Finding Childhood Love Episode 1

Prolog

Pernahkah kamu terobsesi seseorang saat kecil? Apakah kamu sudah mengenal cinta saat itu? Kapankah kamu mulai jatuh cinta? Apakah dari TK? Apakah sinetron percintaan yang seharusnya tidak kamu tonton mempengaruhimu.
Apa reaksimu jika teman masa kecil menyatakan cinta padamu? Kamu seakan-akan sudah mengenal dunia dewasa. Jika kamu sudah mengenal bagaimana rasanya mencintai seseorang, rasanya sungguh sepi dan sunyi ketika hatimu hampa.
Aku pernah merasakan cinta saat aku berusia lima tahun, namanya cinta monyet. Waktu itu aku sedang berada di taman bermain. Aku menangis karena aku terpisah dari Ibu saat aku sibuk mengikuti penjual mainan. Ketika aku sadar, aku takut. Aku tak biasa sendirian. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiriku
Anak laki-laki yang kutemui berkata, “Jangan menangis dong. Kamu kenapa?”
 “Mama! Mama! Aku pengen ketemu Mama!”
“Jangan nangis dong, ayo kita cari sama-sama. Pasti Mama kamu ketemu, tenang aja.” Dia mengambil sebatang cokelat dan memberikannya kepadaku. “Ini, ambil aja, kamu pasti lapar.”
Aku hanya menatapnya sebelum mengambil cokelat itu dengan halus. “Ter ... Terima kasih ....”
“Ayo kita cari ibumu bersama-sama.”
“Tapi,” Aku menghela sambil masih menangis. “Kamu kan sendiri juga, apa kamu tidak takut sendirian.”
“Aku sudah biasa tanpa Mamaku.” Dia memegang tangan kiriku. “Ayo, kita cari Mamamu bersama-sama.”
Aku merasakan hangatnya pegangan tangan laki-laki itu. Hangat, terasa hangat. Kami berdua mulai berjalan mencari ibuku di tengah-tengah hujan deras.
Aku melihat beberapa toko kelontong yang masih buka tetapi sepi pengunjung. Kami berkeliling tengah-tengah kota seiring hujan mulai mereda, sudah mulai ramai dipenuhi oleh beberapa orang yang berjalan kesana kemari.
Aku mendengar suara ibuku yang memanggilku dari belakang, aku berteriak, “Itu suara Mama! Mama!” Aku menatap ke belakang sebelum berlari menemui ibuku untuk menangis di pelukannya.  “Mama!”
“Sayang, di situ kau rupanya. Maafkan Mama.” Ibuku meminta maaf menerima pelukanku di bawah payung. “Kau yang menemaninya?”
Laki-laki itu tersenyum. “Ya,”
“Terima kasih banyak, kamu benar-benar berani, Nak.” Ibuku tak lama memegang tangan kiriku sambil berkata setelah berterima kasih pada laki-laki itu. “Ayo kita pulang.”
“Iya,” Aku berjalan memegang tangan ibuku sambil memandangi laki-laki yang baru saja kutemui melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Dia adalah laki-laki terbaik yang kutemui, dia benar-benar berani menemaniku mencari ibuku, aku hanya ingin melihat wajahnya lagi. Aku merasa, aku merasa, aku akan meninggalkan laki-laki itu. Apakah ini rasanya jatuh cinta?

Kepulangan dari Homeschooling

Seorang wanita berjilbab kuning duduk di kursi belakang mobil di sampingku berkata sambil tersenyum, “Kita akan tinggal di Jakarta, tempat kelahiranmu. Setelah sekian lama kita berkeliling dunia.”
Aku mengangguk tersenyum. “Ya, Indah cukup tegang karena aku tidak bertemu teman-teman sebaya, Ma.” Aku membuka pintu belakang sebelah kiri untuk melihat rumah baruku.
Rumah itu berdinding warna putih cerah, beratap merah kecoklatan, dan terasnya beralaskan lantai batu bata abu-abu seperti yang kulihat di beberapa jalan di Belanda, jalan seperti itu pernah kulihat di Braga, Bandung.
