While We Ran Away Episode 12


Kenangan yang Menyedihkan


“Sena udah mendingan, kan?” Bang Fandy menyentuh kening Sena, memastikan suhu tubuhnya sudah benar-benar turun.
“Udah sih, Bang. Uhuk!” jawab Sena sambil batuk.
“Masih batuk ya. Kayaknya minum obat batuk aja, enggak usah minum obat panas. Sama … minum banyak air hangat ya.”
Bang Fandy telah bersiap untuk berangkat ke kampus. Dia sudah memakai jaket dan kaos oblong putih. Hari ini adalah ujian terakhir buat Bang Fandy dalam semester ganjil tahun ajaran.
Bang Fandy menemuiku yang sedang duduk di hadapan laptopnya. Aku terfokus pada layar laptop yang menunjukkan laman daftar kartun.
“Yosh, nanti Abang langsung ke sini habis ujian. Oh ya, kalau ada apa-apa, SMS Abang aja ya.” Bang Fandy mulai menggendong tasnya.
“Iya, Bang,” jawabku.
“Oke, Abang cabut ya!” pamit Bang Fandy.
“Hati-hati, Bang!” seruku.
Ketika kulihat Bang Fandy meninggalkan kamar, aku baru ingat. Hari ini adalah Senin. Kalau saja aku dan Sena masih bersama Ayah dan ibu tiri, kami biasanya sudah di sekolah seperti biasa pagi begini, waktu yang sama ketika Bang Fandy mengerjakan ujian di kampus hari ini.
Untunglah, pekan ini sama sekali tidak ada pelajaran, hanya pekan olahraga dan seni yang diadakan di sekolah. Tapi … kalau teman-temanku tahu aku menghilang, bagaimana jadinya? Apakah mereka akan bertanya-tanya apa yang terjadi padaku? Apakah aku akan mendapat ganjaran dari sekolah juga karena telah menghilang demi melindungi Sena?
“Kak, Sena mau nanya,” Sena membuyarkan lamunanku.
“Oh.” Aku menatap Sena yang masih duduk di atas kasur. “Kenapa, Sena?”
“Apa … Ayah emang pacaran sama ibu tiri? Terus … kita enggak tahu?”
 Aku melongo, memang seharusnya anak-anak seperti Sena tidak mengetahui segala hal tentang cinta, apalagi pacaran. Mendadak, aku teringat ketika melihat sebuah kabar bahwa anak SD sudah mulai berani pacaran di depan umum, bahkan sampai pamer lewat media sosial. Sebenarnya, Sena belum siap untuk mendengar segala hal seputar pacaran.
Oh tidak, aku ingat, mungkin kemarin Sena mendengar aku dan Bang Fandy berbicara tentang Shinta serta pacarnya. Mungkin … itu mendasari Sena untuk menanyakan pertanyaan seperti ini.
Bisa jadi sih. Ya … mereka ketemu, terus jatuh cinta, terus pacaran, terus nikah. Kalau mereka udah merasa cocok sejak lama, ya … mereka siap ke langkah berikutnya, menikah, terus mengurus anak.”
“Kak, apa … pacarnya Shinta … sama aja kayak Ayah, sama juga kayak ibu tiri? Apa … Shinta juga … sama kayak Sena? Disakitin gitu aja, kan?”
Aku menggeleng. “Kita … sebaiknya enggak ngomongin gini deh. Mending … nonton kartun aja. Kartun emang lebih fun daripada ngomong ginian. Ya, Kakak juga sering nemanin Sena pas weekend, nonton kartun bareng. Kakak … udah download lumayan ramai nih kartunnya.”
“Kak, kita … kapan ke rumah Bang Fandy-nya?”
“Enggak tahu sih. Tapi kata Bang Fandy, Sena masih harus istirahat ya. Kita nunggu kamu baikan, oke? Terus kita ke rumah Bang Fandy di Surabaya. Sena harus baikan total ya. Nah, kita nonton kartun aja.”
Aku berbalik menatap layar laptop, membuka file salah satu kartun yang ku-download tadi, serial kartun yang ku-download adalah Gravity Falls, salah satu kartun kesukaan Bang Fandy waktu SMA. Bang Fandy memintaku untuk men-download serial kartun itu karena yakin Sena pasti suka.
