Dave.”
“Atau lebih tepatnya teler.” tambah Chris.
“Teler?!” ulang Claire.
“Aku pernah berpesta setelah orientasi penerimaan mahasiswa baru, aku jadi tahu bagaimana orang teler sehabis merokok ganja atau menghisap opium.”
“Ganja?! Opium?!” teriak Claire “Oh tidak!” Ia melihat-lihat beberapa orangtua yang menegur anak-anak mereka akibat merokok ganja atau minum alkohol “Jangan bilang Jenna terlibat…” Ia pun melihat Jenna sedang duduk menunggu diawasi polisi bersama dengan remaja lainnya yang telah berpesta alkohol dan ganja. Ia segera berlari menemui Jenna.
“Claire! Tunggu!” teriak Chris mengejar Claire, namun mereka dihalangi petugas.
Claire berkata “Aku ingin menemui Jenna sekarang!”
Petugas itu mengangguk dan berjalan menemui Jenna untuk berkata bahwa walinya sudah tiba menjemput, sementara Claire mencoba untuk menghubungi Sam kembali, namun masih belum ada jawaban.
Jenna menemui Claire sambil berkata “Halo, Claire, katanya kita akan pulang, ‘kan?”
Claire memotong “Tidak, kita takkan pulang dulu, kau dalam masalah besar, gadis nakal! Kita harus menunggu Sam ke sini!”
Dave berkata “Tunggu, mengapa kita tidak langsung ke rumah saja? Apa kau mempermasalahkan tentang obat yang diminum Sam?”
“Habisnya dia tidak bilang padaku, Dave, kau juga menyembunyikan hal ini dariku!”
Chris memotong “Sudah! Sudah! Hentikan semua ini! Apakah kita mau ada masalah lagi atau tidak?!”
***
“Tadi itu menyenangkan sekali!” teriak Shay sehabis keluar dari tempat karaoke tersebut bersama Jason dan anggota-anggota support group lainnya.
“Teman-teman, sampai jumpa di sesi berikutnya!” seru Jason pamit.
“Ya, Jason!” seru semuanya.
Nicola menemui Sam “Hai, Sam, bolehkah aku pulang bersamamu?”
Sam menjawab “Tentu, kita satu arah, ‘kan?”
“Hampir sebenarnya.” Nicola mulai berjalan pulang bersama Sam.
Sam bertanya “Apa kau serius dengan muka santaimu itu? Kenapa kau begitu bersemangat sekali ingin bernyanyi lagu itu bersamaku? Kau mendadak sangat senang, kurasa aku tidak bisa mendadak senang, aku masih dalam pemulihan, jadi aku tidak bisa mendadak sepertimu. Semua itu butuh proses, Nicola.”
“Ya, kau benar.”
“Tolong jangan bilang kau kecanduan heroin seperti aku waktu dulu, dan jangan bilang kau kecanduan kokain, opium, ganja, atau semacamnya.”
“Aku tidak pernah menggunakan narkoba, Sam.”
“Ya, aku tahu, aku juga pernah mengalami kecanduan heroin dan alkohol, jadi aku pikir tidak mungkin kau mendadak senang tanpa itu.”
Nicola membantah “Tidak mungkin aku minum alkohol, aku tidak akan pernah minum alkohol ataupun makan narkoba, aku pernah berpikir mungkin narkoba adalah pelarianku, tapi ibuku selalu menangkap basah diriku, itulah kecemasan aku semakin memburuk.”
“Ya, kalau bisa kau jangan seperti diriku, aku pernah menyalahgunakan heroin dan alkohol setelah ayahku kabur dan ibuku bunuh diri. Aku berpikir itu adalah pelarianku, tapi itu bukan. Bukannya membaik, tapi kecemasanku memburuk, depresiku semakin kambuh, dan kadang-kadang aku senang seperti orang gila.”
“Setidaknya kamu bukan orang gila, ‘kan?”
“Kakakku berkata aku tidak butuh psikiater sebenarnya, tapi aku akhirnya mengunjungi psikiater atas inisiatif sendiri.”