“Mulai sekarang kita sudah memiliki rumah tetap.” Ayahku yang memiliki rambut begitu tipis baru saja turun dari mobil sambil berjalan ke arah truk yang diparkirkan di belakang mobil Toyota Yaris putih kami.
Aku hanya menjawab, “Ya, Yah. Mudah-mudahan kita cepat beradaptasi dengan warga sekitar sini.”
Ibuku berpesan, “Kamu butuh teman sebaya, Indah. Kamu pasti kesepian setelah sekian lama homeschooling. Besok hari pertamamu masuk sekolah biasa, kamu akan menemukab suasana berbeda daripada homeschooling.”
“Ma!” Ayah memanggil. “Ayo.” Dia menunggu ibuku di depan truk yang mengangkut barang-barang kami. “Kita angkut barang-barang kita masuk ke dalam rumah,”
“Ya, Pa!” Ibuku menjawab. “Indah, bantuin dong.”
Meskipun aku tahu rumah baruku sudah difurnish, masih saja kami membawa beberapa furnitur yang akan diletakkan di dalam rumah, bukan hanya beberapa koper yang berisi pakaian. Sisanya kami menyewa pesawat kargo untuk membawa semua furnitur ini, di antaranya adalah satu lemari pakaian, kompor gas, piano, TV, pemutar DVD, dan beberapa barang lainnya yang sebenarnya sudah ada di dalam rumah baru kami.
Dua orang supir truk bertopi kuning, berbaju biru dan bercelana hitam rela membantu kami membawa barang-barang masuk ke dalam rumah baru. Kami mulai membawa beberapa kardus memasuki rumah baru kami.
Kami melewati lantai abu-abu di tengah-tengah rerumputan hijau yang menghiasi rumah baru kami sambil membawa kardus. Saat kami tiba di depan pintu kayu coklat kehitaman, ayahku meletakkan kardus bawaannya di atas lantai keramik hitam depan pintu sebelum membuka kunci pintu. Ayahku memutar gagang pintu sebelum kembali membawa kardus tersebut.
Kami berjalan melewati beberapa ruangan, meletakkan barang-barang di sebuah ruangan yang kami anggap sebagai gudang penyimpanan barang dekat ruang makan dan dapur. Ruangan itu tanpa lampu, hanya ada dinding putih polos.
Tak lama setelah itu, aku berkata pada ibu, “Ma, Indah ke kamar duluan,”
“Ya, Indah,” jawab ibu.
Aku berjalan melewati ruang makan dan dapur, aku melihat dua buah pintu. Pintu sebelah kiri adalah pintu kamar orangtuaku, sementara pintu sebelah kanan adalah pintu kamarku.
Aku melihat kamarku sudah di-furnish sedemikian rupa, meskipun tidak sesuai ekspektasiku. Aku melihat tempat tidurku terpasang sprei warna pink dengan motif Hello Kitty di sebelah jendela. Aku juga melihat ada sebuah cermin di depan lemari pakaian sebelah kanan ruangan.
Aku menatapi diri di depan cermin, kulihat wajahku yang biasa-biasa saja menurutku. Kutatapi rambut hitam panjang lurus dengan rambut sebelah kanan kepalaku berada di depan hingga menutupi kanan leherku. Aku tengah memakai blouse lengan panjang berwarna biru dan rok panjang warna coklat. Selera fashion-ku bisa dibilang cukup memprihatinkan, aku tidak begitu ahli berdandan dan berpakaian.
“Indah,” panggil ibu saat diriku melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore.
“Ya, Bu, Indah ke depan.” Aku bisa mendengar langkah kakinya menuju teras. Aku segera melangkah meninggalkan kamarku menuju teras. Aku mendekati ayah dan ibu yang sedang berdiri di samping truk memilah-milah beberapa barang yang akan kami masukkan ke dalam rumah.
“Baru pindah ya?” Suara seorang laki-laki dari arah belakang sontak mengagetkanku.
Ayahku berbalik sambil mengangkat kardus berisi barang. “Ya, kami baru saja sampai.”
Saat berbalik, kulihat seorang laki-laki rambut hitam pendek yang memakai jaket hitam, kaus oblong biru tua, celana panjang coklat, dan sarung tangan hitam. Laki-laki itu menyapa, “Saya boleh membantu?”