Ketika kutonton beberapa episode pertama, ceritanya cukup rumit buat kebanyakan kartun untuk anak-anak, tapi … ketika kutatap Sena, dia begitu menikmati kartun sambil berkomentar tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
SpongeBob dan Gravity Falls yang kami tonton akhir-akhirnya membuktikan bahwa anggapan kartun hanya untuk anak-anak itu salah besar. Kebanyakan remaja zaman sekarang, apalagi orang dewasa, menganggap demikian, mereka tidak ingin menonton kartun atau selebihnya anime sama sekali karena takut dianggap kekanak-kanakan. Kartun memang dibuat untuk ditonton sekeluarga.
Sudah beberapa episode yang telah kami tonton, kami masih menunggu Bang Fandy untuk pulang ke kosan. Mungkin … dia ada urusan mendadak setelah ujian selesai, hal yang bisa kulakukan hanyalah menunggu dan menonton kartun sambil menemani Sena.
“Lo mau apa? Mau apa ke sini lo?” jeritan Shinta terdengar dari kamar sebelah.
“Lo minta putus? Lewat SMS!” terdengar suara seorang cowok, tak salah lagi, itu suara Alex, pacarnya Shinta!
“Emang. Mending lo pergi aja deh! Gue udah enggak tahan sama sifat lo—" Shinta membalas jeritan sambil mengusir Alex.
“Enggak! Gue enggak mau pergi! Gue cinta lo, Shinta! Gue cinta sama lo!” jerit Alex.
Ah … ternyata benar, Shinta memang putusin pacarnya, Alex, lewat SMS. Padahal Stella sudah bilang padanya, dia seharusnya ngomong baik-baik dulu pada pacarnya agar bisa putus.
“Lepasin! Lepasin!” Shinta meronta-ronta. “Tolong! Lepasin!”
“Gue cinta sama lo, Shinta! Lo enggak ngerti juga ya! Gue gini ke lo karena sayang lo!” bentak Alex.
“Enggak! Lepasin!”
“Gue udah sayang banget sama kamu, terus gini yang kamu kasih ke gue?”
Shinta terdengar mulai menangis. “Lepasin! Gue capek sama sifat lo yang gini!”
“Gue gini ke lo … gue sayang banget.”
“Enggak, lo gini buat gue nangis, lo selalu gitu. Udah, keluar aja. Gue capek hadapin lo.”
“Shinta! Lo enggak ngerti juga gue sayang sama lo! Gue cinta sama lo! Gue enggak playboy. Sini lo!”
“Lepasin! Lepasin!!” jerit Shinta. “AAAH!” Kudengar suara tubrukan menuju lantai.
Oh tidak. Ini benar-benar berbahaya. Dengan cepat, aku mengetik SMS pada Bang Fandy. Bang, si cowonya Shinta dtg! Gmn nih?
“Ini salah lo sendiri, Shinta! Gue enggak mau diginin sama lo!” jeritan Alex semakin keras. “Minta putus lewat SMS, enak aja gitu ke gue!”
“Kak, itu kenapa di sebelah?” tanya Sena.
“Gue udah enggak tahan lagi sama lo! Gue enggak sudi banget sama lo lagi!” Shinta merengek histeris, jeritannya tidak keras dibandingkan Alex.
“Woi!” Suara seorang cowok terdengar menengahi mereka. “Lo ngapain ke sini!”
“Sena, kamu di sini aja ya. Kakak mau ke sana dulu. Lanjutin nonton aja ya,” ucapku sambil bangkit dari karpet.
Aku membuka pintu ketika jeritan dari kamar sebelah semakin menjadi-jadi, bahkan menjadi adu mulut yang panas, susah untuk dipadamkan. Adu mulut kini seperti api emosi yang sulit padam dengan bujukan.
“Lo siapanya Shinta, hah?” jerit Alex.
“Gue teman kosannya Shinta!” Cowok yang menengahi perdebatan itu adalah Richard, yang kulihat ketika menatap ke dalam kamar Shinta.
Richard menghalang-halangi Alex agar dia tidak mendekati Shinta lagi dengan merangkulnya. Alex masih saja bersikukuh sambil menjerit-jerit agar dia dapat mendekati pacarnya lagi.
Richard mulai menasihati, “Gue tahu Shinta cewek lo, tapi bukan gini cara buat ngelakuin cewek!”