“Aku masuk rumah sakit jiwa,”
“Aku tahu itu, jangan coba-coba kau membuatku depresi lagi, karena aku terasa ingin bunuh diri ataupun mati lagi, aku pernah mencoba bunuh diri dengan vodka dan heroin. Aku tahu kalau depresi bisa saja menimbulkan kematian, dan buktinya aku tidak mati.”
“Ya,”
“Aku hanya terus berpikir tentang kematian sejak itu, Nicola. Setidaknya aku ingin merasa hidup, aku hanya ingin pikiran itu hilang, tidak berbekas sama sekali, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, aku hampir bunuh diri menggunakan heroin dan alkohol.”
“Ya, kau sama denganku, tapi jujur saja, Sam.” Nicola berkata “Aku senang kau ikut support group ini, sebenarnya, saat aku melihat wajahmu, aku merasa bergairah tidak tahu mengapa.”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,”
Nicola mengungkapkan “Jujur, Sam, saat kau pertama kali datang ke support group ini, aku langsung teralihkan ke arah wajahmu, aku tidak tahu mengapa, tapi aku tertarik untuk berkenalan denganmu.”
Sam menjawab “Ya, aku juga, kau sebenarnya cantik seperti The Wicked Witch di The Wizard of Oz.”
Nicola tertawa “Ya, aku sering diejek begitu.”
Sam berkata “Setidaknya kita memiliki kondisi psikologis masing-masing, ‘kan? Tapi aku tahu aku harus tetap hidup meskipun dalam kondisi ini, kita semakin dewasa, banyak tantangan, tapi aku juga merasa terlalu dimanjakan.”
Nicola berkata “Kurasa kita terlalu dimanjakan orangtua, orangtuaku terlalu protektif. Makanya aku manja jadi remaja, padahal aku ingin mandiri, tapi orangtuaku tetap berkata tidak.”
“Mungkin mereka tidak ingin kita bernasib sama dengan kita.”
“Kurasa begitu.”
Nicola berkata lagi “Karena orangtuaku, aku jadi terbatas dalam komunikasi dengan teman-temanku, hanya lewat telepon dan SMS, secara langsung jarang, makanya aku jadi begini, aku kesepian. Aku juga malu mengungkapkan rasa sukaku kepada orang yang kusuka.”
“Aku belum dapat pacar, aku tahu aku pasti dapat pacar, tapi aku selalu tunggu ditaksir dengan seseorang, makanya aku tidak pernah punya pacar.”
“Itulah kesulitanmu untuk menjadi dewasa.”
“Ya, aku juga selalu dimanja kedua orangtuaku, makanya heroin dan alkohol selalu menjadi pelarianku saat aku teringat mereka, aku selalu ingin melupakan orangtuaku. Kakakku juga belum dapat pekerjaan tetap, keluargaku kesulitan dalam keuangan meskipun pergi ke Bali saat liburan.”
“Hebat,”
“Biasa saja.”
Nicola mengungkapkan “Sebenarnya aku… senang kalau kau datang ke support group, aku senang sekali melihatmu.”
“Jadi kau…”
“Ya, aku menyukaimu.”
Sam tersenyum dan diam-diam tertawa “Kau menyukaiku? Ya, aku tidak menyangka, wow, aku juga sebenarnya suka padamu, aku tidak percaya ini.”
Nicola berkata “Ya, aku juga tidak menyangka.”
Sam dan Nicola berbelok kanan melewati halte bis, Sam mengambil ponselnya untuk menolak telepon dari Claire, ia berkata lagi “Sebenarnya aku gugup untuk mengatakan perasaanku pada seseorang, terutama pada seorang gadis sepertimu.”
“Ya, aku juga gugup.”
“Aku juga sangat gugup melakukan hal ini pada seorang gadis.” Sam mencium bibir Nicola, Nicola menerima ciuman tersebut dengan lembut.
Nicola berkata “Kau tahu, aku menunggu bagian itu darimu. Aku naik bis, kalau kau?”
“Aku jalan kaki dari sini, rumahku cukup dekat.” kata Sam sambil melihat layar ponselnya, ia menerima SMS dari Claire.