Ayahku menjawab, “Tidak usah, Nak. Tidak usah repot-repot,”
“Tidak apa-apa.” Laki-laki itu tersenyum sambil mengambil sebuah kardus dari truk pindahan.
“Ya sudah, kamu boleh membantu,” Ayahku berkata. “Indah, jangan diam saja, cepat bantu!”
Eh? Iya, Yah.” Aku segera mengambil salah satu kardus dari truk pindahan, aku berjalan membawa kardus itu mengikuti laki-laki itu.
Saat kami berdua berjalan melewati teras, laki-laki itu bertanya, “Kamu ini pindahan dari mana?”
Aku menjawab, “Aku .... Aku .... Bagaimana cara bilangnya ya? Ceritanya panjang.”
“Tidak apa-apa.” Laki-laki itu tersenyum. “Langsung intinya aja.”
Aku mulai bercerita saat kami melewati ruang tamu dan ruang keluarga, “Dari pas aku kecil, aku sering banget keliling dunia, aku sering pindah-pindah. Orangtuaku kerjanya pindah-pindah melulu, makanya mungkin aja hampir setiap negara kami kunjungin.”
“Wow.” Laki-laki itu berdecak kagum. Dia melanjutkan kata-katanya, “Bukannya kita taruh ini di gudang?”
“Enggak, kok,” Aku membalas sambil memasuki kamarku. “Kardus yang kubawa isinya barang-barangku.” Aku menaruh kardus yang kubawa di depan tempat tidur, kubuka kardus itu sambil melanjutkan bercerita, “Sebelum balik ke Indonesia, orangtuaku kerja di Arab. Urusan bisnis.” Aku mengambil beberapa barang berhargaku, termasuk celengan bermotif Pucca dan oleh-oleh dari masing-masing negara yang pernah kukunjungi dan menaruhnya di meja belajarku yang berada di samping pintu kamar.
Laki-laki itu menyentuh salah satu oleh-oleh yang masih ada di dalam kardus itu. “Wow, jadi ini suvenir yang kamu peroleh tiap kali kamu ngunjungin negara lain?”
“Hei!” Aku menyadari kalau Adhitya sudah masuk ke kamar dan berani menyentuh salah satu oleh-oleh yang kudapat. Betapa bodohnya diriku.
Laki-laki itu duduk di kasur. “Jadi kalau kamu keliling dunia terus, kamu sekolah gimana?”
“Aku homeschooling,” kujawab sambil berjalan kesana kemari mengambil dan menaruh oleh-oleh tiap negara yang pernah kukunjungi, “Tapi gurunya beda-beda terus sih. Aku enggak pernah masuk sekolah kayak siswa normal.”
Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum memperkenalkan diri. Kenapa aku langsung saja bercakap-cakap kepada laki-laki cool ini? Aku merasa bersalah karena telah mengizinkan orang asing baik ini bercakap-cakap denganku tanpa mengetahui namanya. Apalagi, dia telah masuk ke kamarku, betapa memalukan.
Laki-laki itu menyodorkan tangan. “Kenalin. Aku Aditya,”
“Um …. Indah," jawabku membalas jabat tangannya.
“Indah?” Kamu sudah selesai?”
“Belum, Bu, aku lagi naruh barang-barang di kamar.” Aku hampir selesai menaruh oleh-oleh di meja belajarku. Selanjutnya adalah buku-bukuku, kebanyakan buku pelajaran berbahasa asing; Inggris, Prancis, Jerman, Arab, Italia, Jepang, Korea, dan lainnya. Ada juga novel, komik, dan biografi.
Aditya membuka kardus yang semula telah dibawanya, isinya adalah buku-bukuku juga, dia membantuku menaruh buku-buku tersebut di rak buku dekat meja. “Banyak banget bukumu, pantasan kamu rajin belajar pas homeschooling.”
“Waktu belajar sama guruku enggak banyak, makanya aku harus giat banget belajarnya.”
“Jadi, kamu bakalan homeschooling lagi?” Aditya kembali bertanya.
Aku menggeleng, “Ibuku minta kalau aku masuk sekolah kayak remaja normal, soalnya kata ibu aku butuh suasana baru. Aku butuh teman yang bisa kuajak berkomunikasi bareng.”