“Emangnya lo siapa, hah! Lo enggak tahu betapa sayang banget sama Shinta!” jerit Alex tidak mau mengalah.
“Lo yang siapa? Siapa yang ngajarin kayak gitu ke lo!” jerit Richard. “Lo kan cowok! Ini cewek lo lho! Harusnya lo enggak kayak gini ke cewek lo! Lo sayang sama dia, kan? Harusnya enggak menyakiti dia!”
“Lo siapa, anjing? Lo berhak gitu ke gue!” Alex mendorong Richard dengan keras.
“Biasa aja kali! Gue tahu lo bilang sayang sama cewek lo, tapi enggak gini caranya! Lo lihat kan! Lihat! Gara-gara lo, dia luka kayak gini! Lo tahu lo buat dia luka kayak gini kemarin! Lo mending pergi aja deh, terus jangan—”
Alex menghantamkan kepalan tangan tepat pada wajah Richard, meledakkan seluruh emosi yang dia pendam. Richard pun akhirnya ikut meledakkan hawa panas dari emosinya dengan membalaskan pukulan pada Richard. Shinta yang terlepas dari Richard memundurkan langkah sambil histeris.
“Udah! Stop!” Tangisan Shinta semakin menjadi-jadi.
Oh tidak, semuanya meledak, seperti bom meledak! Yang kulihat dari pintu kamar Shinta, Alex dan Richard saling memukul setelah capek dengan adu mulut panas! Mereka memutar posisi, dengan Alex menhadap pintu, sedangkan Richard membelakangi pintu. Sial, aku harus menghentikan mereka. Tapi … apakah … aku memang yang harus … menghentikan perkelahian mereka.
“Diam, anjing!” jerit Alex mendorong bahu Richard hingga terjatuh ke lantai ketika terkena tempat tidur di sisi kanan kamar.
“Stop! Udah!” jerit Shinta histeris bersandar di tembok dekat lemari pakaiannya.
Tanpa berpikir panjang, aku menerobos masuk ke kamar itu, mencoba semampuku untuk menghentikan perkelahian. Aku tidak ingin Shinta sama menderitanya dengan Sena kalau begini. Dia sama toxic-nya dengan Ayah dan ibu tiri. Kalau kulihat mereka menyiksa Sena seperti ini, aku pasti akan menghentikan mereka seperti yang akan kulakukan.
“Enggak!” jerit Shinta ketika Alex berbalik menemuinya.
“Gue cinta lo, Shinta!” jerit Alex ketika aku mendekatinya dari belakang.
“Woi!” jeritku impulsif, menarik perhatiannya. “Udah dong, enggak usah kayak gini caranya.”
“Lo ngapain ikut campur!” jerit Alex padaku.
“Lo juga udah menganggu penghuni kosan, tahu enggak! Gue udah tahu keadaan lo sama cewek lo.”
“Emangnya lo siapa, hah?” Alex mendekatiku sambil mengancam.
“Alex … kan? Gue sebagai cowok pengen bilang baik-baik. Gue cuma pengen ngasih tahu lo baik-baik. Lo udah sayang sama Shinta, kan? Lo punya kasih sayang sama Shinta sebagai pacar lo? Tapi … nyatanya beda sama omongan lo sendiri. Gue emang lebih muda daripada lo, tapi gue cuma pengen kasih tahu lo,” aku berpesan. “Cara lo … ngelampiasin kasih sayang ke cewek lo … salah besar.”
“Lo sok nasihatin aja! Kayak bapak-bapak aja! Emang lo siapa!” bentak Alex.
“Gue tahu gimana rasanya jadi korban kelakuan kayak lo, adik gue pernah jadi korban ginian. Bukannya sayang, malah takut, sakit, sakit banget tiap kali ngelihat pelaku kayak lo. Tiap kali lo ngelakuin kasar sama cewek lo, apalagi sampai dia terluka kayak gini, dia jadi takut sama lo. Pantas aja, dia mau putus sama lo kemarin. Gue udah dengar dari Shinta kemarin, kalau lo emang … pantas dapat ditinggalin! Kalau … Shinta emang pengen udahan sama lo, lo kenapa sih harus maksa dia buat balik ke lo!”
“Diam!” Alex melepaskan segala emosi melalui pukulannya. Pukulannya mengenai perutku.
“AH!” jeritku terjatuh ke lantai tidak dapat menahan rasa sakit sehabis menerima pukulan tepat pada perut.