“Aku duluan ya.”
“Ya,” Sam menatap Nicola menaiki bus malam. Sam membuka SMS tersebut:
Jenna ditangkap polisi, ke kantor polisi dekat rumah sekarang! Kita harus bicara!
“Oh sial,” ucap Sam sebelum berlari menuju kantor polisi dekat rumah.
***
“Sam, ayolah cepat datang…” ucap Dave “Kita tidak mau ada masalah seperti ini lagi.”
“Percuma saja kau mengatakan hal itu, Dave.” kata Chris.
Kebetulan sekali, ponsel Dave dan ponsel Chris berbunyi secara bersamaan, mereka kebetulan berkata “Pasti ayah lagi!” Mereka menatap satu sama lain sambil mengambil ponsel dari saku mereka, mereka lagi-lagi menolak telepon tersebut.
“Aku tidak mau mendengar omelan ayahku, ayahku benar-benar pemarah.” ucap Dave “Apalagi saat dia melihat apa yang kulakukan dengan daftar 100 hal itu.”
“Dan ayahku melarangku untuk mendekati kalian semua meskipun kalian semua berasal dari keturunan yang sama.”
“Tapi aku bukan, ‘kan?”
“Dave, kau bukan hanya sekadar sahabat Sam, kau bukan hanya sekadar teman biasa, kau juga adikku, aku sudah menganggapmu seperti itu, apalagi saat kau memintaku untuk membaca novelmu.”
“Ya, lagipula menulis novel best seller adalah salah satu 100 hal yang ingin kulakukan sebelum mati.”
Sementara Claire menegur Jenna dengan emosinya yang dalam “Jenna, kau tahu ‘kan kau tidak boleh terlibat dengan narkoba! Sudah kubilang saat makan malam di Bali tentang narkoba dan alkohol!”
“Kau tidak pernah bilang tentang narkoba ‘kan di Bali.”
“Kau ini benar-benar bermasalah, Jenna! Kau tidak mendengarkan aku saat di Bali ya? Coba kau belajar saat kau ditangkap setelah mencuri di Bali!”
“Kau mau tampar aku?” tanya Jenna “Ayo, tampar aku!”
“Kau ini!” teriak Claire mencoba untuk menampar Jenna.
“Sudah, Claire, sudah!” teriak Marlena menghentikan Claire.
Sam berjalan memasuki kantor polisi melihat-lihat beberapa remaja teler dan mabuk dimarahi orangtua masing-masing “Ada apa ini?” Ia melihat Dave dan Chris “Dave? Chris?”
Dave dan Chris menatap Sam, mereka memanggil “Sam!” Claire, Jenna, dan Marlena juga menatap Sam.
“Sam, syukurlah!” seru Claire.
Jenna bertanya “Bolehkah kita pulang sekarang?”
***
“Jenna, kau dihukum di kamar selama seminggu, sepulang sekolah, kau harus langsung pergi ke kamarmu!” teriak Claire saat tiba di rumah “Tidak ada kecuali, pokoknya kau tidak boleh keluar rumah selama seminggu sama sekali! TITIK!”
Marlena bertanya pada Claire saat Jenna pergi ke kamarnya “Tidakkah ini terlalu berlebihan, Claire?”
Claire menatap Sam saat ia melangkah masuk ke kamarnya bersama Dave dan Chris “Sam, ingat, kita harus bicara.”
“Ya, aku tahu itu.”
“Duduklah.” Claire duduk di depan meja makan bersama Sam, ia bertanya “Mengapa kau tidak memberitahuku, Sam?”
“Memberitahu apa?”
“Bahwa kau ingin ke psikiater, kau ke psikiater saat kecemasanmu semakin memburuk.”
“Gangguan bipolar,” Sam mengkoreksi.
“Ya, gangguan bipolar, astaga. Sam, kau ingat kalau kebanyakan dari pikiran yang masuk ke otakmu delapan puluh persennya adalah negatif.”
“Ya, aku benar-benar tidak menyangka itu.”
“Kau tidak menerimanya, ya, Sam? Kau mungkin tidak mengerti, tapi itu kenyataannya, Sam, itu kenyataannya.”