“Kalau gitu bagus, kamu butuh banget teman sebaya setelah sekian lama kamu homeschooling.”
Aku tersenyum. “Ya, aku ....” Aku sudah lama tidak berkomunikasi dengan teman sebaya, aku hanya mengandalkan komunikasi dengan orang-orang yang lebih tua, jadi aku tidak mengerti kosakata yang dipakai anak Indonesia zaman sekarang meskipun aku tahu beberapa. Aku hanya mengenal bahasa gaul orang-orang barat.
Aku menjawab setelah memikirkannya, “Nanti kujawab pas udahan naruh-naruh barangnya,”
Setelah kami menaruh buku-buku yang kubawa di rak buku kamarku, kami berdua segera berjalan meninggalkan kamarku untuk mengambil beberapa kardus yang masih ada di truk pindahan. Sisa-sisa kardus berisi barang-barang itu kami taruh di gudang.
***
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, ayah dan ibu sedang memilah-milah beberapa barang yang akan tetap di taruh di gudang atau akan ditaruh hanya sekadar sebagai dekorasi rumah. Beberapa barang-barang yang memang penting diambil ayah dan ibu ke kamar.
Sementara itu, aku sedang duduk di depan meja belajar, sedangkan Aditya tengah duduk di kasur. Saat itu, suara petir terdengar ditelinga kami, memang sedang hujan besar semenjak kami selesai mengambil semua kardus dari truk pindahan.
“Jadi hujan besar gini,” kata Aditya.
“Ternyata di Indonesia hujannya bisa segede ini, ya?”
“Ya, memang cuaca di Indonesia lagi enggak nentu, siang-siang cerah, sorenya malah hujan gede. Enggak konsisten banget, kan?”
“Cuaca kan bisa aja ada prosesnya dulu,” Aku tertawa.
“Indah, ada orang di depan!” panggil ibuku.
Aku berdiri. “Ada orang di depan.” Aku segera meninggalkan kamar menuju ruang tamu. Aku melihat dari jendela seorang pengantar makanan pesan antar. Aku membukakan pintu.
“Selamat sore,” sapa pengantar makanan tersebut yang memakai jaket biru kuning dengan logo Hoka Hoka Bento, merek restoran yang pernah kudengar sebelumnya, tetapi, darimana ibuku tahu restoran ini.
“Ya.” Aku mengangguk sambil mengambil sekantung makanan Hoka Hoka Bento, aku berjalan menuju ruang makan setelah berkata, “Sebentar, Mas.” Aku menaruh sekantung makanan itu di atas meja makan.
Ibuku segera memberikan uang untuk pembayaran makanan pesan antar itu. “Kasih saja kembaliannya.”
Aku berjalan kembali menuju pintu depan menemui pengantar makanan tadi, aku memberikan uang tersebut sambil tersenyum. “Ini, ambil saja kembaliannya.”
Pengantar makanan tersebut membalas senyumku, “Terima kasih banyak, Mbak.”
Aku tersenyum kembali. “Terima kasih kembali.
Kupandangi pengantar makanan tersebut berjalan meninggalkan halaman rumahku sebelum akhirnya pergi mengendarai motornya untuk kembali ke tempat kerjanya, Hoka Hoka Bento yang terdekat. Aku pun menutup pintu setelah melihat pengantar makanan itu pergi.
Aku berbalik melangkah menuju ruang makan, di mana ibuku telah mengeluarkan empat kotak makanan Hoka Hoka Bento. Aku heran mengapa ibu memesan empat kotak menu paket Hoka Hoka Bento, apakah itu untuk makanan buat besok? Aku pun mendengar ibuku memanggil Aditya ke ruang makan.
Ibuku memberi satu kotak makanan kepada Aditya setelah aku mengambil salah satu kotak makanan itu, ibuku berkata, “Ini, buat kamu yang udah mau bantu.”
Aditya menolak sambil tersenyum, “Enggak usah, Tante. Jadi ngerepotin aja.”
“Udah, enggak apa-apa, kamu kan udah ngebantuin Om dan Tante ngeberesin segalanya, apalagi kamu kan cocok jadi teman Indah. Udah enggak apa-apa, kok.” Ibuku tersenyum.