“AA-AAAAH!!” jerit Shinta kembali histeris. “AAAH!!”
Sialan! Pukulannya keras sekali! Perutku terasa seperti melilit setelah dipukul Alex! Aku menyilangkan kedua tangan menyentuh perut dan menahan rasa sakit. Aku berguling ingin mengalihkan rasa sakit itu.
“Sini lo!” jerit Alex menarik paksa Shinta.
“Enggak! Enggak!” balas Shinta meledakkan air mata.
“Woi!” jerit Richard bangkit menghadapi Alex dan menampar lengannya.
“Apa lo! Enggak puas lo habis dipukul!” jerit Alex berbalik menghadapi Richard.
“Lo mending pergi aja deh! Jangan ganggu Shinta lagi! Lo udah enggak pantas sama Shinta!”
Alex kembali memukul Richard tepat di kepala sekali lagi. Lagi-lagi … Alex dan Richard saling baku hantam, mereka melontarkan kata-kata kasar sambil saling memukul dan menjatuhkan. Aku ingin menghentikan mereka, tapi … perutku masih terasa sakit.
Cengeng banget sih jadi cowok!
Ah! Kenapa? Kenapa tiba-tiba saja … sebuah kilas balik yang tidak ingin kuingat … kembali muncul di otakku? Enggak! Aku tidak mau ingat kembali!
Suara ketukan pintu terdengar begitu keras, seperti sebuah ledakan yang mengagetkan kami semua di kamar Shinta, menghentikan seluruh kericuhan yang telah terjadi. Alex tercengang ketika beberapa penghuni dan pemilik kosan telah tiba di hadapan pintu.
“Itu tuh!” seru salah satu penghuni kosan.
“Kalian semua, ikut saya. Cepat!” perintah pemilik kosan yang merupakan seorang bapak-bapak berambut putih dan berkacamata.
“Awas lo!” jerit Alex sambil menunjuk-nunjuk Richard sambil keluar.
“Shinta!” beberapa penghuni cewek mendatangi Shinta. “Oh my God!”
“Yoshi!” panggil Richard menemuiku. “Enggak apa-apa, kan? Bisa berdiri, kan?”
“I-iya.” Akhirnya aku berhasil bangkit tanpa dibantu. “Enggak apa-apa kok.”
“Gue capek banget! Gue capek sama … Alex yang posesif ke gue.” Shinta kembali hiseris hingga dia membutuhkan pundak untuk ditangisi.
“Shinta, udah, udah,” salah satu penghuni cewek memeluknya dan membiarkan pundaknya menjadi tempat tangisan Shinta.
***
Setelah memberi segala penjelasan pada pemilik kosan, akhirnya Alex masih membantah segala kebenaran yang aku, Richard, dan Shinta lontarkan. Bukan hanya itu, Alex akhirnya diusir dari kosan, juga … dia tidak boleh datang ke dalam kehidupan Shinta lagi. Memang, Shinta dan Alex sudah putus untuk selamanya.
Bang Fandy datang ke ruang tengah, di mana aku dan Richard hanya duduk terdiam merenungi apa yang telah terjadi di kamar Shinta. Dia bertanya, “Ini tadi kenapa ya? Tadi … Yoshi SMS.”
Aku berdiri menemui Bang Fandy. “Sorry, Bang. Baru kebaca SMS-nya.”
Richard menjawab pertanyaan Bang Fandy, “Tadi si Alex psycho datang tuh. Untung aja udah diusir sama pemilik kosnya. Goblok banget sih itu cowok, nyiksa Shinta terus sih. Ya, emang Shinta udah minta putus sama dia lewat SMS.”
“Aduh!” Bang Fandy menepuk tangan pada dahinya. “Ya iyalah malah jadi masalah gini, pantas aja dia enggak mau nerima kalau Shinta udah mau putus. Oh ya, Yosh. Sena mana?”
“Masih di kamar kayaknya, Bang. Ya … udah bilang ke Sena biar enggak keluar kamar dulu,” aku menjawab.
“Oh ya, si Shinta mana?” tanya Bang Fandy lagi.
Richard bangkit. “Masih di kamarnya, sama anak-anak cewek. Udah ah, pusing mikir ginian. Udah tugas buat ujian besok belum dikerjain lagi.”