Sam pasrah “Aku terkena bipolar.”
“Kau tidak bisa pasrah begitu saja, Sam, jika kau mau sembuh, meskipun tanpa obat-obatan, itu dimulai dari dirimu dulu, Sam. Kau harus mengubah dirimu, berubahlah, dewasalah.”
“Aku orang dewasa, Claire! Kau tahu aku pernah kecanduan heroin dan alkohol semenjak ayah melarikan diri dan ibu bunuh diri, kau bahkan belum punya pekerjaan, ‘kan?”
“Sam, tenanglah, dengarkan dulu sampai selesai.”
“Ya, teruskan.”
“Sam, aku takut kalau kau akan bernasib sama dengan ibu, aku juga takut kalau kita semua akan bernasib sama, tapi aku bersyukur kalau kau selamat, kau tidak kecanduan heroin lagi, kau tidak kecanduan alkohol lagi, kau baik-baik saja sebenarnya.” Claire berkata lagi “Kau harus berhenti minum obat, oke? Jangan minum obat terus.”
“Tapi Claire…”
“Tidak ada tapi, jangan minum obat kalau kau sudah baik-baik saja, kau ini baik-baik saja, Sam. Kau sudah membaik kataku.”
“Tapi…”
“Kau harus berhenti minum obat, harus!”
“Ya, Claire.” Sam berdiri sebelum berjalan menuju kamarnya. Saat ia tiba di kamarnya, Dave sedang mengetik meneruskan novelnya di laptop Sony Vaio, sementara Chris bermain Assassin Creed IV di Xbox milik Sam.
Chris bertanya “Bagaimana?”
“Aku harus berhenti minum obat.”
Dave kaget “Kenapa? Kau tidak bilang itu resep dokter?”
“Claire tidak memberikan kesempatan padaku untuk bilang mengapa aku harus minum obat sesuai anjuran dokter.”
Chris berkata “Kalau kau merasa sudah lebih baik, lebih baik kau berhenti minum obat, tapi kalau kau merasa masih belum stabil, lebih baik berhenti saja.”
Sam berlalu ke kamar mandi, ia membuka lemari cermin, ia mengambil botol obatnya, ia menatap botol tersebut sambil merenung, ia bergumam “Apakah aku harus berhenti atau tidak, aku bingung. Claire berkata kalau aku harus berhenti minum obat, tapi dokter menyuruhku untuk tetap minum obat meskipun kondisiku makin membaik.” Ia meletakkan botol obat tersebut kembali.
***
Di sekolah, Dave menatap poster pengumuman pesta dansa di majalah dinding, ia berkata “Kau pasti bercanda, besok malam?”
Lalu Cameron menemui Dave “Pesta dansa?”
“Ya, aku belum punya pasangan untuk pesta dansa. Setidaknya kau gay, ‘kan?”
“Apa aku tertarik padamu?”
“Aku bukan gay, Cameron.” Dave berkata sambil berjalan menuju lokernya.
“Aku tahu, tapi kau harus bantu aku mencari orang gay di sekolah ini juga.”
“Aku tidak kenal orang gay di sekitar sini, Cameron. Tapi aku akan membantumu. Sebagai gantinya, kau harus cari seorang gadis untuk berdansa denganku.” Dave membuka lokernya “Kau tahu, aku selalu ingin pergi ke pesta dansa, itu salah satu dari 100 hal yang ingin kulakukan.”
“Kau benar-benar ambisius sekali, Dave.”
“Benar.”
“Lagipula pasangan pesta dansa untuk masing-masing siswa di sekolah ini harus dari sekolah ini juga ‘kan katanya.”
“Ya,”
Sementara itu, Sam mencoba untuk mengirim SMS kepada Nicola untuk bertanya apakah ia bisa ke pesta dansa bersamanya, namun ia mendengar rumor bahwa setiap siswa harus membawa pasangan pesta dansa dari sekolah tersebut, ia kaget. Sam berkata “Aku tidak bisa mengajak Nicola?”


Comments

Popular Posts