Bisa kulihat Aditya dengan malu menerima kotak makanan itu, dia bilang, “Ma-makasih, Tante,”
“Kita makan malam bareng yuk!” Ibuku mengajakku dan Aditya untuk makan malam bareng, dia juga memanggil ayah, “Pa, makan malam sudah siap nih!”
Suara ayahku terdengar dari kamar mandi, aku bisa mendengar sebuah suara pancuran (shower) mulai terdengar, berarti ayahku sedang mandi, meskipun cuaca di luar sedang hujan deras. “Papa mandi dulu, makan duluan aja.”
Aku berkata lagi dengan senyum, “Ya udah, kita makan bertiga aja. Kita makan bareng, Dit.” Aku duduk di sebelah Aditya sambil menaruh kotak makan yang kupegang di atas meja tepat di depanku, begitu juga dengan ibu dan Aditya.
Kami membuka kotak makanan masing-masing, kotak makanan tersebut berisi nasi putih, Chicken Katsu, Beef Yakiniku, serta salad wortel dan kol. Ada juga saus sambal dan mayones yang masih di dalam bungkus plastik berkemasan.
Aku membuka kedua bungkus saus sambal dan mayones tersebut, kutuangkan mayones di atas salad, sedangkan saus sambal kutuangkan dalam satu ruang kosong pada kotak makan di depanku. Kulihat Aditya mencampurkan mayones dan saus sambal di atas salad sebelum mengaduknya dengan sumpit. Kuambil sumpit kayu dan kubelah dua, aku mulai memakan nasi dengan sumpit. Kuambil satu Chicken Katsu dengan sumpit dan kugigit sebelum kukembalikan ke dalam kotak makanku. Kupandangi juga ibuku dan Aditya makan dengan lahap.
Ibuku bertanya, “Kelas berapa, Dit?”
Aditya menjawab, “Kelas 11.”
“Berarti setingkat sama Indah dong,” ibuku bertanya lagi, “Kamu sekolah di mana?”
“Di Global Taruna.
Aku terkejut saat kudengar kata Global Taruna terlontar dari mulut Adit, ibuku juga senang bukan kepalang.
Ibuku berkata dengan bangga, “Wah! Satu sekolah sama Indah dong nanti!”
Aditya membalas tanya, “Emang Tante udah daftarin Indah ya?”
“Udah, lagian Indah juga butuh teman sebaya, kan? Habis homeschooling melulu.” Ibuku tertawa.
Aditya masih merasa malu dapat menerima “traktiran” ibuku. “Enggak apa-apa nih Adit makan makanannya?”
“Enggak apa-apa, ko, Dit.” Ibuku tersenyum.
Kami bertiga saling berbicara sambil menikmati makan malam, kami pun saling bercanda sambil membicarakan masa depan yang akan kami gapai, namun itu semua hanya rencana, itu tergantung dari masa kini.
Tak terasa sudah tiga puluh menit kami bertiga habiskan di ruang makan, hujan sudah mulai reda. Ibuku bangkit sebelum berjalan menuju kamarnya. Tak kusangka juga kalau ayahku mandi cukup lama.
“Hujannya udah cukup reda.” Aditya berdiri. “Gue balik duluan ya.”
“Eh? Mau pulang lagi?” ucap ibuku.
“Iya, jadi ngerepotin juga sih.”
“Udah, enggak apa-apa. Makasih udah mau ngebantu Tante sama Indah ya, baru pindahan. Biasa.”
“Sama-sama, Tante.” Aditya melangkah mendekati pintu. “Indah, nanti kita ketemuan di sekolah ya.”
Aku melangkah mengikuti Aditya. “Eh? Iya. Makasih ya, udah ngebantuin.”
Aditya membuka pintu. “Rumahku cukup dekat dari sini.”
“Ya iyalah!” balas ibuku. “Kan tetangga harus saling bantu.”
“Udah ya. Aditya duluan, Tante, Indah.”
“Ya, hati-hati,” ucap ibuku.

Kulihat Aditya berbelok kiri menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumahku. Entah kenapa aku merasa … apa ini mungkin awal dari petualanganku yang baru? Ya, memang. Tetapi, petualanganku baru saja dimulai saat aku memasuki sekolah baru besok.

Comments

Popular Posts