“Yosh, balik ke kamar ya.”
Aku bangkit saat Richard memasuki kamarnya di dekat ruang tengah, mengikuti langkah Bang Fandy, menaiki tangga. Tetapi … di tengah-tengah tangga, mendadak … aku kembali terbayang sebuah kilas balik yang seharusnya sudah kuhapus bersih dari pikiranku.
Begitu menyakitkan ketika mengingat kembali kilas balik itu. Segala rasa sakit, dari kemarahan menuju fisik dan mental, sampai-sampai hatiku terluka saat itu. Mungkin … pukulan dari Alex memicu kilas balik itu kembali ke dalam pikiranku. Entah kenapa, mataku kembali berair semakin kuputar kembali sebuah kenangan pahit itu.
***
Waktu itu … saat pelajaran olahraga ketika aku masih SMP. Kami bermain bebentengan, salah satu permainan tradisional, katanya permainan ini dari Jawa Barat. Peraturannya cukup sederhana, tujuan utamanya adalah untuk menyerang dan mengambil alih benteng dengan menyentuh tiang lawan. Pemain yang bertahan di daerahnya dapat menawan penyerang dari tim lain hanya dengan menyentuh tubuh mereka.
Waktu itu, aku memang disuruh menjaga gawang yang menjadi benteng di lapangan sepak bola. Aku ingin maju, tapi … aku tetap dipaksa untuk menjaga benteng oleh rekan timku sendiri. Ketika lawan menyentuh gawang yang berarti mereka mendapat angka, mereka malah menyalahkanku dan hanya berkata agar aku jaga benteng dengan benar, padahal, aku sudah berusaha sebaik mungkin.
Ketika tim lawan sudah mendapat tiga angka berturut-turut, lagi-lagi aku disalahkan, aku menjadi kambing hitam oleh rekan satu timku. Aku jadi sasaran empuk untuk disalahkan menggunakan kata-kata panas.
“Gimana sih kamu!” jerit salah satu rekan timku. “Lo enggak bisa jaga yang benar ya!”
“Ah! Yoshi mah!”
Aku membela diri, “Ya, udah dong! Aku udah usaha!”
“Alasan aja lo!” salah satu rekan satu timku mendorong hingga jatuh. Rasa sakit pun muncul tiba-tiba ketika aku mendarat di rumput dengan keras.
“Hei! Hei!” jerit salah satu pemain tim lawan.
“Jaga aja kamu enggak becus lo!” jerit salah satu rekan satu tim seraya menampar tanganku dengan keras, diikuti oleh dua teman dekatnya yang kebetulan menjadi rekan satu tim.
Rasa sakit itu, fisik dan mental, membuatku memanas, air mataku keluar, aku jadi ingin menjerit, merengek sekeras mungkin.
“Nangis lo! Nangis!” salah satu rekan satu tim menjewer telingaku.
“Woi, udah, woi!” Kudengar ada teman yang ingin menghentikan perkelahian itu.
“Hei, hei, hei!” guru olahraga menghampiri kami dengan wali kelas. “Jangan gitu dong. Sportif dong!”
“Udah!” wali kelas berjilbab merah itu menghampiriku, melepaskan jeweran dari sang pelaku.
“Ah! Cengeng banget sih jadi cowok!”
“Udah! Mulai lagi! Main lagi! Ayo!” guru olahraga berkaos merah dan bercelana training putih itu membubarkan dan menyuruh seluruh teman sekelasku melanjutkan permainan.
“Yoshi, kamu kenapa?” salah satu teman cewek mengikuti aku dan wali kelas yang memisahkan diri untuk duduk di pagar.
Wali kelasku menyuruh, “Udah, kamu lanjut main aja ya. Ayo.”
“I-iya.”
“Yoshi.” Sang wali kelas membujuk untuk berbicara sambil menepuk bahuku.
Aku terengah-engah dalam berbicara, aku masih menangis, mengeluarkan air mata dan tidak dapat menahan segala campuran emosi yang telah kualami selama bermain bebentengan, “A-a-aku … udah … jaga … se-se-sebaik mungkin. Ta-tapi … me-mereka … te-tetap nya-nyalahin aku! A-aku salah a-apa? Di-dibilangin … ja-jaganya en-enggak ben-benar.” Aku meledakkan tangisanku.
“Yoshi.” Sang wali kelas mengusap punggungku untuk memadamkan seluruh emosi yang telah kuledakkan.
Inilah kenapa … aku sebenarnya tidak ingin ikut main permainan olahraga tim, seperti bebentengan, apalagi basket, apalagi futsal. Daripada aku terus menjadi penyebab kekalahan tim sendiri, lebih baik aku tidak ikutan. Sejak saat itu, setiap akhir pelajaran olahraga, aku tidak ikut bermain basket, futsal, atau semacamnya, apapun yang melibatkan kerja tim.
***
“Yoshi? Kamu kenapa?” Bang Fandy membuyarkan kilas balik yang baru saja kuputar.
“Eh?” Aku tersadar dari kilas balik itu. “Ya … kepikiran juga yang tadi, Si Shinta. Yoshi … jadi ingat ceritanya Sena pas dia disiksa. Ya … gimana ya? Kayak bisa ngerasain juga gimana Sena pas disiksa sama ibu tiri.”
“Yoshi. Mending … kita ke kamar aja deh. Istirahat aja. Oh ya, mau makan siang dulu?”
“Nanti deh.” Aku menyusul Bang Fandy menuju kamarnya.
“Oh ya … kamu … enggak apa-apa, kan?” Bang Fandy bertanya ketika aku sudah menghadap pintu.
“Enggak apa-apa.”
***
Hari Senin yang bermasalah di itu akhirnya berakhir menuju ketenangan pada malam hari. Hari yang melelahan fisik dan mental, masalah Shinta terhadap pacarnya telah berakhir. Tetapi … hal ini akan menjadi salah satu kenangan yang tidak ingin Shinta ingat sama sekali, sama seperti ketika Sena mengingat kembali ketika dia disiksa Ayah dan ibu tirinya.
Meski kenangan buruk merupakan masa lalu, kalau mendadak teringat, rasa seperti … racun masuk ke dalam otak, begitu menyakitkan, pikiran akan terasa terpukul palu, bagian tubuh akan juga ikut sakit saking tidak ingin mengingat kenangan itu lagi. Masa lalu memang sudah berlalu, tapi … rasa sakitnya … tetap akan ada di dalam pikiran. Itulah yang dinamakan sebuah trauma dari kejadian pahit.
Lampu kamar Bang Fandy menyala memancarkan sinar putih, memancarkan jelas setiap warna di sekitar dengan jelas. Bang Fandy mematikan laptopnya ketika dia bersiap untuk berbaring di atas karpet di sampingku. Memang, jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Aku menyentuh kening Sena untuk memastikan apakah panasnya sudah benar-benar turun, atau lebih singkatnya suhu tubuhnya kembali normal. Tanganku yang menyentuh kulit kening Sena sama sekali tidak panas, berarti panasnya sudah turun. Mungkin Sena sudah sembuh.
Bang Fandy bangkit membujukku, “Udah agak lumayan turunnya sih. Ya … Sena tetap harus istirahat buat jaga-jaga besok. Nanti … kita ke Surabaya-nya Rabu aja.”
“Bang.” Aku menatap Bang Fandy. “Bolos sekolah sampai ke luar kota itu … kayak campur aduk. Yoshi juga … kepikiran gimana … kalau teman-teman pada nanyain, apalagi … kalau udah beberapa hari enggak masuk juga, jadi kepikiran gimana nasib Yoshi entar. Ya … kan sekarang … dua minggu terakhir itu … pekan olahraga dan kesenian di sekolah, jadi … udah enggak ada pelajaran.”
“Udah deh. Entar, kalau misalnya mau ambil rapor entar, nanti Abang pikirin dulu. Kalau mau kembali cuma buat ambil rapor, sok aja. Tapi … Abang pikir matang-matang dulu. Apalagi kan … kamu enggak mau ketemu Ayah sama ibu baru kamu di sekolah.”
“Bang. Kalau gitu … nanti Yoshi juga mikirin.”
Bang Fandy menepuk pundakku. “Yosh, sorry ya, udah melibatin kamu ke masalahnya Shinta tadi. Jadi enggak enak—”
“E-enggak, enggak apa-apa, Bang. Justru … Yoshi enggak pengen Shinta berakhir kayak Sena, apalagi lebih buruk,” aku memotong sambil mengangkat tangan kanan.
“Enggak, Yoshi. Abang enggak enak kalau kamu juga jadi ikut-ikutan terlibat gini. Mungkin … kayak enggak tepat juga pas ada masalah ginian—”
Aku sekali lagi memotong perkataan Bang Fandy. Entah kenapa, aku ingin mengikat erat Bang Fandy pada pelukanku, cukup canggung, apalagi kalau sama-sama cowok. Aku ingin memeluk Bang Fandy agar bisa lebih tenang dalam memikirkan masalah. Tujuanku melarikan diri hanyalah untuk menyadarkan Ayah kalau istri keduanya … memang bermasalah dengan Sena. Kalau tidak bisa dengan kata-kata, terpaksa aku melakukan hal ini, memberi hukuman pada ayahku sendiri.
Bang Fandy tercengang ketika kuikat bahunya dengan tanganku pada pelukan. Kedua matanya menatap pada wajahku, tidak tahu apa lagi harus dia katakan.
“Ma-makasih, Bang—" ucapku mematahkan keadaan hening dan canggung, “—udah mau ngebantu Yoshi.”
“Ya.” Bang Fandy menepuk pundakku sekali lagi. “Woi, udah dong pelukannya, jadi awkward gini.”
So-sorry.” Aku melepas pelukan Bang Fandy yang kembali berbaring di atas karpet.
“Udah gih. Ayo tidur. Pasti capek lah habis tadi.”
“I-iya, Bang.” Aku berbaring di samping Bang Fandy, bersiap untuk tidur.
***
Akhirnya, setelah beristirahat selama Selasa, kami akhirnya menyiapkan segalanya untuk ke rumah Bang Fandy di Surabaya. Bang Fandy telah memasukkan beberapa pakaian, peralatan mandi, dan handuk ke dalam tas. Beberapa buku dan lembaran kertas yang telah menumpuk di dalam tasnya juga dia keluarkan.
“Ayo,” ucap Bang Fandy ketika dia mulai menggendong tasnya.
“Iya,” aku mengangguk ketika sudah menggendong tasku. Sena juga sudah memakai jaket sebelum berangkat.
Kami akhirnya keluar dari kamar kosan Bang Fandy. Ketika aku dan Sena melewati tangga, Bang Fandy mengunci pintu kamar kosannya sebelum menyusul.
“Eh? Pada mau balik nih?” tanya Richard yang sedang menonton siaran berita di ruang tengah sambil memegang puntung rokok.
“I-iya nih,” ucapku sambil menghampiri Richard. “Belum balik?”
“Gue baliknya besok, masih ada ujian entar siang.” Richard kembali memasukkan bagian belakang puntung rokoknya ke dalam mulut.
“Udah pada balik nih?” tanya Bang Fandy ikut menghampiri Richard.
“Ada yang belum.” Richard mengeluarkan asap putih dari mulut ketika berbicara.
“Komisi Pemberantasan Korupsi telah memeriksa setidaknya enam orang tersangka terkait kasus korupsi sebagian besar dana megaproyek nasional.” Kudengar suara news anchor membacakan berita di TV.
“Yoshi! Yoshi! Itu Om Gunawan, bukan? Yoshi!” Bang Fandy tercengang ketika menatap seseorang yang familiar pada layar televisi.
Aku menatap pada layar televisi. Aku tercengang, aku seperti ada yang menyilaukan hatiku. Kutatap seorang bapak-bapak yang tengah beberapa wartawan dari media televisi dan radio hampiri. Bapak-bapak itu berkacamata, wajahnya juga familiar. Ketika kutatap nama dari narasumber itu, aku … tertegun ketika namanya adalah nama ayahku, Gunawan.
Ayahku terlihat berbicara pada wartawan media sambil dikawal polisi, “Saya … yakin … saya telah dijebak … karena … saya tidak mungkin melakukan hal sekotor itu. Saya … menjadi penjabat … ya untuk melayani rakyat dong! Mereka cuma asal tuduh! Mana buktinya! Mana bukti kalau saya melakukan korupsi! Kalau gini, berarti saya dijebak dong sama mereka! Saya dijebak! Saya dijebak oleh KPK! KPK cuma asal tuduh terus jebak saya! Saya dijebak oleh KPK!”
“Pak! Pak!” Terdengar suara beberapa reporter berbondong-bondong bertanya.
A-Ayah … jadi … tersangka … korupsi?

Comments

Popular Posts